Archive for the ‘TUGAS AKHIR’ Category

h1

PEDET SAPI PERAH

July 29, 2008

DITULIS OLEH : JUNAIDI KARO KARO

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perkembangan zaman mengantarkan manusia pada kemajuan pola pikir dan perubahan paradigma untuk meningkatkan kualitas hidup, baik secara fisik maupun psikis. Dalam kondisi masyarakat modern saat ini kebutuhan terhadap makanan yang sehat dan bergizi tinggi memegang peranan yang cukup penting. Masyarakat semakin menyadari arti penting dari produk pertanian, perikanan dan peternakan yang secara umum menyumbangkan bahan pangan bagi kelangsungan hidup manusia. Modernisasi ternyata tidak menggeser inti kehidupan manusia, yaitu pemenuhan terhadap kebutuhan jasmani dan rohani. Seperti pepatah mengatakan “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat”, ini berarti tubuh yang sehat menjadi parameter terhadap jiwa yang sehat.

Salah satu bahan pangan yang saat ini semakin disadari arti pentingnya bagi kesehatan manusia adalah susu. Perlu diingat bahwa susu yang dikonsumsi oleh masyarakat sebagian besar merupakan sumbangan dari ambing sapi perah. Menurut Hadiwiyoto (1983), air susu termasuk bahan pangan hewani, berupa cairan putih yang dihasilkan oleh hewan ternak mamalia dan diperoleh dengan cara pemerahan. Susu merupakan bahan makanan yang tersusun oleh zat-zat makanan yang seimbang (Adnan, 1984). Susu disebut sebagai bahan makanan yang hampir sempurna karena kandungan zat gizinya yang lengkap (Astawan, 2005). Dalam rangka memenuhi kebutuhan susu tersebut dilakukan peningkatan populasi, produksi dan produktifitas sapi perah. Karena itu, bibit sapi perah memegang peranan penting dalam upaya pengembangan pembibitan sapi perah.

Pengembangan pembibitan sapi perah memiliki potensi yang cukup besar dalam rangka mengurangi ketergantungan impor produk susu maupun impor bibit sapi perah. Pembibitan sapi perah sangat tergantung pada keberhasilan program pembesaran pedet sebagai replacement stock. Manajemen pemeliharaan pedet yang optimal sejak lahir sangat diperlukan untuk memperoleh sapi yang mempunyai produksi dan produktifitas yang tinggi yang siap menggantikan sapi yang sudah tidak berproduksi lagi, baik sebagai induk maupun pemacek. Pemeliharaan pedet mulai dari penanganan kelahiran, pemberian identitas, pola pemberian pakan, pemantauan terhadap pertumbuhan dan pertambahan bobot badan, pencegahan dan penanganan terhadap penyakit, serta kebersihan dan fasilitas kandang hingga pedet berumur 8 bulan, sangat mempengaruhi keberhasilan tercapainya pedet sebagai calon bibit unggul pada usaha ternak perah. Menurut Siregar (1996), pedet yang harus dipelihara terus setiap tahunnya untuk peremajaan adalah 30% dari jumlah populasi induk.

Rumusan Masalah

Uraian di atas memberi gambaran betapa pentingnya pengembangan pembibitan sapi perah. Kelangsungan suatu usaha peternakan sapi perah tidak terlepas dari ketersediaan bibit unggul yang diperoleh dari manajemen pemeliharaan pedet yang optimal. Karena itu, permasalahan yang perlu dikaji dalam praktik kerja lapangan adalah manajemen pemeliharaan pedet sapi perah di Departemen Heifer Raising PT. Greenfields Indonesia Unit Gunung Kawi Desa Babadan Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Tujuan

Setiap kegiatan pasti memiliki makna dan tujuan. Secara umum, tujuan praktik kerja lapangan ini adalah untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan dan pemeliharaan sapi perah komersial dan memberikan tempat berlatih, menambah keterampilan, wawasan dan pengalaman mengenai bidang peternakan, khususnya ternak perah serta mempelajari persoalan-persoalan yang ada dan bagaimana mengatasinya, mengenalkan budaya kerja industri/usaha, untuk memperoleh informasi dan pengetahuan baru yang tidak didapatkan melalui perkuliahan serta mendekatkan diri dengan lapangan pekerjaan. Secara khusus, tujuan praktik kerja lapangan untuk mengamati manajemen pemeliharaan pedet sapi perah di PT. Greenfields Indonesia.

Manfaat

Hasil praktik kerja lapangan membuka pemikiran dan memperluas wawasan penulis saat mengamati dan menemukan permasalahan yang ada dalam peternakan sapi perah khususnya pada manajemen pemeliharaan pedet. Penulis dapat membandingkan teori yang diperoleh selama perkuliahan dengan pelaksaannya di lapangan. Penulis memiliki kesempatan memberikan alternatif jalan keluar terhadap permasalahan tersebut berdasarkan pengetahuan yang telah diperoleh selama perkuliahan dan pustaka yang ada. Selain itu, hasil praktik kerja lapangan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan membuka wawasan peternak dan masyarakat dalam peningkatan manajemen pemeliharaan pedet sapi perah serta sebagai bahan pertimbangan dan evaluasi bagi perusahaan tempat penulis melaksanakan PKL.

