h1

PEDET SAPI PERAH

July 29, 2008

DITULIS OLEH : JUNAIDI KARO KARO

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perkembangan zaman mengantarkan manusia pada kemajuan pola pikir dan perubahan paradigma untuk meningkatkan kualitas hidup, baik secara fisik maupun psikis. Dalam kondisi masyarakat modern saat ini kebutuhan terhadap makanan yang sehat dan bergizi tinggi memegang peranan yang cukup penting. Masyarakat semakin menyadari arti penting dari produk pertanian, perikanan dan peternakan yang secara umum menyumbangkan bahan pangan bagi kelangsungan hidup manusia. Modernisasi ternyata tidak menggeser inti kehidupan manusia, yaitu pemenuhan terhadap kebutuhan jasmani dan rohani. Seperti pepatah mengatakan “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat”, ini berarti tubuh yang sehat menjadi parameter terhadap jiwa yang sehat.

Salah satu bahan pangan yang saat ini semakin disadari arti pentingnya bagi kesehatan manusia adalah susu. Perlu diingat bahwa susu yang dikonsumsi oleh masyarakat sebagian besar merupakan sumbangan dari ambing sapi perah. Menurut Hadiwiyoto (1983), air susu termasuk bahan pangan hewani, berupa cairan putih yang dihasilkan oleh hewan ternak mamalia dan diperoleh dengan cara pemerahan. Susu merupakan bahan makanan yang tersusun oleh zat-zat makanan yang seimbang (Adnan, 1984). Susu disebut sebagai bahan makanan yang hampir sempurna karena kandungan zat gizinya yang lengkap (Astawan, 2005). Dalam rangka memenuhi kebutuhan susu tersebut dilakukan peningkatan populasi, produksi dan produktifitas sapi perah. Karena itu, bibit sapi perah memegang peranan penting dalam upaya pengembangan pembibitan sapi perah.

Pengembangan pembibitan sapi perah memiliki potensi yang cukup besar dalam rangka mengurangi ketergantungan impor produk susu maupun impor bibit sapi perah. Pembibitan sapi perah sangat tergantung pada keberhasilan program pembesaran pedet sebagai replacement stock. Manajemen pemeliharaan pedet yang optimal sejak lahir sangat diperlukan untuk memperoleh sapi yang mempunyai produksi dan produktifitas yang tinggi yang siap menggantikan sapi yang sudah tidak berproduksi lagi, baik sebagai induk maupun pemacek. Pemeliharaan pedet mulai dari penanganan kelahiran, pemberian identitas, pola pemberian pakan, pemantauan terhadap pertumbuhan dan pertambahan bobot badan, pencegahan dan penanganan terhadap penyakit, serta kebersihan dan fasilitas kandang hingga pedet berumur 8 bulan, sangat mempengaruhi keberhasilan tercapainya pedet sebagai calon bibit unggul pada usaha ternak perah. Menurut Siregar (1996), pedet yang harus dipelihara terus setiap tahunnya untuk peremajaan adalah 30% dari jumlah populasi induk.

Rumusan Masalah

Uraian di atas memberi gambaran betapa pentingnya pengembangan pembibitan sapi perah. Kelangsungan suatu usaha peternakan sapi perah tidak terlepas dari ketersediaan bibit unggul yang diperoleh dari manajemen pemeliharaan pedet yang optimal. Karena itu, permasalahan yang perlu dikaji dalam praktik kerja lapangan adalah manajemen pemeliharaan pedet sapi perah di Departemen Heifer Raising PT. Greenfields Indonesia Unit Gunung Kawi Desa Babadan Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Tujuan

Setiap kegiatan pasti memiliki makna dan tujuan. Secara umum, tujuan praktik kerja lapangan ini adalah untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan dan pemeliharaan sapi perah komersial dan memberikan tempat berlatih, menambah keterampilan, wawasan dan pengalaman mengenai bidang peternakan, khususnya ternak perah serta mempelajari persoalan-persoalan yang ada dan bagaimana mengatasinya, mengenalkan budaya kerja industri/usaha, untuk memperoleh informasi dan pengetahuan baru yang tidak didapatkan melalui perkuliahan serta mendekatkan diri dengan lapangan pekerjaan. Secara khusus, tujuan praktik kerja lapangan untuk mengamati manajemen pemeliharaan pedet sapi perah di PT. Greenfields Indonesia.

Manfaat

Hasil praktik kerja lapangan membuka pemikiran dan memperluas wawasan penulis saat mengamati dan menemukan permasalahan yang ada dalam peternakan sapi perah khususnya pada manajemen pemeliharaan pedet. Penulis dapat membandingkan teori yang diperoleh selama perkuliahan dengan pelaksaannya di lapangan. Penulis memiliki kesempatan memberikan alternatif jalan keluar terhadap permasalahan tersebut berdasarkan pengetahuan yang telah diperoleh selama perkuliahan dan pustaka yang ada. Selain itu, hasil praktik kerja lapangan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan membuka wawasan peternak dan masyarakat dalam peningkatan manajemen pemeliharaan pedet sapi perah serta sebagai bahan pertimbangan dan evaluasi bagi perusahaan tempat penulis melaksanakan PKL.

SARANA PRODUKSI

Luas Lahan dan Penggunaannya

PT. Greenfields Indonesia memiliki lahan seluas

METODE PELAKSANAAN KAJIAN

Tempat dan Waktu

Praktek kerja lapangan ini dilaksanakan selama sebelas minggu, mulai tanggal 18 Februari 2008 sampai dengan tanggal 10 Mei 2008. Lokasi yang dipilih sebagai tempat pelaksanaan PKL adalah perusahaan peternakan sapi perah PT. Greenfields Indonesia Unit Gunung Kawi Desa Babadan Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Metode Pengumpulan dan Analisis Data

Metode yang digunakan dalam pelaksanaan PKL ini adalah metode partisipasi dan observasi untuk mengumpulkan data dan menganalisis data yang telah diperoleh. Peserta PKL terjun secara langsung ke lapangan dan mengikuti seluruh kegiatan dalam perusahaan sesuai jadwal dan batasan yang telah ditetapkan serta melakukan pengamatan secara langsung maupun tidak langsung.

Pengumpulan data dilaksanakan selama kegiatan PKL berlangsung, baik sesuai jadwal maupun di luar jadwal yang tidak mengganggu jadwal yang telah ditetapkan. Pengumpulan data dilakukan dengan mencatat seluruh informasi yang diperoleh melalui tulisan atau pencatatan yang terdapat pada papan pengumuman di setiap departemen, diskusi dengan para pembimbing lapang, penanggung jawab departemen dan karyawan serta pengumpulan data sekunder.

Analisis data dilakukan dengan cara mengamati seluruh pelaksanaan kegiatan yang berlangsung dalam perusahaan dan mempelajari data-data yang telah diperoleh, menemukan permasalahannya dan mencari kesesuaiannya berdasarkan teori yang telah diperoleh dari perkuliahan dan pustaka yang relevan dengan bidang peternakan.

KEADAAN UMUM

Sejarah Perusahaan Peternakan Sapi Perah PT. Greenfields Indonesia

PT. Greenfields Indonesia Unit Gunung Kawi berdiri pada tanggal 14 Maret 1997 untuk membantu menyediakan susu berkualitas tinggi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Pada awal berdirinya perusahaan ini bernama PT. Prima Japfa Jaya. PT. Prima Japfa Jaya merupakan kerjasama antara koperasi Bina Sentosa yang menanam saham sebesar 52% dengan PT. Santosa Agrindo yang menanam saham sebesar 48%. Perusahaan ini mendirikan peternakan di dusun Maduarjo desa Babadan, Gunung Kawi, Malang, Jawa Timur. Lokasi ini dipilih karena sangat sesuai untuk pemeliharaan sapi-sapi FH; udaranya segar, bersih dan sejuk.

Awalnya, PT. Prima Japfa mendatangkan 90 ekor sapi perah bangsa Friesian Holstein (FH) dari Australia yang langsung dibawa ke lokasi perusahaan. Pengiriman menghadapi banyak kendala karena lokasi perusahaan cukup terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk. Jalan yang dilalui berupa jalan-jalan yang berbatu sehingga sangat menyulitkan untuk transportasi dan kendaraan roda empat. Kendala lain yang dihadapi adalah fasilitas air, listrik dan jaringan telepon yang sangat sulit. PT. Prima Japfa pada awalnya merupakan satu grup dengan Java. Kemudian melepaskan diri dari Java dan bergabung dengan Austasia. Pada tahun 2000 PT. Prima Japfa berubah nama menjadi PT. Greenfields Indonesia.

PT. Greenfields Indonesia terbagi menjadi 2 divisi, yaitu peternakan dan industri susu dengan manajemen yang terpisah. Pengolahan susu didirikan pada pertengahan tahun 1997, tetapi mulai berproduksi pada bulan Juni tahun 2000. Pabrik ini merupakan pabrik pengolahan susu modern yang dihubungkan langsung dengan ruang mesin pemerahan. Susu yang berasal dari peternakan langsung didinginkan dan dikirim untuk diolah tanpa sentuhan tangan manusia secara langsung. Perusahaan ini menjaga kualitas gizi dan kehigienisan produk susu yang dihasilkan.