SARANA PRODUKSI

Luas Lahan dan Penggunaannya

PT. Greenfields Indonesia memiliki lahan seluas

METODE PELAKSANAAN KAJIAN

Tempat dan Waktu

Praktek kerja lapangan ini dilaksanakan selama sebelas minggu, mulai tanggal 18 Februari 2008 sampai dengan tanggal 10 Mei 2008. Lokasi yang dipilih sebagai tempat pelaksanaan PKL adalah perusahaan peternakan sapi perah PT. Greenfields Indonesia Unit Gunung Kawi Desa Babadan Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Metode Pengumpulan dan Analisis Data

Metode yang digunakan dalam pelaksanaan PKL ini adalah metode partisipasi dan observasi untuk mengumpulkan data dan menganalisis data yang telah diperoleh. Peserta PKL terjun secara langsung ke lapangan dan mengikuti seluruh kegiatan dalam perusahaan sesuai jadwal dan batasan yang telah ditetapkan serta melakukan pengamatan secara langsung maupun tidak langsung.

Pengumpulan data dilaksanakan selama kegiatan PKL berlangsung, baik sesuai jadwal maupun di luar jadwal yang tidak mengganggu jadwal yang telah ditetapkan. Pengumpulan data dilakukan dengan mencatat seluruh informasi yang diperoleh melalui tulisan atau pencatatan yang terdapat pada papan pengumuman di setiap departemen, diskusi dengan para pembimbing lapang, penanggung jawab departemen dan karyawan serta pengumpulan data sekunder.

Analisis data dilakukan dengan cara mengamati seluruh pelaksanaan kegiatan yang berlangsung dalam perusahaan dan mempelajari data-data yang telah diperoleh, menemukan permasalahannya dan mencari kesesuaiannya berdasarkan teori yang telah diperoleh dari perkuliahan dan pustaka yang relevan dengan bidang peternakan.

KEADAAN UMUM

Sejarah Perusahaan Peternakan Sapi Perah PT. Greenfields Indonesia

PT. Greenfields Indonesia Unit Gunung Kawi berdiri pada tanggal 14 Maret 1997 untuk membantu menyediakan susu berkualitas tinggi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Pada awal berdirinya perusahaan ini bernama PT. Prima Japfa Jaya. PT. Prima Japfa Jaya merupakan kerjasama antara koperasi Bina Sentosa yang menanam saham sebesar 52% dengan PT. Santosa Agrindo yang menanam saham sebesar 48%. Perusahaan ini mendirikan peternakan di dusun Maduarjo desa Babadan, Gunung Kawi, Malang, Jawa Timur. Lokasi ini dipilih karena sangat sesuai untuk pemeliharaan sapi-sapi FH; udaranya segar, bersih dan sejuk.

Awalnya, PT. Prima Japfa mendatangkan 90 ekor sapi perah bangsa Friesian Holstein (FH) dari Australia yang langsung dibawa ke lokasi perusahaan. Pengiriman menghadapi banyak kendala karena lokasi perusahaan cukup terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk. Jalan yang dilalui berupa jalan-jalan yang berbatu sehingga sangat menyulitkan untuk transportasi dan kendaraan roda empat. Kendala lain yang dihadapi adalah fasilitas air, listrik dan jaringan telepon yang sangat sulit. PT. Prima Japfa pada awalnya merupakan satu grup dengan Java. Kemudian melepaskan diri dari Java dan bergabung dengan Austasia. Pada tahun 2000 PT. Prima Japfa berubah nama menjadi PT. Greenfields Indonesia.

PT. Greenfields Indonesia terbagi menjadi 2 divisi, yaitu peternakan dan industri susu dengan manajemen yang terpisah. Pengolahan susu didirikan pada pertengahan tahun 1997, tetapi mulai berproduksi pada bulan Juni tahun 2000. Pabrik ini merupakan pabrik pengolahan susu modern yang dihubungkan langsung dengan ruang mesin pemerahan. Susu yang berasal dari peternakan langsung didinginkan dan dikirim untuk diolah tanpa sentuhan tangan manusia secara langsung. Perusahaan ini menjaga kualitas gizi dan kehigienisan produk susu yang dihasilkan.

Pada tahun 1998 perusahaan membangun sistem pemerahan Milking Parlour (Boumatic-USA) dengan kapasitas 24 ekor per pemerahan. Saat ini perusahaan telah memiliki Milking Parlour dengan kapasitas 40 ekor per pemerahan dan sedang melakukan pembangunan Milking Parlour baru dengan kapasitas yang sama. Bulan September 2002 PT. Greenfields Indonesia meresmikan Milk Treatment. PT. Greenfields Indonesia memproduksi dan mengemas susu pasteurisasi, ESL dan UHT dalam berbagai jenis kemasan tetra wedge untuk pasar lokal dan ekspor, antara lain berbagai produk private label. PT. Greenfields Indonesia mengekspor susu-susu tersebut ke Singapura, Malaysia, Hongkong, Cina, Nigeria dan Australia.

Lokasi Perusahaan Peternakan Sapi Perah PT. Greenfields Indonesia

Perusahaan Peternakan Sapi Perah PT. Greenfields Indonesia terletak di Dusun Maduarjo, Desa Babadan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Perusahaan ini berada di lereng Gunung Kawi pada ketinggian 1.100-1.200 meter di atas permukaan laut, dengan suhu udara rata-rata 180C. Lokasi perusahaan ini cukup ideal sebagai peternakan sapi perah bangsa FH (Friesian Holstein) karena sapi FH dan PFH (Peranakan Friesian Holstein) akan baik diternakkan di daerah yang tinggi dengan temperatur berkisar antara 15-210C (Syarief dan Sumoprastowo, 1984). Curah hujan di lokasi perusahaan cukup tinggi, yaitu sekitar 2.750-3.200 mm/tahun dengan kelembaban sebesar 45%.

Letak perusahaan dari pemukiman penduduk tidak kurang dari 2 km. Wilayah perusahaan dibatasi oleh tembok setinggi 2,5 meter dan pagar besi setinggi 2 meter sebagai pintu masuk pada bagian depan perusahaan. Batas wilayah bagian Utara adalah Gunung Kawi, sebelah Selatan adalah Desa Jambuer, sebelah Barat adalah Dusun Gendogo dan sebelah Timur adalah Kecamatan Precet. Jarak tempuh dari kota Malang ke perusahaan ini ± 40 km.

Struktur Organisasi

Perusahaan peternakan sapi perah PT. Greenfields Indonesia memiliki struktur organisasi yang tertata. Struktur organisasi ini sering mengalami perubahan karena adanya penyesuaian dengan manajemen yang berubah hampir setiap tahun atau pergantian manajer divisional. Hal ini terjadi karena PT. Greenfields masih baru sehingga manajemen dan perkembangannya belum stabil. Secara umum struktur organisasi PT. Greenfields Indonesia ditunjukkan pada Gambar 1.

HR & GA Dept. Head

 

Agus Salim

Head of Dairy Farm

 

Yuliantoni Queen

F & A

Dept. Head

 

Irmansyah

MA Dept. Head

 

 

Harijanto

HIS Section Head

 

Kristiyan Sunarsih

Nutritionist, QA & QC Dept. Head

 

Alex Wibowo

Sales Dept. Head

 

 

Yuliantoni Queen

Heifer Raising Dept. Head

 

Din Satriawan

Vet. Service Dept. Head

 

Setiyanto

Procurement Dept. Head

 

Hendro Santoso

Co-operation Dept. Head

 

M. Endro Widoto

Production Dept. Head

 

Catur Nugroho

KEGIATAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

Manajemen Pemeliharaan Pedet

Pendahuluan

Pada awal berdirinya PT. Greenfields Indonesia mengimpor bibit sapi perah unggul dari Australia dua kali dalam setahun. Dalam upaya mengurangi ketergantungan dengan bibit sapi perah impor, maka sejak tahun 2005 perusahaan ini mulai melakukan program rearing atau unit pembesaran pedet untuk memenuhi peremajaan sapi betina yang tidak produktif lagi (replacement) dan peningkatan populasi di tingkat peternak, yang saat ini berada di bawah Departemen Heifer Raising. Departemen Heifer Raising bertanggung jawab atas pemeliharaan pedet yang baru lahir hingga menjadi induk siap melahirkan (umur kebuntingan 254 hari). Pada program ini yang paling utama adalah ketersediaan pedetnya, karena itu sapi induk yang efektif dalam reproduksi harus dipersiapkan terlebih dahulu. Dalam program pembesaran, pedet dipelihara sampai siap kawin. Sapi dara ini kemudian diinseminasi buatan (kawin suntik), lalu siap menggantikan sapi yang tidak produktif lagi.

Pada umumnya manajer peternakan sapi perah melakukan culling 25-30% dari populasi yang ada. Sapi diculling karena berbagai alasan, umumnya : 23% karena produksi yang rendah, 13% karena masalah reproduksi, 8% karena mastitis, 28% karena adanya luka-luka, 5% karena kematian, 8% karena pemerahan, dan 15% karena posisi yang salah, ketosis dan alasan lainnya (Schmidt, et. al., 1988). Karena itu, diperlukan replacement stock yang akan menggantikan sapi-sapi yang telah diculling. Alternatif menyediakannya ada dua, yaitu membesarkan sendiri replacement stock atau membeli replacement stock dari peternakan lain. Membesarkan sendiri seperti yang dilakukan oleh PT. Greenfields Indonesia menurut Schmidt, et. al. (1988) memiliki beberapa keuntungan, yaitu :