Pada tahun 1998 perusahaan membangun sistem pemerahan Milking Parlour (Boumatic-USA) dengan kapasitas 24 ekor per pemerahan. Saat ini perusahaan telah memiliki Milking Parlour dengan kapasitas 40 ekor per pemerahan dan sedang melakukan pembangunan Milking Parlour baru dengan kapasitas yang sama. Bulan September 2002 PT. Greenfields Indonesia meresmikan Milk Treatment. PT. Greenfields Indonesia memproduksi dan mengemas susu pasteurisasi, ESL dan UHT dalam berbagai jenis kemasan tetra wedge untuk pasar lokal dan ekspor, antara lain berbagai produk private label. PT. Greenfields Indonesia mengekspor susu-susu tersebut ke Singapura, Malaysia, Hongkong, Cina, Nigeria dan Australia.

Lokasi Perusahaan Peternakan Sapi Perah PT. Greenfields Indonesia

Perusahaan Peternakan Sapi Perah PT. Greenfields Indonesia terletak di Dusun Maduarjo, Desa Babadan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Perusahaan ini berada di lereng Gunung Kawi pada ketinggian 1.100-1.200 meter di atas permukaan laut, dengan suhu udara rata-rata 180C. Lokasi perusahaan ini cukup ideal sebagai peternakan sapi perah bangsa FH (Friesian Holstein) karena sapi FH dan PFH (Peranakan Friesian Holstein) akan baik diternakkan di daerah yang tinggi dengan temperatur berkisar antara 15-210C (Syarief dan Sumoprastowo, 1984). Curah hujan di lokasi perusahaan cukup tinggi, yaitu sekitar 2.750-3.200 mm/tahun dengan kelembaban sebesar 45%.

Letak perusahaan dari pemukiman penduduk tidak kurang dari 2 km. Wilayah perusahaan dibatasi oleh tembok setinggi 2,5 meter dan pagar besi setinggi 2 meter sebagai pintu masuk pada bagian depan perusahaan. Batas wilayah bagian Utara adalah Gunung Kawi, sebelah Selatan adalah Desa Jambuer, sebelah Barat adalah Dusun Gendogo dan sebelah Timur adalah Kecamatan Precet. Jarak tempuh dari kota Malang ke perusahaan ini ± 40 km.

Struktur Organisasi

Perusahaan peternakan sapi perah PT. Greenfields Indonesia memiliki struktur organisasi yang tertata. Struktur organisasi ini sering mengalami perubahan karena adanya penyesuaian dengan manajemen yang berubah hampir setiap tahun atau pergantian manajer divisional. Hal ini terjadi karena PT. Greenfields masih baru sehingga manajemen dan perkembangannya belum stabil. Secara umum struktur organisasi PT. Greenfields Indonesia ditunjukkan pada Gambar 1.

HR & GA Dept. Head

 

Agus Salim

Head of Dairy Farm

 

Yuliantoni Queen

F & A

Dept. Head

 

Irmansyah

MA Dept. Head

 

 

Harijanto

HIS Section Head

 

Kristiyan Sunarsih

Nutritionist, QA & QC Dept. Head

 

Alex Wibowo

Sales Dept. Head

 

 

Yuliantoni Queen

Heifer Raising Dept. Head

 

Din Satriawan

Vet. Service Dept. Head

 

Setiyanto

Procurement Dept. Head

 

Hendro Santoso

Co-operation Dept. Head

 

M. Endro Widoto

Production Dept. Head

 

Catur Nugroho

KEGIATAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

Manajemen Pemeliharaan Pedet

Pendahuluan

Pada awal berdirinya PT. Greenfields Indonesia mengimpor bibit sapi perah unggul dari Australia dua kali dalam setahun. Dalam upaya mengurangi ketergantungan dengan bibit sapi perah impor, maka sejak tahun 2005 perusahaan ini mulai melakukan program rearing atau unit pembesaran pedet untuk memenuhi peremajaan sapi betina yang tidak produktif lagi (replacement) dan peningkatan populasi di tingkat peternak, yang saat ini berada di bawah Departemen Heifer Raising. Departemen Heifer Raising bertanggung jawab atas pemeliharaan pedet yang baru lahir hingga menjadi induk siap melahirkan (umur kebuntingan 254 hari). Pada program ini yang paling utama adalah ketersediaan pedetnya, karena itu sapi induk yang efektif dalam reproduksi harus dipersiapkan terlebih dahulu. Dalam program pembesaran, pedet dipelihara sampai siap kawin. Sapi dara ini kemudian diinseminasi buatan (kawin suntik), lalu siap menggantikan sapi yang tidak produktif lagi.

Pada umumnya manajer peternakan sapi perah melakukan culling 25-30% dari populasi yang ada. Sapi diculling karena berbagai alasan, umumnya : 23% karena produksi yang rendah, 13% karena masalah reproduksi, 8% karena mastitis, 28% karena adanya luka-luka, 5% karena kematian, 8% karena pemerahan, dan 15% karena posisi yang salah, ketosis dan alasan lainnya (Schmidt, et. al., 1988). Karena itu, diperlukan replacement stock yang akan menggantikan sapi-sapi yang telah diculling. Alternatif menyediakannya ada dua, yaitu membesarkan sendiri replacement stock atau membeli replacement stock dari peternakan lain. Membesarkan sendiri seperti yang dilakukan oleh PT. Greenfields Indonesia menurut Schmidt, et. al. (1988) memiliki beberapa keuntungan, yaitu :

1. Membesarkan biasanya lebih murah dibandingkan membeli heifer dengan kualitas yang sama.

2. Genetik keturunannya dapat diketahui dengan pasti.

3. Kesempatan penyakit masuk dan menyebar ke dalam kelompok ternak lebih kecil.

4. Perkembangan pertumbuhan dapat dibatasi.

5. Umur dan musim perkawinan dapat diatur.

6. Pejantan yang digunakan sebagai pemacek dapat dipilih.

7. Pengawasan kesehatan dan program vaksinasi dapat dilakukan tepat pada waktunya.

Teknis Program Departemen Heifer Raising

Dalam pelaksanaan rearing, pedet betina dipelihara di PT. Greenfields Indonesia unit Gunung Kawi mulai dari lahir hingga lepas sapih pada umur 6 bulan untuk betina dan 4-5 bulan untuk yang jantan. Pedet jantan dan betina yang telah lepas sapih dan kondisinya sehat dikirim ke Probolinggo. Pedet jantan dijual dan akan dipelihara lebih lanjut. Pedet betina dipelihara hingga berumur 14 bulan dengan bobot badan sekitar 350 kg. Sapi dara ini siap dikawinkan. Setelah umur kebuntingan ± 5 bulan, heifer ini dikembalikan lagi ke Gunung Kawi. Dara bunting dengan umur kebuntingan 255 hari (21 hari menjelang kelahiran) masih menjadi tanggung jawab departemen Heifer Raising, setelah itu menjadi tanggung jawab Departemen Livestock (Farm).

Prediksi dan kalkulasi dari program reproduksi PT. Greenfields Indonesia adalah 150 ekor pedet/bulan. Prediksi ini bila tepat akan memenuhi target kelahiran yang ditetapkan oleh departemen Heifer Raising. PT. Greenfields Indonesia menetapkan replacement stock yang harus tersedia adalah 15-20% dari populasi induk. Persentase ini di bawah persentase optimal yaitu 30% dari populasi induk (Siregar, 1996). Persentase mortalitas yang ditoleransi pada tahun 2007 hingga saat ini adalah 3% untuk pedet berumur❤ bulan dan 1% untuk yang berumur 3-6 bulan. Seleksi dilakukan pada seluruh pedet yang lahir, pedet berumur 3 bulan dan 6 bulan untuk memastikan bahwa pedet-pedet yang dipelihara memenuhi spesifikasi sebagai induk yang berkualitas.

Pemeliharaan Induk yang Akan Melahirkan

Induk yang akan melahirkan dipisahkan dari sapi betina lainnya dan ditempatkan pada kandang yang dapat diawasi dengan seksama agar dapat dibantu dengan segera bila sapi-sapi tersebut membutuhkannya. PT. Greenfields Indonesia menempatkan sapi-sapi yang akan melahirkan pada kandang khusus, yaitu kandang maternity. Sapi-sapi yang yang diperkirakan dua hari lagi akan melahirkan segera dipindahkan ke kandang ini. Pengecekan terhadap sapi-sapi bunting tua dilakukan setiap hari untuk menghindari terjadinya kelahiran pada kandang kelompok sapi dewasa.

Kandang maternity disebut juga kandang 2B, memiliki luas 94,8 m2 (12 m x 7,9 m) dan 47,4 m2 (6 m x 7,9 m) dengan tipe beach barn. Kandang maternity merupakan kandang kelompok dengan kapasitas ???? ekor sapi dewasa yang akan melahirkan, baik dara maupun laktasi >1. Alas atau bedding yang dipergunakan adalah sawdust. Kandang ini letaknya bersebelahan dengan kandang 2A, yaitu kandang kelompok yang diperuntukkan bagi pedet yang memasuki weaning programme (program sapih).

Pemeliharaan Pedet yang Baru Lahir

Pedet adalah anak sapi yang baru lahir hingga umur 8 bulan (AAK, 2007). Pedet yang baru lahir membutuhkan perawatan khusus, ketelitian, kecermatan dan ketekunan dibandingkan dengan pemeliharaan sapi dewasa. Pemeliharaan pedet mulai dari lahir hingga disapih merupakan bagian penting dalam kelangsungan suatu usaha peternakan sapi perah. Kesalahan dalam penanganan dan pemeliharaan pada pedet muda dengan umur 0-3 minggu dapat menyebabkan pedet mati lemas saat lahir, lemah, infeksi dan sulit dibesarkan.

Pedet yang baru lahir harus diletakkan pada tempat yang kering, nyaman dan bersih. Hal ini untuk menjaga agar pedet terhindar dari kontaminasi kuman penyakit. Penanganan pedet segera setelah lahir harus dilakukan untuk memastikan pedet tersebut dalam kondisi yang baik. Segera setelah lahir, lendir yang ada di ujung hidung dan moncong dibersihkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Santoso (2002), bahwa pedet yang baru lahir perlu dibersihkan lendir atau cairan yang masih melekat pada bulu dan tubuh pedet terutama pada bagian mulut dan hidung yang bertujuan untuk memperlancar pernafasannya. Apabila pedet sulit bernafas maka pedet ditolong menggunakan nafas buatan dengan cara mengangkat kedua kaki belakang dan membiarkan kepala ke bawah, kemudian dibalik. Perlakuan ini sesuai dengan pendapat Syarief dan Sumoprastowo (1990). Nafas buatan dapat dilakukan juga dengan cara membaringkan pedet, kemudian dilakukan massage (pijat) sampai pada anggota kaki. Cara lain untuk menolong pedet yang kesulitan bernafas adalah dengan menyiram pedet menggunakan air dingin atau menarik lidahnya agar bernafas dengan normal (AAK, 2007). Akan tetapi, kedua hal ini tidak dilakukan di PT. Greenfields Indonesia.

Penanganan selanjutnya yaitu memeriksa kondisi tubuh pedet apakah normal, cacat atau lemah serta jenis kelaminnya jantan atau betina. Pedet berkelamin jantan diberi eartag berwarna oranye sedangkan betina berwarna biru. Pada kondisi cuaca yang dingin, pedet yang baru lahir dikeringkan dengan lap bersih disertai dengan menggosok kulitnya atau induknya diberikan kesempatan untuk menjilatinya agar pedet tersebut tidak kedinginan. Menurut Syarief dan Sumoprastowo (1990), gosokan atau jilatan pada kulit pedet merangsang peredaran darah pada permukaan kulit sehingga badan anak sapi menjadi hangat. Setelah itu berikan iodine 7% dengan spray (semprot) atau dipping (celup) pada naval (tali pusar) dan diberi alat umbilical klem dengan jarak ± 5 cm dari tubuh untuk menutup jalan masuk bakteri melalui tali dan memutuskannya di kemudian hari bila sudah mengering (Schmidt, et. al., 1988).

Pedet yang sehat mulai dapat berdiri dan berjalan untuk menyusu kepada induknya setelah 30-60 menit sesudah lahir (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Pedet yang baru lahir diberikan kolostrum sebanyak tiga liter dari pemerahan pertama setelah induk melahirkan. Pemberiannya dilakukan satu jam setelah lahir menggunakan dot susu. Perlakuan ini didukung oleh pendapat Blakely dan Bade (1998), yang menyatakan bahwa satu jam setelah lahir pedet harus mendapat kolostrum sebanyak dua kg. Pedet yang baru lahir hanya diberikan kesempatan bersama dengan induknya selama satu jam, kemudian segera dipisahkan. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat AAK (2007) yang menyatakan pedet yang baru lahir lebih baik dibiarkan bersama induknya selama 24-36 jam untuk memberikan kesempatan memperoleh susu pertama. Bila lebih dari dua hari pedet dapat terkena “salah cerna”. Namun, pedet yang kondisinya masih lemah dapat dibiarkan bersama induknya sampai berumur lebih dari tiga hari (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Pedet yang telah dipisah dari induknya ditempatkan pada kandang individual. Jika kandang individual tidak mencukupi, maka kandang kelompok yang dibagi dua menjadi alternatif pilihan.

Prosedur Serah Terima Pedet

Pedet yang baru lahir merupakan tanggung jawab Departemen Veteriner Service sampai 1 jam setelah kelahiran. Setelah itu pedet dipisahkan dari induknya dan menjadi tanggung jawab Departemen Heifer Raising hingga dara bunting. Pengiriman pedet dilakukan oleh kedua belah pihak yang disertai dengan surat bukti pengiriman pedet. Surat bukti ini memuat informasi nomor induk pedet, jam kelahiran, bobot lahir, jenis kelamin dan kondisi pedet (Lampiran ???). Seluruh data tersebut akan masuk ke bagian HIS. Enam jam setelah kelahiran, pedet yang telah menjadi tanggung jawab Departemen Heifer Raising akan diamati kondisinya. Kondisi umum pedet yang diamati, yaitu lemah (LM), membran tali pusar putus total (TPPT), pendarahan tali pusar (PTP), abnormalitas temporer (ABT), cacat permanen (CP) dan gangguan lain (GL).

Kolostrum

Kolostrum adalah sekresi dari kelenjar susu (mammary gland) 24 jam pertama setelah melahirkan (Jim, 2001). Kolostrum sangat berbeda dengan susu biasa dalam hal kandungan, sifat fisik dan fungsinya. Susu transisi adalah sekresi dari kelenjar susu dari 24 sampai 72 jam setelah melahirkan. Kolostrum juga berbeda dengan susu transisi. Kolostrum mengandung vitamin A, B, D, mineral, kadar lemak yang tinggi dan antibodi (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Kolostrum juga mengandung lebih banyak bahan kering dan protein. Antibodi dalam kolostrum dikenal dengan immunoglobulin, yang menyediakan kekebalan pasif bagi pedet. Karena itu, immunoglobulin sangat penting terutama 24 jam setelah pedet dilahirkan. Tabel 1 menampilkan perbedaan kandungan kolostrum, susu transisi dan susu biasa.

Tabel 1. Komposisi Kolostrum, Susu Transisi dan Susu Biasa Pada Sapi

Komposisi Susu

Pemerahan ke –

1

2

3

5

11

Kolostrum

Susu Transisi

Susu Biasa

Specific Gravity

1.056

1.040

1.035

1.033

1.032

Bahan Kering (%)

23.9

17.9

14.1

13.6

12.9

Protein (%)

14.0

8.4

5.1

4.1

3.1

Casein (%)

4.8

4.3

3.8

2.9

2.5

IgG (g/L)

48

25

15

0.1

0.6

Lemak (%)

6.7

5.4

3.9

4.3

3.5

Laktosa (%)

2.7

3.9

4.4

4.7

5.0

Mineral (%)

1.11

0.95

0.87

0.81

0.74

Sumber : J. W. Crowley, N. A. Jorgensen dan W. T. Howard, 1993, Wis. Ext. Bull. A1485

Peternakan ini memberikan kolostrum kepada pedet-pedet yang baru lahir 1 jam setelah lahir, kemudian 6 jam setelah pemberian pertama dan 6 jam setelah pemberian kedua masing-masing sebanyak 3 liter. Tujuan pemberian kolostrum segera sesudah lahir adalah (Syarief dan Sumoprastowo, 1990) :

1. Menggertak alat-alat pencernaan pedet supaya mengeluarkan kotoran pertama yang disebut “tahi gagak”. Bila dalam 2 jam setelah pemberian kolostrum pedet tidak mengeluarkan kotoran, perlu dibantu dengan menyemprotkan campuran sabun dengan air hangat melalui anusnya. “Tahi gagak” yang tidak keluar menyebabkan kondisi pedet buruk, nafsu minum susu rendah dan lesu. Hal ini belum pernah terjadi dalam manajeman peternakan.

2. Menggertak ambing untuk mulai berfungsi karena adanya rangsangan yang menyenangkan dari pedet yang menyusu.

3. Pedet mendapat antibodi dari air susu induknya. Kolostrum merupakan makanan yang bergizi tinggi sehingga dikatakan sebagai nutrisi primer bagi pedet. Kandungan laktosa yang rendah merupakan indikasi bahwa kolostrum dapat mencegah diare pada pedet muda. Sebelum menyusu, ambing hendaknya dibersihkan dahulu dengan air hangat. Lebih baik lagi dicampur dengan larutan kaporit untuk mencegah terjadinya infeksi pada pedet yang baru lahir dan mencegah terjadinya mastitis pada ambing induk.

Kondisi kolostrum yang bagus adalah lebih kental dan berwarna putih kekuningan seperti krim. Kolostrum yang akan diberikan kepada pedet terlebih dahulu diperiksa kualitasnya dengan cara mengukur kadar immunoglobulin (IgG) dengan alat yang disebut kolostrometer. Pada kolostrometer terdapat tiga daerah berwarna. Kolostrum yang mengenai daerah berwarna merah tidak boleh diberi kepada pedet, karena kadar IgG nya sangat rendah. Cara pengukuran kadar IgG kolostrum dapat dilihat pada Gambar ?. Menurut Jim (2001) pengukuran kadar IgG kolostrum dengan kolostrometer akan memberi hasil optimal pada saat temperatur kolostrum 22oC. Hal serupa dilakukan juga oleh perusahaan peternakan ini. Kelebihan kolostrum disimpan dalam lemari es untuk digunakan pada saat kekurangan.