1. Membesarkan biasanya lebih murah dibandingkan membeli heifer dengan kualitas yang sama.

2. Genetik keturunannya dapat diketahui dengan pasti.

3. Kesempatan penyakit masuk dan menyebar ke dalam kelompok ternak lebih kecil.

4. Perkembangan pertumbuhan dapat dibatasi.

5. Umur dan musim perkawinan dapat diatur.

6. Pejantan yang digunakan sebagai pemacek dapat dipilih.

7. Pengawasan kesehatan dan program vaksinasi dapat dilakukan tepat pada waktunya.

Teknis Program Departemen Heifer Raising

Dalam pelaksanaan rearing, pedet betina dipelihara di PT. Greenfields Indonesia unit Gunung Kawi mulai dari lahir hingga lepas sapih pada umur 6 bulan untuk betina dan 4-5 bulan untuk yang jantan. Pedet jantan dan betina yang telah lepas sapih dan kondisinya sehat dikirim ke Probolinggo. Pedet jantan dijual dan akan dipelihara lebih lanjut. Pedet betina dipelihara hingga berumur 14 bulan dengan bobot badan sekitar 350 kg. Sapi dara ini siap dikawinkan. Setelah umur kebuntingan ± 5 bulan, heifer ini dikembalikan lagi ke Gunung Kawi. Dara bunting dengan umur kebuntingan 255 hari (21 hari menjelang kelahiran) masih menjadi tanggung jawab departemen Heifer Raising, setelah itu menjadi tanggung jawab Departemen Livestock (Farm).

Prediksi dan kalkulasi dari program reproduksi PT. Greenfields Indonesia adalah 150 ekor pedet/bulan. Prediksi ini bila tepat akan memenuhi target kelahiran yang ditetapkan oleh departemen Heifer Raising. PT. Greenfields Indonesia menetapkan replacement stock yang harus tersedia adalah 15-20% dari populasi induk. Persentase ini di bawah persentase optimal yaitu 30% dari populasi induk (Siregar, 1996). Persentase mortalitas yang ditoleransi pada tahun 2007 hingga saat ini adalah 3% untuk pedet berumur <3 bulan dan 1% untuk yang berumur 3-6 bulan. Seleksi dilakukan pada seluruh pedet yang lahir, pedet berumur 3 bulan dan 6 bulan untuk memastikan bahwa pedet-pedet yang dipelihara memenuhi spesifikasi sebagai induk yang berkualitas.

Pemeliharaan Induk yang Akan Melahirkan

Induk yang akan melahirkan dipisahkan dari sapi betina lainnya dan ditempatkan pada kandang yang dapat diawasi dengan seksama agar dapat dibantu dengan segera bila sapi-sapi tersebut membutuhkannya. PT. Greenfields Indonesia menempatkan sapi-sapi yang akan melahirkan pada kandang khusus, yaitu kandang maternity. Sapi-sapi yang yang diperkirakan dua hari lagi akan melahirkan segera dipindahkan ke kandang ini. Pengecekan terhadap sapi-sapi bunting tua dilakukan setiap hari untuk menghindari terjadinya kelahiran pada kandang kelompok sapi dewasa.

Kandang maternity disebut juga kandang 2B, memiliki luas 94,8 m2 (12 m x 7,9 m) dan 47,4 m2 (6 m x 7,9 m) dengan tipe beach barn. Kandang maternity merupakan kandang kelompok dengan kapasitas ???? ekor sapi dewasa yang akan melahirkan, baik dara maupun laktasi >1. Alas atau bedding yang dipergunakan adalah sawdust. Kandang ini letaknya bersebelahan dengan kandang 2A, yaitu kandang kelompok yang diperuntukkan bagi pedet yang memasuki weaning programme (program sapih).

Pemeliharaan Pedet yang Baru Lahir

Pedet adalah anak sapi yang baru lahir hingga umur 8 bulan (AAK, 2007). Pedet yang baru lahir membutuhkan perawatan khusus, ketelitian, kecermatan dan ketekunan dibandingkan dengan pemeliharaan sapi dewasa. Pemeliharaan pedet mulai dari lahir hingga disapih merupakan bagian penting dalam kelangsungan suatu usaha peternakan sapi perah. Kesalahan dalam penanganan dan pemeliharaan pada pedet muda dengan umur 0-3 minggu dapat menyebabkan pedet mati lemas saat lahir, lemah, infeksi dan sulit dibesarkan.

Pedet yang baru lahir harus diletakkan pada tempat yang kering, nyaman dan bersih. Hal ini untuk menjaga agar pedet terhindar dari kontaminasi kuman penyakit. Penanganan pedet segera setelah lahir harus dilakukan untuk memastikan pedet tersebut dalam kondisi yang baik. Segera setelah lahir, lendir yang ada di ujung hidung dan moncong dibersihkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Santoso (2002), bahwa pedet yang baru lahir perlu dibersihkan lendir atau cairan yang masih melekat pada bulu dan tubuh pedet terutama pada bagian mulut dan hidung yang bertujuan untuk memperlancar pernafasannya. Apabila pedet sulit bernafas maka pedet ditolong menggunakan nafas buatan dengan cara mengangkat kedua kaki belakang dan membiarkan kepala ke bawah, kemudian dibalik. Perlakuan ini sesuai dengan pendapat Syarief dan Sumoprastowo (1990). Nafas buatan dapat dilakukan juga dengan cara membaringkan pedet, kemudian dilakukan massage (pijat) sampai pada anggota kaki. Cara lain untuk menolong pedet yang kesulitan bernafas adalah dengan menyiram pedet menggunakan air dingin atau menarik lidahnya agar bernafas dengan normal (AAK, 2007). Akan tetapi, kedua hal ini tidak dilakukan di PT. Greenfields Indonesia.