Sistem Perkandangan

Kandang merupakan tempat tinggal ternak setiap hari yang harus memberi kenyamanan, keamanan dan kesehatan bagi ternak serta mempermudah tatalaksana pemeliharaan ternak bagi peternak (AAK, 2007). Keberhasilan suatu usaha peternakan ditentukan juga olah perkandangan yang memenuhi persyaratan. Oleh karena itu, kandang yang dipakai dalam manajemen pemeliharaan pedet harus benar-benar diperhatikan desain dan tujuan penggunaannya. Sistem kandang yang dipergunakan dalam peternakan ini ada dua macam, yaitu kandang sistem individual dan kandang sistem kelompok.

a. Kandang sistem individual

Kandang sistem individual disebut juga box stall, yaitu kandang berukuran kecil yang dibuat terpisah satu dengan yang lainnya. Box stall merupakan tempat untuk pedet sejak lahir hingga berumur 4 bulan (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Keuntungan dari kandang sistem individual adalah (Schmidt, Vleck dan Hutjens, 1988) :

1. Pemberian pakan dan minum setiap individu dapat dipantau dengan jelas.

2. Perkembangan setiap individu dapat terawasi lebih baik.

3. Penyebaran penyakit dapat dicegah dan diperkecil.

Kerugiannya adalah :

1. Membutuhkan lahan yang cukup luas.

2. Membutuhkan tenaga kerja dan waktu yang lebih banyak untuk memberikan minum, pakan, cek dan treatment.

Kandang sistem individual yang dipakai pada PT. Greenfields Indonesia ada 2 macam, yaitu untuk umur 0-5 hari dan untuk umur 0-3 bulan (disebut kandang SH 1/Super Hutch 1).

Kandang sistem individual untuk pedet berumur 0-5 hari tidak memenuhi syarat. Hal ini disebabkan oleh jumlah box stall yang sangat kurang. Box stall yang tersedia hanya 25 buah, sementara kelahiran setiap bulannya ± 120 ekor. Jadi, apabila box stall sudah terisi seluruhnya maka alternatifnya adalah kandang sistem kelompok yang dibagi 2 bagian. Akibat dari kekurangan ini adalah tidak adanya istirahat kandang yang sangat penting untuk menjaga kehigienisan lingkungan kandang. Kandang sistem individual ini memilliki ukuran p x l x t : 1,5 m x 0,75 m x 0,7 m. Kandang terbuat dari besi dan bedding yang dipergunakan adalah jerami rumput. Bedding adalah alas lantai kandang yang berasal dari sebuk gergaji, jerami yang dicincang ataupun bahan lainnya (AAK, 2007). Siregar (1996) menyatakan bahwa ukuran kandang sistem individual untuk pedet adalah p x l x t : 2 m x 1,2 m x 1 m. Kandang sistem individual yang hangat terbuat dari kayu. Kehangatan dibutuhkan oleh pedet untuk kesehatannya (Syarief dan Sumoprastowo, 1990).

Kandang sistem individual SH1 berjumlah 52 unit, tetapi yang dipergunakan hanya 18 unit karena terjadi kerusakan. Kandang SH1 terbuat dari kayu dengan ukuran p x l x t : 2,45 m x 1,2 m x 1,3 m. Kandang SH1 sudah memenuhi syarat dalam hal umur penggunaan dan bahannya, namun ukurannya belum memenuhi syarat. Dengan demikian sistem perkandangan indiviual yang ada di PT. Greenfields Indonesia belum memenuhi syarat.

b. Kandang sistem kelompok

Kandang sistem kelompok memiliki keuntungan :

1. Tidak membutuhkan lahan yang luas.

2. Mudah melakukan pemberian pakan dan minum.

3. Mudah dalam melakukan treatment.

Kerugiannya adalah :

1. Sulit untuk mengontrol jumlah pakan dan minum yang dikonsumsi setiap individu.

2. Kesulitan untk mengontrol dan mencegah penyebaran penyakit.

Pen yang akan dipakai untuk pedet yang baru lahir disiapkan terlebih dahulu dengan cara :

1. Sawdust dari pemakaian yang lama dibersihkan.

2. Alas tanah dan pasir didesinfeksi dengan semprotan Long Life 250s.

3. Taburkan kapur gamping sebanyak 5 kg/pen.

4. Diamkan dan istirahatkan selama 1 minggu.

5. Pasang sawdust dan jerami rumput yang bersih.

Kandang sistem kelompok untuk pedet yang baru lahir dibagi menjadi 2 bagian setiap pen nya. Ukuran setiap pen adalah p x l : 7,35 m x 6 m. Setiap pen diisi oleh 12-14 ekor pedet. Pedet akan terus dipelihara hingga berumur 1 bulan. Kelompok pedet ini disebut SH2 (Super Hutch 2). Menurut AAK (2007) pedet yang berumur ≥ 1 bulan yang dipelihara dalam kandang sistem kelompok membutuhkan luasan 1m2/ekor dengan kapasitas 4 ekor/kelompok. Ukuran kandang tersebut sudah memenuhi syarat, tetapi kapasitas dalam tiap pen masih terlalu besar dan belum memenuhi syarat.

Alas atau bedding yang dipakai untuk pedet berumur 0-1 minggu adalah sawdust (serbuk gergaji) pada ¼ bagian depan dan jerami rumput pada ¾ bagian sisanya. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa sawdust cepat menyerap cairan sehingga bagian depan yang banyak digunakan untuk aktifitas pemberian susu tetap terjaga kekeringannya serta sawdust lebih mudah dalam pencegahan pinjal. Sedangkan pemakaian jerami untuk mencegah banyaknya debu yang beterbangan di sekitar kandang pedet yang dapat mengakibatkan pneumonia. Setelah itu, alas yang dipakai secara keseluruhan adalah sawdust hingga berumur 1 bulan. Sawdust akan diganti setelah terlihat kotor, yaitu ± 4 minggu.

Pedet yang tergolong SH1 (1-3 bulan) yang dipelihara secara kelompok, ditempatkan di kandang 2A yang bersebelahan dengan kandang melahirkan. Jumlahnya 12 pen dengan kapasitas/pen 12-14 ekor dan ukuran p x l : 7,9 m x 6 m. Ukuran tersebut sudah memenuhi syarat karena luasan yang dibutuhkan per ekor pedet berumur 8-12 minggu adalah 1,5m2/ekor (AAK, 2007). Pedet yang berumur 3-6 bulan disebut SH0. Pedet-pedet ini dipelihara terpisah dari kelompok pedet muda karena telah lepas sapih. Jumlahnya 10 pen dengan kapasitas setiap pen 12-15 ekor dan ukuran p x l : 13,15 m x 7 m. Bedding yang digunakan pada kandang SH1 dan SH0 adalah pasir. Bedding dibersihkan dan diratakan sekali sehari pada pagi hari.

Manajemen Pemberian Pakan dan Weaning Programme (Program Sapih)

a. Pemberian susu

Pedet yang baru lahir diberi kolostrum seperti yang telah diuraikan di atas. Setelah pemberian kolostrum dilanjutkan dengan pemberian susu fresh dan susu biasa hingga lepas sapih. Perbandingan jumlah penberian susu fresh dan susu biasa dapat dilihat pada tabel ?.

Tabel ?. Program pemberian susu pada pedet sapi perah umur 1-6 hari

Hari

Pemberian Susu

Pagi

Sore

1

100% Fresh

100% Fresh

2

10% Susu

90% Fresh

20% Susu

80% Fresh

3

30% Susu

70% Fresh

40% Susu

60% Fresh

4

50% Susu

50% Fresh

60% Susu

40% Fresh

5

70% Susu

30% Fresh

80% Susu

20% Fresh

6

90% Susu

10% Fresh

100% Susu

Sumber : Departemen Heifer Raising PT. Greenfields Indonesia, 2008

Keterangan :

§ Susu fresh adalah susu yang berasal dari induk-induk yang baru melahirkan hingga 5 hari setelah melahirkan.

§ Susu biasa adalah susu yang berasal dari sapi-sapi sakit yang tidak menjalani treatment dan treatment yang tidak mengandung antibiotik.

Susu yang diberikan kepada pedet harus pada suhu 350-400C. Hal ini sesuai dengan pendapat Blakely dan Bade (1991) yang menyatakan bahwa susu atau pengganti susu harus diberikan dengan suhu yang sama dengan suhu susu yang berasal dari ambing induknya, yaitu 35-380C. Calf Milk Replacer (CMR) atau susu pengganti merupakan alternatif apabila terjadi kekurangan susu. Pemberiannya lebih diutamakan untuk sapi-sapi berumur > 15 hari. Susu pengganti yang dipakai oleh PT. Greenfields Indonesia adalah Calvolac dengan perbandingan CMR : air hangat adalah 1 kg : 8 liter.

Pemberian susu dilakukan 2 kali, yaitu pagi dan sore hari sebanyak 3 liter/ekor tiap pemberian dengan menggunakan milk bar. Pedet-pedet yang belum mengerti diberi dengan menggunakan dot sambil dilatih agar terbiasa menggunakan milk bar. Caranya dengan membasahi tangan dengan susu, masukkan ke dalam mulutnya lalu dengan perlahan-lahan pedet didekatkan pada nipple milk bar dan lepaskan tangan dari mulut pedet. Melatih pedet minum susu dengan cara seperti tersebut sesuai dengan pendapat Syarief dan Sumoprastowo (1990).

Pada saat pemberian susu yang perlu diperhatikan adalah (Departemen Heifer Raising PT. Greenfields Indonesia, 2007) :

1. Peralatan yang dipakai untuk minum susu harus selalu bersih.

2. Susu yang diberikan harus dalam kondisi hangat-hangat kuku.

3. Perhatikan setiap individu, awasi pedet yang terlihat lemah dan sakit.

4. Lakukan desinfeksi dengan menyemprot iodosep pada tali pusar setiap pedet yang belum kering dan putus.

5. Pastikan setiap pedet meminum susu dengan cukup.

6. Setelah pemberian susu selesai, seluruh peralatan dibersihkan dengan menggunakan desinfeksi tipol dan air hangat kemudian bilas dan keringkan.

b. Pemberian konsentrat dan hijauan

Pedet mulai diperkenalkan dengan konsentrat pada umur 1 minggu dan hijauan pada umur 10 hari. Konsentrat yang diberikan adalah calf 1, sedangkan hijauannya adalah star grass yang telah dikeringkan dalam bentuk jerami. Pakan calf 1 yang diberikan merupakan campuran konsentrat dan molases dengan perbandingan 5 kg : 1 liter. Air minum diberikan secara ad libitum dan selalu tersedia dalam keadaan bersih. Syarief dan Sumoprastowo (1990) menyatakan bahwa air minum sebaiknya dilakukan secara ad libitum. Air minum diganti dan tempatnya dicuci setiap 2 kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore hari. Konsentrat dan hijauan tersedia setiap saat dan selalu diberikan dalam keadaan fresh atau baru. Hal ini sesuai dengan pendapat Blakely dan Bade (1991) yang mengungkapkan pakan starter dan jerami kualitas tinggi mulai diberikan pada umur 7 hari dan harus tersedia setiap saat dalam keadaan segar. Demikian halnya dengan air minum harus tersedia dalam keadaan segar dan bersih.

Pedet yang berumur 3 bulan mulai diberikan pakan calf 2 secara bertahap. Pemberian pakan akan terus dilanjutkan kepada pakan calf 3. Pakan calf 3 diberikan kepada pedet betina pada umur 4 bulan dan pedet jantan pada umur 5 bulan. Setiap kali penggantian pakan selalu dilakukan secara bertahap selama 1 minggu hingga menjadi pakan calf 2 penuh atau calf 3 penuh. Tahapan penyesuaiannya sama dengan proses transisi susu fresh kepada susu biasa. Penggantian pakan tidak dilakukan secara mendadak, karena dapat menyebabkan stress dan penurunan intake pedet.

c. Weaning Programme (Program Sapih)

Menyapih berarti menghentikan pemberian susu yang berasal dari induk sendir atau pun dari induk lain. Tujuan penyapihan adalah untuk menghemat biaya pembesaran pedet dan meningkatkan volume susu yang dijual (AAK, 2007).

Syarat untuk pedet boleh masuk dalam weaning programme adalah (Departemen Heifer Raising PT. Greenfields Indonesia, 2007) :

1. Pedet berumur ≥ 75 hari atau 2,5 bulan.

2. Bobot badan pedet ≥ 90 kg.

3. Konsumsi pakan calf 1 mencapai 1-1,5 kg/ek/hari. Menurut Blakely dan Bade (1991), salah satu syarat pedet dapat disapih adalah konsumsi pakan starter harus mencapai 0,75-1 kg/ek/hari.

4. Kondisi fisik pedet secara keseluruhan sehat.

Pemberian susu akan dikurangi secara bertahap seiring dengan penambahan kuantitas konsentrat dan hijauan. Hal serupa juga diungkapkan oleh Siregar (1996), bahwa pemberian susu pada pedet harus berangsur-angsur dikurangi sampai pedet disapih. Pemberian susu kepada pedet yang berumur 2 bulan mulai dikurangi, sedangkan jumlah konsentrat dan hijauan akan terus ditingkatkan hingga pedet lepas sapih pada umur 3 bulan. Pada umumnya penyapihan pedet sapi perah dilakukan pada umur 3-4 bulan dengan mempertimbangkan kondisi pedet. Pedet yang kecil dan lemah dapat ditunda penyapihannya hingga umur 4 bulan (AAK, 2007). Menurut Santoso (2002), penyapihan pada pedet juga perlu mempertimbangkan kondisi dan umur pedet, sebab saluran alat pencernaannya berbeda dengan sapi dewasa.

Pakan yang diberikan kepada pedet akan terus meningkat kepada calf 2 dan calf 3 hingga pedet tersebut dikirim ke Probolinggo. Pedet yang telah melewati weaning programme akan dipelihara lebih lanjut pada kandang terpisah selama 2-3 bulan lagi sebelum dikirim ke Probolinggo. Pedet betina akan dipelihara lebih lanjut, sedangkan pedet jantan dijual untuk digemukkan. Tabel ?. merupakan pedoman pemberian susu dan pakan pedet.

Tabel ?. Pedoman Pemberian Susu dan Pakan Pedet Hingga Lepas Sapih

Umur (hari)

1-14

15-25

26-36

37-47

48-58

59-69

70-80

81-90

Susu (ltr/ek/hr)

4-6

6

6

6

6

5

4

2

Konsentrat (kg/ek/hr)

0,050

0,075

0,125

0,250

0,250

0,500

0,800

1,000

Hijauan (kg/ek/hr)

ad lib

ad lib

ad lib

ad lib

ad lib

ad lib

ad lib

Sumber : Departemen Heifer Raising PT. Greenfields Indonesia, 2008

Keterangan :

§ Ad lib = ad libitum (tidak terbatas)

Perlakuan Pemeliharaan Pada Pedet Jantan dan Betina

a. Penimbangan Bobot Badan

Penimbangan bobot badan tidak dilakukan setiap bulan secara teratur. Penimbangan bobot badan dilakukan hanya pada umur 0 hari (lahir), umur ± 3 bulan (lepas sapih) dan umur 4-5 bulan (dikirim ke Probolinggo). Penimbangan seperti ini dilakukan dengan alasan untuk mengefisienkan tenaga, waktu dan kegiatan karena aktifitas Departemen Heifer Raising cukup padat. Penimbangan dilakukan dengan menggunakan alat timbang digital dengan model kandang jepit untuk memudahkan penimbangan dan penanganan pedet-pedet yang nakal.

Penimbangan menunjukkan pertambahan bobot badan. Pertambahan bobot badan merupakan variabel yang digunakan untuk menyatakan pertumbuhan dalam waktu tertentu yang dilakukan dengan penimbangan berulang-ulang dan ditunjukkan dengan kenaikan bobot badan setiap hari, setiap minggu atau waktu lainnya (Tilman, dkk., 1990). Bobot lahir rata-rata di PT. Greenfields Indonesia adalah 35 kg. Bobot lahir di PT. Greenfields Indonesia dibagi menjadi large size dan small size. Menurut Syarief dan Sumoprastowo (1990), bobot lahir pedet normal adalah lebih dari 20 kg. Pertambahan bobot badan untuk large size (bobot lahir > 39 kg) adalah 0,8-1 kg/hari, sedangkan untuk small size (bobot lahir < 39 kg) adalah 0,7-0,8 kg/hari. Pertambahan bobot badan tersebut sudah ideal, karena enurut Diggins, Bundy dan Christensen (1994), pertambahan bobot badan yang ideal adalah 0,50-0,68 kg/hari untuk umur 1-8 bulan.

b. Identifikasi atau pemberian tanda pengenal

Identitas ternak adalah pemberian tanda atau nomor pada ternak, dapat berupa eartag, tatoo dan kalung (Peraturan Menteri Pertanian No. 55/Permentan/OT.140/10/2006 dalam Pedoman Pembibitan Sapi Perah yang Baik).

Maksud pemberian tanda pengenal sejak masih pedet adalah (AAK, 2007) :

1. Mempermudah pelaksanaan seleksi.

2. Mempermudah rekording (pencatatan).

3. Mempermudah melakukan tata laksana: perkawinan, pemberian makanan, dan lain sebagainya.

Menurut AAK (2007) tanda pengenal yang dapat digunakan adalah eartag, kerat (ear-notching), ear-tatooing dan peneng.

Eartag merupakan tanda pengenal berupa anting yang berasal dari bahan plastik atau logam yang berisi angka atau huruf sebagai kode dan dipasang pada telinga. Keuntungan dari penggunaan eartag adalah mencegah terjadinya kesalahan atau tertukarnya nomor penandaan yang satu dengan sapi yang lainnya (Santoso, 2003)

Ear-notching adalah tanda pengenal pada telinga yang dipasang dengan cara melukai atau mengerat bagian tepi telinga. Setiap keratan memililki arti dengan kode tertentu seperti nomor.