Penanganan selanjutnya yaitu memeriksa kondisi tubuh pedet apakah normal, cacat atau lemah serta jenis kelaminnya jantan atau betina. Pedet berkelamin jantan diberi eartag berwarna oranye sedangkan betina berwarna biru. Pada kondisi cuaca yang dingin, pedet yang baru lahir dikeringkan dengan lap bersih disertai dengan menggosok kulitnya atau induknya diberikan kesempatan untuk menjilatinya agar pedet tersebut tidak kedinginan. Menurut Syarief dan Sumoprastowo (1990), gosokan atau jilatan pada kulit pedet merangsang peredaran darah pada permukaan kulit sehingga badan anak sapi menjadi hangat. Setelah itu berikan iodine 7% dengan spray (semprot) atau dipping (celup) pada naval (tali pusar) dan diberi alat umbilical klem dengan jarak ± 5 cm dari tubuh untuk menutup jalan masuk bakteri melalui tali dan memutuskannya di kemudian hari bila sudah mengering (Schmidt, et. al., 1988).

Pedet yang sehat mulai dapat berdiri dan berjalan untuk menyusu kepada induknya setelah 30-60 menit sesudah lahir (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Pedet yang baru lahir diberikan kolostrum sebanyak tiga liter dari pemerahan pertama setelah induk melahirkan. Pemberiannya dilakukan satu jam setelah lahir menggunakan dot susu. Perlakuan ini didukung oleh pendapat Blakely dan Bade (1998), yang menyatakan bahwa satu jam setelah lahir pedet harus mendapat kolostrum sebanyak dua kg. Pedet yang baru lahir hanya diberikan kesempatan bersama dengan induknya selama satu jam, kemudian segera dipisahkan. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat AAK (2007) yang menyatakan pedet yang baru lahir lebih baik dibiarkan bersama induknya selama 24-36 jam untuk memberikan kesempatan memperoleh susu pertama. Bila lebih dari dua hari pedet dapat terkena “salah cerna”. Namun, pedet yang kondisinya masih lemah dapat dibiarkan bersama induknya sampai berumur lebih dari tiga hari (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Pedet yang telah dipisah dari induknya ditempatkan pada kandang individual. Jika kandang individual tidak mencukupi, maka kandang kelompok yang dibagi dua menjadi alternatif pilihan.

Prosedur Serah Terima Pedet

Pedet yang baru lahir merupakan tanggung jawab Departemen Veteriner Service sampai 1 jam setelah kelahiran. Setelah itu pedet dipisahkan dari induknya dan menjadi tanggung jawab Departemen Heifer Raising hingga dara bunting. Pengiriman pedet dilakukan oleh kedua belah pihak yang disertai dengan surat bukti pengiriman pedet. Surat bukti ini memuat informasi nomor induk pedet, jam kelahiran, bobot lahir, jenis kelamin dan kondisi pedet (Lampiran ???). Seluruh data tersebut akan masuk ke bagian HIS. Enam jam setelah kelahiran, pedet yang telah menjadi tanggung jawab Departemen Heifer Raising akan diamati kondisinya. Kondisi umum pedet yang diamati, yaitu lemah (LM), membran tali pusar putus total (TPPT), pendarahan tali pusar (PTP), abnormalitas temporer (ABT), cacat permanen (CP) dan gangguan lain (GL).

Kolostrum

Kolostrum adalah sekresi dari kelenjar susu (mammary gland) 24 jam pertama setelah melahirkan (Jim, 2001). Kolostrum sangat berbeda dengan susu biasa dalam hal kandungan, sifat fisik dan fungsinya. Susu transisi adalah sekresi dari kelenjar susu dari 24 sampai 72 jam setelah melahirkan. Kolostrum juga berbeda dengan susu transisi. Kolostrum mengandung vitamin A, B, D, mineral, kadar lemak yang tinggi dan antibodi (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Kolostrum juga mengandung lebih banyak bahan kering dan protein. Antibodi dalam kolostrum dikenal dengan immunoglobulin, yang menyediakan kekebalan pasif bagi pedet. Karena itu, immunoglobulin sangat penting terutama 24 jam setelah pedet dilahirkan. Tabel 1 menampilkan perbedaan kandungan kolostrum, susu transisi dan susu biasa.

Tabel 1. Komposisi Kolostrum, Susu Transisi dan Susu Biasa Pada Sapi

Komposisi Susu

Pemerahan ke -

1

2

3

5

11

Kolostrum

Susu Transisi

Susu Biasa

Specific Gravity

1.056

1.040

1.035

1.033

1.032

Bahan Kering (%)

23.9

17.9

14.1

13.6

12.9

Protein (%)

14.0

8.4

5.1

4.1

3.1

Casein (%)

4.8

4.3

3.8

2.9

2.5

IgG (g/L)

48

25

15

0.1

0.6

Lemak (%)

6.7

5.4

3.9

4.3

3.5

Laktosa (%)

2.7

3.9

4.4

4.7

5.0

Mineral (%)

1.11

0.95

0.87

0.81

0.74

Sumber : J. W. Crowley, N. A. Jorgensen dan W. T. Howard, 1993, Wis. Ext. Bull. A1485

Peternakan ini memberikan kolostrum kepada pedet-pedet yang baru lahir 1 jam setelah lahir, kemudian 6 jam setelah pemberian pertama dan 6 jam setelah pemberian kedua masing-masing sebanyak 3 liter. Tujuan pemberian kolostrum segera sesudah lahir adalah (Syarief dan Sumoprastowo, 1990) :

1. Menggertak alat-alat pencernaan pedet supaya mengeluarkan kotoran pertama yang disebut “tahi gagak”. Bila dalam 2 jam setelah pemberian kolostrum pedet tidak mengeluarkan kotoran, perlu dibantu dengan menyemprotkan campuran sabun dengan air hangat melalui anusnya. “Tahi gagak” yang tidak keluar menyebabkan kondisi pedet buruk, nafsu minum susu rendah dan lesu. Hal ini belum pernah terjadi dalam manajeman peternakan.

2. Menggertak ambing untuk mulai berfungsi karena adanya rangsangan yang menyenangkan dari pedet yang menyusu.

3. Pedet mendapat antibodi dari air susu induknya. Kolostrum merupakan makanan yang bergizi tinggi sehingga dikatakan sebagai nutrisi primer bagi pedet. Kandungan laktosa yang rendah merupakan indikasi bahwa kolostrum dapat mencegah diare pada pedet muda. Sebelum menyusu, ambing hendaknya dibersihkan dahulu dengan air hangat. Lebih baik lagi dicampur dengan larutan kaporit untuk mencegah terjadinya infeksi pada pedet yang baru lahir dan mencegah terjadinya mastitis pada ambing induk.

Kondisi kolostrum yang bagus adalah lebih kental dan berwarna putih kekuningan seperti krim. Kolostrum yang akan diberikan kepada pedet terlebih dahulu diperiksa kualitasnya dengan cara mengukur kadar immunoglobulin (IgG) dengan alat yang disebut kolostrometer. Pada kolostrometer terdapat tiga daerah berwarna. Kolostrum yang mengenai daerah berwarna merah tidak boleh diberi kepada pedet, karena kadar IgG nya sangat rendah. Cara pengukuran kadar IgG kolostrum dapat dilihat pada Gambar ?. Menurut Jim (2001) pengukuran kadar IgG kolostrum dengan kolostrometer akan memberi hasil optimal pada saat temperatur kolostrum 22oC. Hal serupa dilakukan juga oleh perusahaan peternakan ini. Kelebihan kolostrum disimpan dalam lemari es untuk digunakan pada saat kekurangan.

Sistem Perkandangan

Kandang merupakan tempat tinggal ternak setiap hari yang harus memberi kenyamanan, keamanan dan kesehatan bagi ternak serta mempermudah tatalaksana pemeliharaan ternak bagi peternak (AAK, 2007). Keberhasilan suatu usaha peternakan ditentukan juga olah perkandangan yang memenuhi persyaratan. Oleh karena itu, kandang yang dipakai dalam manajemen pemeliharaan pedet harus benar-benar diperhatikan desain dan tujuan penggunaannya. Sistem kandang yang dipergunakan dalam peternakan ini ada dua macam, yaitu kandang sistem individual dan kandang sistem kelompok.

a. Kandang sistem individual

Kandang sistem individual disebut juga box stall, yaitu kandang berukuran kecil yang dibuat terpisah satu dengan yang lainnya. Box stall merupakan tempat untuk pedet sejak lahir hingga berumur 4 bulan (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Keuntungan dari kandang sistem individual adalah (Schmidt, Vleck dan Hutjens, 1988) :

1. Pemberian pakan dan minum setiap individu dapat dipantau dengan jelas.

2. Perkembangan setiap individu dapat terawasi lebih baik.

3. Penyebaran penyakit dapat dicegah dan diperkecil.

Kerugiannya adalah :

1. Membutuhkan lahan yang cukup luas.

2. Membutuhkan tenaga kerja dan waktu yang lebih banyak untuk memberikan minum, pakan, cek dan treatment.

Kandang sistem individual yang dipakai pada PT. Greenfields Indonesia ada 2 macam, yaitu untuk umur 0-5 hari dan untuk umur 0-3 bulan (disebut kandang SH 1/Super Hutch 1).

Kandang sistem individual untuk pedet berumur 0-5 hari tidak memenuhi syarat. Hal ini disebabkan oleh jumlah box stall yang sangat kurang. Box stall yang tersedia hanya 25 buah, sementara kelahiran setiap bulannya ± 120 ekor. Jadi, apabila box stall sudah terisi seluruhnya maka alternatifnya adalah kandang sistem kelompok yang dibagi 2 bagian. Akibat dari kekurangan ini adalah tidak adanya istirahat kandang yang sangat penting untuk menjaga kehigienisan lingkungan kandang. Kandang sistem individual ini memilliki ukuran p x l x t : 1,5 m x 0,75 m x 0,7 m. Kandang terbuat dari besi dan bedding yang dipergunakan adalah jerami rumput. Bedding adalah alas lantai kandang yang berasal dari sebuk gergaji, jerami yang dicincang ataupun bahan lainnya (AAK, 2007). Siregar (1996) menyatakan bahwa ukuran kandang sistem individual untuk pedet adalah p x l x t : 2 m x 1,2 m x 1 m. Kandang sistem individual yang hangat terbuat dari kayu. Kehangatan dibutuhkan oleh pedet untuk kesehatannya (Syarief dan Sumoprastowo, 1990).