Ear-tatooing adalah tanda pengenal dengan cara melukai bagian kulit, baik pada telinga, pantat ataupun bagian lainnya. Alat yang digunakan dirancang khusus, bentuknya seperti tang yang jepitannya seperti stempel jarum kecil. Alat ini dirangkai seperti bentuk angka atau huruf, sehingga alat tersebut dapat mencetak angka atau huruf seperti yang diinginkan peternak.

Peneng adalah tanda pengenal dari logam atau kulit yang dikaitkan dengan tali atau rantai dan dipasang pada leher sapi. Pada peneng dapat dituliskan kode berupa huruf atau angka, sehingga peternak dengan mudah mengenali sapi yang satu dengan lainnya.

Pemberian tanda di PT. Greenfiellds Indonesia dilakukan segera setelah lahir sebelum dipisahkan dari induknya dengan menggunakan eartag. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Syarief dan Sumoprastowo (1990) yang menyatakan tanda diberikan sebelum dipisahkan dari induk, yaitu pada umur 2-3 hari. Pemasangan eartag dilakukan dengan membersihkan daun telinga pedet terlebih dahulu dan menyemprotnya dengan iodosep, lalu memasang ear-tag dan meyemprotnya kembali dengan iodosep sebagai desinfektan.

c. Dehorning (Pemotongan Tanduk)

Dehorning berarti meniadakan atau mematikan calon tanduk sebelum tumbuh memanjang atau memotong tanduk yang sudah terlanjur tumbuh panjang (AAK, 2007). Tujuan dehorning adalah (Syarief dan Sumoprastowo, 1990) :

1. Menghemat ruangan.

2. Kandang dan peralatan lebih awet.

3. Mengurangi bahaya yang mungkin terjadi pada peternak dan memberi kemudahan dalam menangani dan memelihara ternak.

4. Mengurangi kemungkinan terjadinya penandukan terhadap sesama ternak yang mengakibatkan kerusakan kulit atau luka.

PT. Greenfields Indonesia melakukan dehorning pada saat pedet berumur 1 bulan dengan menggunakan besi panas. Hal ini didukung oleh pendapat Schmidt, Vleck dan Hutjens (1988) yang menyatakan dehorning biasanya dilakukan pada pedet berumur 2-4 minggu. AAK (2007) menyebutkan tiga cara untuk melakukan dehorning, yaitu :

1. Dehorning dengan bahan kimia

Bahan kimia yang biasa dipakai adalah caustic-soda/soda api/natrium hidroksida (NaOH) dalam bentuk pasta atau batangan seperti lilin. Cara ini paling bagus dilakukan pada pedet yang berumur 3-10 hari. Peternak yang akan melakukan harus memakai sarung tangan dari karet untuk menjaga kulit tangan. Sebelum mengoles soda api, bulu di sekitar calon tanduk harus digunting dan dibersihkan. Bagian yang sudah bersih diolesi vaselin agar soda api yang akan dioleskan pada dasar calon tanduk tidak mengalir ke bagian lainyang berbahaya, seperti mata. Selanjutnya dasar calon tanduk digosok dengan soda api hingga muncul bintik-bintik darah.

2. Dehorning dengan besi yang dipanaskan

Dehorning dengan besi panas dilakukan pada pedet berumur 1 bulan. Besi yang digunakan dirancang secara khusus sehingga bila alat tersebut dipanaskan dengan listrik atau sumber panas lainnya dapat dipakai untuk mematikan/menghilangkan tanduk. Caranya adalah dengan menempelkan besi panas pada tunas tanduk. PT. Greenfields Indonesia memilih cara ini untuk melakukan dehorning. Pedet yang akan dipotong tanduknya dimasukkan ke dalam kandang jepit kecil lalu diberi suntikan obat bius (Lidocain HCl) pada bagian syaraf tunas tanduk (dekat mata) untuk mengurangi rasa sakit. Setelah itu besi yang telah dipanaskan ditempelkan pada tunas tanduk hingga terlepas. Kemudian semprot dengan “Limoxin-25 spray”.

3. Dehorning dengan gergaji

Dehorning dengan gergaji merupakan salah satu cara yang paling mudah.Dehorning dengan gergaji hanya dilakukan pada sapi-sapi dewasa yang tanduknya sudah keras dan memanjang. Gergaji yang digunakan harus bergigi halus dan tajam. Pemotongan yang dilakkukan dengan cara menyisakan pangkal tanduk 1-2 cm.

d. Kastrasi

Kastrasi adalah usaha mematikan sel kelamin dengan jalan operasi dan mengikat atau memutus saluran sperma ataupun memasukkan bahan kimia dengan cara injeksi agar alat reproduksi tidak berfungsi (AAK, 2007). Sapi-sapi yang tidak terpilih sebagai calon bibit dalam suatu kelompok langsung dikastrasi. Harapannya adalah sapi menjadi lebih jinak, mudah dikuasai, mutu daging dan laju pertumbuhannya meningkat. Manfaat lainnya adalah sifat-sifat jelek tidak diturunkan atau dikembangkan, sehingga secara ekonomis lebih menguntungkan peternak (AAK, 2007). PT. Greenfields Indonesia melakukan kastrasi hanya bila ada permintaan.

Blakely dan Bade (1991) menjelaskan beberapa cara kastrasi, yaitu :

1. Kastrasi dengan pisau yang tajam.

Skrotum terlebih dahulu dicuci dengan larutan antiseptik lalu disayat pada bagian bawah. Testikel lalu dikeluarkan dari skrotum dan salurannya diputuskan. Luka yang ditimbulkan lalu diobati untuk mencegah infeksi dan mempercepat kesembuhan.

2. Kastrasi dengan elastrator

Elastrator digunakan untuk merentangkan suatu cincin karet yang kuat lalu dipasang pada skrotum di atas testikel. Di bawah cincin karet tersebut, aliran darahnya terputus sehingga testikel tidak berfungsi.

Cara ini sangat efektif dilakukan pada pedet yang umurnya < 1 minggu. Skrotum akan mengering dan terlepas dengan sendirinya setelah kastrasi berlangsung selama 10 hari (AAK, 2007). Perlakuan kastrasi dengan cara ini yang dilakukan di PT. Greenfields Indonesia kurang baik, karena dilakukan pada umur 2-3 minggu, namun pelaksanaannya sudah sesuai dengan literatur.

3. Kastrasi dengan “tang Burdizzo”

Kastrasi dengan “tang Burdizzo” dapat dilakukan pada semua semua pedet jantan dari berbagai umur. Kastrasi dengan cara seperti ini hampir sama dengan menggunakan elastrator, karena tujuannya adalah memutuskan saluran dengan jepitan tang sehingga aliran darah yang menuju testikel akan terputus. Kastrasi dengan cara ini tidak akan menimbulkan pendarahan dan dalam waktu beberapa minggu testis atau skrotum akan mengecil (AAK, 2007).

4. Kastrasi secara kimiawi

Cara kimiawi yang efektif untuk melaksanakan kastrasi pada pedet jantan, yaitu menggunakan preparat suntik yang nama dagangnya Chem-cast (Bio-Ceutic Laboratories, Inc., P.O. Box 999, St. Joseph, Missourri 64502). Chem-cast adalah suatu larutan kimia paten untuk penyuntikan langsung ke dalam testikel sapi jantan muda, yang berat badannya < 75 kg. Dalam waktu 60-90 hari setelah kastrasi, pedet benar-benar berada dalam keadaan terkastrasi secara sempurna.

Keuntungan cara kastrasi secara kimiawi adalah dapat dilakukan kapan pun sepanjang tahun karena pelaksanaannya sederhana dan tidak menimbulkan perdarahan dan tidak terasa sakit.

5. Kastrasi dengan cara operasi (AAK, 2007)

Cara ini dapat dilakukan pada pedet umur 1 minggu-4 bulan. Tetapi, untuk hasil operasi yang resikonya kecil sebaiknya dilakukan pada pedet umur < 1 minggu. Operasi pada pedet umur < 1 minggu lebih mudah dan cepat sembuh, ± 10 hari bekas operasi telah kering. Kastrasi dengan cara ini pada pedet umur > 3 bulan lebih sulit dan terlalu banyak resikonya, karena adanya pemberontakan. Oleh karena itu, pelaksanaan kastrasi harus menggunakan anestesi.

e. Penghilangan puting ekstra

Puting ekstra atau puting palsu merupakan puting yang pertumbuhnnya lebih kecil atau tidak sempurna dibandingkan dengan keempat puting normal lainnya. Kerugian yang ditimbulkan akibat adanya puting ekstra ini adalah dapat menjadi saluran infeksi penyakit mastitis dan mengganggu pemerahan karena pada umumnya terletak berdekatan atau pada dasar puting utama (AAK, 2007). Menurut Santoso (2003) umur yang tepat untuk melakukan pemotongan puting ekstra adalah > 1 bulan dan < 1 tahun. Hal ini juga diperkuat oleh Syarief dan Sumoprastowo (1990) yang berpendapat bahwa pemotongan puting ekstra dilakukan setelah pedet betina berumur 1-2 bulan.

Cara yang paling baik dengan menyucihamakan sekitar puting yang akan dipotong dengan yodium tinctur, lalu digunting dengan gunting yang tajam dan steril. Sesudah dipotong, lukanya segera diobati dengan yodium lagi. Bila terjadi perdarahan, bagian yang terluka ditekan dengan kapas yang steril (Syarief dan Sumoprastowo, 1990).

PT. Greenfields Indonesia tidak melakukan penghilangan puting ekstra, karena dinilai tidak perlu. Puting ekstra yang terdapat pada sapi-sapi perah setelah dewasa tidak menyebabkan kerugian yang besar, karena pada umumnya tidak berfungsi. Penghilangan puting ekstra justru dinilai lebih merugikan dengan kondisi puting ekstra yang tidak berfungsi tersebut.

f. Pemisahan Pedet jantan dan betina

Pemeliharaan pedet sapi perah jantan dan betina hingga berumur 5 bulan adalah sama. Tetapi, sesudah pedet jantan mencapai umur 6 bulan, cara pemeliharaannya berbeda. Pedet jantan telah mencapai kedewasaan kelamin pada umur 6-8 bulan. Oleh karena itu, pemisahan pedet jantan dan betina perlu dilakukan pedet jantan agar tidak mengganggu pedet-pedet betina (AAK, 2007).

PT. Greenfields Indonesia melakukan pemisahan pemeliharaan antara pedet jantan dan betina pada umur 3 bulan. Hal ini dilakukan karena pada umur tersebut pedet-pedet telah lepas sapih dan pada umur 5 bulan pedet jantan telah dijual ke Probolinggo. Selain pemisahan jantan dan betina, pedet juga dikelompokkan berdasarkan kondisinya (besar, kecil dan sakit).

Pemeliharaan Kesehatan dan Tindakan Biosecurity

a. Tindakan Biosecurity

Peraturan Menteri Pertanian No. 55/Ppermentan/OT. 140/10/2006 dalam Pedoman Pembibitan Sapi Perah yang Baik menyatakan bahwa dalam rangka pengamanan kesehatan setiap pembibitan sapi perah harus memperhatikan hal-hal tindak biosecurity sebagai berikut :

1. Lokasi usaha tidak mudah dimasuki binatang liar serta bebas dari hewan piaraan lainnya yang dapat menularkan penyakit.

2. Melakukan desinfeksi kandang dan peralatan dengan menyemprotkan insektisida pembasmi serangga, lalat dan hama lainnya.

3. Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari satu kelompok ternak ke kelompok ternak lainnya, pekerja yang melayani ternak yang sakit tidak diperkenankan melayani ternak yang sehat.

4. Menjaga agar tidak setiap orang dapat bebas keluar masuk kandang ternak yang memungkinkan terjadinya penularan penyakit.

5. Membakar atau mengubur bangkai sapi yang mati karena penyakit yang menular.

6. Menyediakan fasilitas desinfeksi untuk staf/karyawan dan kendaraan tamu di pintu masuk perusahaan.

7. Segera mengeluarkan ternak yang mati dari kandang untuk dikubur atau dimusnahkan oleh petugas yang berwenang.

8. Mengeluarkan ternak yang sakit dari kandang untuk segera diobati atau dipotong oleh petugas yang berwenang.

Secara umum tindakan biosecurity yang dilakukan oleh PT. Greenfields Indonesia setiap hari adalah membersihkan tempat pakan dan minum, membersihkan milk bar dan dot susu, pembersihan kandang serta penggantian cairan virkon. Syarief dan Sumoprastowo (1990) menyatakan kandang, selokan, tempat pakan dan minum serta peralatan yang digunakan harus selalu dalam keadaan bersih. Sudono (2003) menguatkan pernyataan tersebut dengan pendapat bahwa kandang pedet harus dibersihkan setiap hari, dijaga tetap kering, cukkup cahaya matahari dan cukup baik peredarannya. Cairan Virkon merupakan cairan untuk celup kaki sebelum memasuki area breeding dan pen, baik pen pedet yang sehat maupun yang sakit. Perbandingan campuran desinfektan Virkon®S dan air adalah 1:200-1:100 (0,5-1%).

Program mingguan yang dilakukan adalah penyemprotan desinfektan virkon dua kali dalam seminggu, pembersihkan pipa susu dari old milking parlor serta pembersihan lingkungan kandang seperti membersihkan rumput di sekitar area breeding. Program bulanan juga dilakukan, yaitu pembongkaran bedding dan pembersihan sisa sawdust serta pengapuran pada lantai kandang yang licin/berlumut. Program harian, mingguan dan bulanan Departemen Heifer Raising dapat dilihat pada Lampiran ??.

Pedet yang sakit langsung dipisahkan dari kelompok ternak yang sehat dan ditempatkan pada pen sakit. Pedet yang mati karena sakit maupun proses kelahiran segera dibuang pada tempat pembuangan bangkai. Perlakuan ini sesuai dengan pendapat Sudono (2003) yang menyatakan bahwa pedet-pedet yang menunujukkan tanda-tanda sakit, terutama penyakit menular harus dipisahkan dari pedet-pedet yang sehat dan segera diobati.

Hal lain yang dilakukan adalah pembasmian terhadap lalat dan serangga lainnya, tikus, pinjal, memasang perangkap untuk kucing dan anjing serta burung. Pekerjaan ini dilakukan oleh seorang petugas yang bertanggung jawab atas seluruh area perusahaan dan peternakan serta pabrik. Bahan yang dipakai untuk membasmi lalat adalah spray Agita, Seruni, Mustang dan Nuvat. Untuk larva lalat dipakai Nevorex dan Abate. Untuk tikus dipakai Roden dan lem tikus. Sedangkan untuk burung dipakai jaring perangkap burung yang sangat tipis. Seluruh tindakan biosecurity dan pemeliharaan kesehatan ini dapat dilihat pada Lampiran ???.

b. Pemeliharaan Kesehatan

Pemeliharaan kesehatan dilakukan semenjak pedet lahir. Pemeliharaan kesehatan yang dilakukan di perusahaan ini pada dasarnya sejalan dengan tindakan biosecurity. Pemeriksaan terhadap kondisi pedet dan pengobatan dilakukan oleh seorang dokter hewan dan dibantu oleh beberapa tenaga kesehatan hewan. Pedet-pedet yang sakit yang telah diobati dan sembuh tidak akan dikembalikan ke pen semula karena memiliki potensi untuk membawa dan menularkan penyakit. Tindakan preventif yang dilakukan oleh PT. Greenfields Indonesia adalah :

1. Pemberian obat cacing (deworming) pada umur 3 bulan dengan memakai Dextomax. Pemberian obat cacing dilakukan karena konsumsi pedet terhadap hijauan mulai meningkat. Hijauan tersebut berasal dari lahan pertanian yang kemungkinan membawa benih cacing dan termakan oleh pedet.

2. Vaksin pertama dilakukan pada umur 3 bulan, terdiri dari vaksin RB51, vaksin Bovishield dan vaksin Ultrabac.

3. Vaksin kedua dilakukan pada umur 5 bulan, terdiri dari vaksin Bovishield dan vaksun Ultrabac.

Vaksin diberikan untuk meningkatkan kekebalan tubuh dari kemungkinan adanya penyakit yang mudah menular dan membahayakan, seperti brucella, leptospira sp., clostridium sp., dan sebagainya.

Kasus penyakit yang sering terjadi di Departemen Heifer Raising adalah :

1. Diare

Diare biasanya disebabkan oleh pemberian pakan yang berlebihan, kekurangan vitamin A atau serangan parasit (Santoso, 2002). Bakteri penyebabnya adalah Eicherichia Coli. Blakely dan Bade (1991) menyatakan 10-12% pedet-pedet yang lahir mati dengan gejala diare dalam tenggang waktu 30 hari setelah lahir. Penyebabnya cukup kompleks, mulai dari bakteri, virus, keadaan lingkungan, kepadatan ternak ynag terlalu tinggi, kekurangan kolostrum, terlalu banyak pakan, defisiensi vitamin A dan adanya parasit-parasit.

Tindakan awal yang dilakukan pada pedet-pedet yang terserang gejala diare adalah memberikan elektrolit pada air minumnya, memberikan rennet pada susu dan pengobatan. Obat yang diberikan kepada pedet adalah Pen strep, Engemycin, Vetadryl dan Injectamin. Pedet yang keadaannya semakin parah dipisahkan dari kelompok pedet yang sehat.

2. Pneumonia

Penyakit ini disebabkan oleh Mycoplasma mycoides. Penularannya paling sering terjadi melalui pernafasan. Penyakit pneumonia dapat terjadi karena:

a. Pemberian minum yang salah, menyebabkan pedet tersedak dan batuk. Karena itu, saat memberikan pedet minum susu dengan dot posisinya harus benar.

b. Kandang yang bau dan mengandung gas amonia yang menyengat hidung karena kandang kotor (banyak feses dan urin, lembab, ventilasi kandang yang buruk).

c. Debu yang berasal dari alas kandang (sawdust) atau dari konsentrat yang masuk ke dalam hidung.