Kandang sistem individual SH1 berjumlah 52 unit, tetapi yang dipergunakan hanya 18 unit karena terjadi kerusakan. Kandang SH1 terbuat dari kayu dengan ukuran p x l x t : 2,45 m x 1,2 m x 1,3 m. Kandang SH1 sudah memenuhi syarat dalam hal umur penggunaan dan bahannya, namun ukurannya belum memenuhi syarat. Dengan demikian sistem perkandangan indiviual yang ada di PT. Greenfields Indonesia belum memenuhi syarat.

b. Kandang sistem kelompok

Kandang sistem kelompok memiliki keuntungan :

1. Tidak membutuhkan lahan yang luas.

2. Mudah melakukan pemberian pakan dan minum.

3. Mudah dalam melakukan treatment.

Kerugiannya adalah :

1. Sulit untuk mengontrol jumlah pakan dan minum yang dikonsumsi setiap individu.

2. Kesulitan untk mengontrol dan mencegah penyebaran penyakit.

Pen yang akan dipakai untuk pedet yang baru lahir disiapkan terlebih dahulu dengan cara :

1. Sawdust dari pemakaian yang lama dibersihkan.

2. Alas tanah dan pasir didesinfeksi dengan semprotan Long Life 250s.

3. Taburkan kapur gamping sebanyak 5 kg/pen.

4. Diamkan dan istirahatkan selama 1 minggu.

5. Pasang sawdust dan jerami rumput yang bersih.

Kandang sistem kelompok untuk pedet yang baru lahir dibagi menjadi 2 bagian setiap pen nya. Ukuran setiap pen adalah p x l : 7,35 m x 6 m. Setiap pen diisi oleh 12-14 ekor pedet. Pedet akan terus dipelihara hingga berumur 1 bulan. Kelompok pedet ini disebut SH2 (Super Hutch 2). Menurut AAK (2007) pedet yang berumur ≥ 1 bulan yang dipelihara dalam kandang sistem kelompok membutuhkan luasan 1m2/ekor dengan kapasitas 4 ekor/kelompok. Ukuran kandang tersebut sudah memenuhi syarat, tetapi kapasitas dalam tiap pen masih terlalu besar dan belum memenuhi syarat.

Alas atau bedding yang dipakai untuk pedet berumur 0-1 minggu adalah sawdust (serbuk gergaji) pada ¼ bagian depan dan jerami rumput pada ¾ bagian sisanya. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa sawdust cepat menyerap cairan sehingga bagian depan yang banyak digunakan untuk aktifitas pemberian susu tetap terjaga kekeringannya serta sawdust lebih mudah dalam pencegahan pinjal. Sedangkan pemakaian jerami untuk mencegah banyaknya debu yang beterbangan di sekitar kandang pedet yang dapat mengakibatkan pneumonia. Setelah itu, alas yang dipakai secara keseluruhan adalah sawdust hingga berumur 1 bulan. Sawdust akan diganti setelah terlihat kotor, yaitu ± 4 minggu.

Pedet yang tergolong SH1 (1-3 bulan) yang dipelihara secara kelompok, ditempatkan di kandang 2A yang bersebelahan dengan kandang melahirkan. Jumlahnya 12 pen dengan kapasitas/pen 12-14 ekor dan ukuran p x l : 7,9 m x 6 m. Ukuran tersebut sudah memenuhi syarat karena luasan yang dibutuhkan per ekor pedet berumur 8-12 minggu adalah 1,5m2/ekor (AAK, 2007). Pedet yang berumur 3-6 bulan disebut SH0. Pedet-pedet ini dipelihara terpisah dari kelompok pedet muda karena telah lepas sapih. Jumlahnya 10 pen dengan kapasitas setiap pen 12-15 ekor dan ukuran p x l : 13,15 m x 7 m. Bedding yang digunakan pada kandang SH1 dan SH0 adalah pasir. Bedding dibersihkan dan diratakan sekali sehari pada pagi hari.

Manajemen Pemberian Pakan dan Weaning Programme (Program Sapih)

a. Pemberian susu

Pedet yang baru lahir diberi kolostrum seperti yang telah diuraikan di atas. Setelah pemberian kolostrum dilanjutkan dengan pemberian susu fresh dan susu biasa hingga lepas sapih. Perbandingan jumlah penberian susu fresh dan susu biasa dapat dilihat pada tabel ?.

Tabel ?. Program pemberian susu pada pedet sapi perah umur 1-6 hari

Hari

Pemberian Susu

Pagi

Sore

1

100% Fresh

100% Fresh

2

10% Susu

90% Fresh

20% Susu

80% Fresh

3

30% Susu

70% Fresh

40% Susu

60% Fresh

4

50% Susu

50% Fresh

60% Susu

40% Fresh

5

70% Susu

30% Fresh

80% Susu

20% Fresh

6

90% Susu

10% Fresh

100% Susu

Sumber : Departemen Heifer Raising PT. Greenfields Indonesia, 2008

Keterangan :

§ Susu fresh adalah susu yang berasal dari induk-induk yang baru melahirkan hingga 5 hari setelah melahirkan.

§ Susu biasa adalah susu yang berasal dari sapi-sapi sakit yang tidak menjalani treatment dan treatment yang tidak mengandung antibiotik.

Susu yang diberikan kepada pedet harus pada suhu 350-400C. Hal ini sesuai dengan pendapat Blakely dan Bade (1991) yang menyatakan bahwa susu atau pengganti susu harus diberikan dengan suhu yang sama dengan suhu susu yang berasal dari ambing induknya, yaitu 35-380C. Calf Milk Replacer (CMR) atau susu pengganti merupakan alternatif apabila terjadi kekurangan susu. Pemberiannya lebih diutamakan untuk sapi-sapi berumur > 15 hari. Susu pengganti yang dipakai oleh PT. Greenfields Indonesia adalah Calvolac dengan perbandingan CMR : air hangat adalah 1 kg : 8 liter.

Pemberian susu dilakukan 2 kali, yaitu pagi dan sore hari sebanyak 3 liter/ekor tiap pemberian dengan menggunakan milk bar. Pedet-pedet yang belum mengerti diberi dengan menggunakan dot sambil dilatih agar terbiasa menggunakan milk bar. Caranya dengan membasahi tangan dengan susu, masukkan ke dalam mulutnya lalu dengan perlahan-lahan pedet didekatkan pada nipple milk bar dan lepaskan tangan dari mulut pedet. Melatih pedet minum susu dengan cara seperti tersebut sesuai dengan pendapat Syarief dan Sumoprastowo (1990).

Pada saat pemberian susu yang perlu diperhatikan adalah (Departemen Heifer Raising PT. Greenfields Indonesia, 2007) :

1. Peralatan yang dipakai untuk minum susu harus selalu bersih.

2. Susu yang diberikan harus dalam kondisi hangat-hangat kuku.

3. Perhatikan setiap individu, awasi pedet yang terlihat lemah dan sakit.

4. Lakukan desinfeksi dengan menyemprot iodosep pada tali pusar setiap pedet yang belum kering dan putus.

5. Pastikan setiap pedet meminum susu dengan cukup.

6. Setelah pemberian susu selesai, seluruh peralatan dibersihkan dengan menggunakan desinfeksi tipol dan air hangat kemudian bilas dan keringkan.

b. Pemberian konsentrat dan hijauan

Pedet mulai diperkenalkan dengan konsentrat pada umur 1 minggu dan hijauan pada umur 10 hari. Konsentrat yang diberikan adalah calf 1, sedangkan hijauannya adalah star grass yang telah dikeringkan dalam bentuk jerami. Pakan calf 1 yang diberikan merupakan campuran konsentrat dan molases dengan perbandingan 5 kg : 1 liter. Air minum diberikan secara ad libitum dan selalu tersedia dalam keadaan bersih. Syarief dan Sumoprastowo (1990) menyatakan bahwa air minum sebaiknya dilakukan secara ad libitum. Air minum diganti dan tempatnya dicuci setiap 2 kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore hari. Konsentrat dan hijauan tersedia setiap saat dan selalu diberikan dalam keadaan fresh atau baru. Hal ini sesuai dengan pendapat Blakely dan Bade (1991) yang mengungkapkan pakan starter dan jerami kualitas tinggi mulai diberikan pada umur 7 hari dan harus tersedia setiap saat dalam keadaan segar. Demikian halnya dengan air minum harus tersedia dalam keadaan segar dan bersih.

Pedet yang berumur 3 bulan mulai diberikan pakan calf 2 secara bertahap. Pemberian pakan akan terus dilanjutkan kepada pakan calf 3. Pakan calf 3 diberikan kepada pedet betina pada umur 4 bulan dan pedet jantan pada umur 5 bulan. Setiap kali penggantian pakan selalu dilakukan secara bertahap selama 1 minggu hingga menjadi pakan calf 2 penuh atau calf 3 penuh. Tahapan penyesuaiannya sama dengan proses transisi susu fresh kepada susu biasa. Penggantian pakan tidak dilakukan secara mendadak, karena dapat menyebabkan stress dan penurunan intake pedet.

c. Weaning Programme (Program Sapih)

Menyapih berarti menghentikan pemberian susu yang berasal dari induk sendir atau pun dari induk lain. Tujuan penyapihan adalah untuk menghemat biaya pembesaran pedet dan meningkatkan volume susu yang dijual (AAK, 2007).

Syarat untuk pedet boleh masuk dalam weaning programme adalah (Departemen Heifer Raising PT. Greenfields Indonesia, 2007) :

1. Pedet berumur ≥ 75 hari atau 2,5 bulan.

2. Bobot badan pedet ≥ 90 kg.

3. Konsumsi pakan calf 1 mencapai 1-1,5 kg/ek/hari. Menurut Blakely dan Bade (1991), salah satu syarat pedet dapat disapih adalah konsumsi pakan starter harus mencapai 0,75-1 kg/ek/hari.

4. Kondisi fisik pedet secara keseluruhan sehat.

Pemberian susu akan dikurangi secara bertahap seiring dengan penambahan kuantitas konsentrat dan hijauan. Hal serupa juga diungkapkan oleh Siregar (1996), bahwa pemberian susu pada pedet harus berangsur-angsur dikurangi sampai pedet disapih. Pemberian