3. Infeksi naval/tali pusar

Infeksi naval terjadi karena ketidaktelitian pada saat memasang umbilical klem serta penyemprotan iodosep yang kurang sempurna.

Sistem Pencatatan atau Recording, Seleksi dan Culling

Sistem pencatatan pada departemen Heifer Raising cukup baik. Menurut AAK (2007) pencatatan bermaksud untuk mengumpulkan data penting di dunia peternakan. Pada usaha sapi perah, pencatatan bertujuan untuk menunjang pelaksanaan program yang tatalaksana yang lebih baik, seleksi yang yang lebih ketat dan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Pencatatan harus dilakukan secara rutin, seksama dan intensif.

Pencatatan yang perlu dilakukan adalah (Peraturan Menteri Pertanian No. 55/Permentan/OT. 140/10/2006 dalam Pedoman Pembibitan Sapi Perah yang Baik) :

1. Rumpun, identitas ternak dan sketsa (foto ternak)

2. Identitas, alamat kelompok dan organisasi peternak

3. silsilah, rumpun, identitas tetua, produktivitas dan abnormalitas tetua

4. Perkawinan (tanggal, pejantan, IB/kawin alam, berat kawin)

5. Kelahiran (tanggal, bobot lahir, sex, tipe kelahiran, calving-ease)

6. Beranak dan beranak kembali (tanggal, perlakuan, treatment)

7. Mutasi (pemasukan dan pengeluaran ternak).

Pencatatan seperti yang disebutkan di atas dilakukan seluruhnya di peternakan ini. Beberapa contoh pencatatan dapat dilihat pada Lampiran ??.

Seleksi ialah memilih ternak yang mempunyai sifat-sifat produksi yang tinggi untuk dijadikan bibit bagi generasi yang akan datang (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Proses seleksi yang dilakukan oleh peternakan ini berdasarkan bobot lahir, breed atau bangsa, potensi produksi, sejarah penyakit serta perkembangan pertumbuhan dan tinggi setiap 3 bulan dan 6 bulan sekali. Perusahaan melakukan seleksi dini terhadap pedet-pedet betina.Parameter seleksi dini yang ditetapkan oleh perusahaan adalah :

1. Breed disesuaikan dengan kebutuhan produksi susu. Untuk saat ini pilihan utama breed yang dipelihara adalah Friesien Holstein. Breed yang lainnya adalah Jersey dan Cross.

2. Bobot lahir ≥ 35 kg untuk FH, sedangkan Jersey dan Cross sebesar 27 kg.

3. Kondisi fisik sehat dan normal (tidak menderita cacat bawaan atau cacat lain yang diakibatkan oleh proses kelahiran).

4. Potensi genetik produksi susu induk pedet ≥ 6.000 liter/laktasi.

Pedet-pedet betina yang masuk dalam program seleksi akan diberi tanda permanen pada eartagnya, yaitu irisan segitiga pada dasar eartag dengan menggunakan gunting.

Proses seleksi ini akan diteruskan pada proses culling. Pedet-pedet yang tidak memenuhi persyaratan akan diculling. Culling dilaksanakan pada umur 1,5 tahun. Culling adalah proses pengeluaran ternak yang sudah dinyatakan tidak memenuhi persyratan bibit. Standar culling di PT. Greenfields Indonesia adalah perkembangan pertumbuhan dan tinggi, yaitu :

a. Large size : PBB 0,8-1 kg/hari; PTB 0,02-0,03 cm/hari.

b. Small size : PBB 0,7-0,8/ hari; PTB 0,01 cm/hari.

Manajemen Pemeliharaan Sapi Dara (Heifer)

Heifer merupakan sapi betina mulai umur 6-20 bulan yang pemeliharaannya dilakukan secara terpisah di Probolinggo. Suhu udara Probolinggo yang panas mengakibatkan stress pada sapi karena tidak sesuai dengan karakter hidupnya di daerah dingin. Karena itu, dipasang water sprinkle di kandang untuk menurunkan suhu udara dan mengurangi stress pada sapi. Pemeliharaannya dilakukan secara berkelompok berdasarkan umur dan berat badan untuk mempermudah pemberian pakan dalam kuantitas yang sesuai dan pengawasan terhadap perkembangan pertumbuhan. Jenis pakan yang diberikan dalam bentuk komplit (Ration : Dairy Heifer, dengan kandungan protein 18%). Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah air minum yang bersih harus selalu tersedia setiap saat serta pembersihan kandang dari kotoran setiap hari untuk menciptakan kondisi yang nyaman dan sehat. Setiap bulan dilakukan penimbangan untuk mengetahui perkembangan pertumbuhannya (target PBB harian/average daily gain adalah 0,7 kg/hari).

Pada masa pemeliharaan sebelum heifer dikawinkan, pada umur 12 bulan diberikan vaksinasi kedua yaitu vaksin RB51. Heifer siap dikawinkan ketika mencapai umur 14 bulan dengan bobot badan 350 kg. Perkawinan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

1. Dilakukan penyerentakan birahi dengan program sinkronisasi 1 dengan penyuntikan PgF1.

2. Pengamatan birahi hingga hari ke 5. Sapi yang birahi kemudian di IB.

3. Sapi yang tidak birahi, 1 minggu kemudian disinkronisasi 2 dengan PgF2.

4. Pengamatan terhadap birahi sampai hari ke 5. Sapi yang birahi kemudian di IB.

5. Joint mating dengan pejantan untuk sapi yang tidak menunjukkan birahi.

Setelah 45-60 hari dihitung dari waktu IB atau joint mating, semua sapi diperiksa kebuntingannya. Sapi-sapi yang dinyatakan bunting dikelompokkan hingga umur kebuntingan 4-5 bulan. Sapi-sapi ini diambil darahnya untuk dites darah dengan “Brucella Cart Test”. Bila hasilnya negatif, sapi tersebut dikirim kembali ke Gunung Kawi, sedangkan bila hasilnya positif maka sapi tersebut harus segera dipotong. Sapi-sapi yang lulus seleksi kemudian dikirim kembali ke Gunung Kawi.

Pemeliharaan Sapi Dara Bunting

Sapi dara bunting merupakan sapi dara mulai umur 20-24 bulan yang telah bunting dan dipelihara secara kelompok di Gunung Kawi. Udara yang sejuk dan lebih nyaman memberi kondisi yang lebih baik bagi sapi. Setelah beradaptasi selama ± 2 minggu, dilakukan penggantian eartag dan pemberian magnet ke dalam perut sapi. Tujuan pemberian magnet adalah menangkap bahan-bahan logam yang tajam, seperti paku dan kawat yang ada dalam pakan yang mungkin termakan oleh sapi. Dengan demikian dapat mencegah logam-logam tersebut menusuk dinding perut yang dapat mengakibatkan kematian pada sapi. Pada umur kebuntingan 7 bulan, sapi tersebut diambil darahnya untuk tes brucella di Laboratorium dengan sistem “Elisa Test”. Tes ini dilakukan untuk lebih menjamin sapi benar-benar bebas dari penyakit brucellosis.

Pen

Gambar ??. Eartag biru untuk betina, oranye untuk jantan.

catatan atau recording pada sapi bunting tetap dilakukan untuk mengetahui umur dan kondisi kebuntingan. Sapi dengan umur kebuntingan 255 hari (DCC 255) atau 21 hari menjelang kelahiran akan dikirim ke Departemen Livestock untuk pemeliharaan lebih lanjut hingga melahirkan. Sapi yang berada pada periode ini disebut sebagai sapi bunting transisi. Pakan yang diberikan pada sapi bunting transisi merupakan pakan dengan kandungan nutrisi yang sesuai untuk menghadapi proses kelahiran. Target kelahiran pertama dari dara bunting ini adalah umur 24 bulan dengan bobot badan induk 550 kg.

6 comments

  1. mas boleh minta alamat-alamat perusahaan ternak khususnya ternak susu sapi perah yang ada di jawa timur. kirim ke E-mail saya: habadal_m@plasa.com


  2. apa seh kegunaan recording pada pedet??
    tolong segera kirim jawabannya yaaa…
    makasih,,


  3. assalam…..mas minta contoh laporan praktek kerja lapang manajemen pemeliharaan sapi perah secara keseluruhan. kirim aja ke e-mel saya waldani_ab@ymail.com


  4. salam kenal mas,
    boleh minta daftar perusahaan/peternakan sapi perah di yang tersebar di Indonesia? kalau ada,,
    perlu untuk tugas,, =)

    makasih mas.. -icha-


  5. Salam kenal pak, saya baru memulai ternak sapi perah, untuk pembesaran pedet rencana sd usia setahun lalu dijual, utk itu saya mohon dikirimi artikel manajemen pemeliharaan sapi perah secara keseluruhan via email. terima kasih banyak sebelumnya.


  6. Salalm kenal mas. menarik laporan praktek magang ini, kalo boleh apa bisa di copy mas? sy minta ijin untuk melihat masalah kesehatnnya untuk pemeliharaan pedet sampai lepas sapih. trima kasih bantuannya.

    choliq



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: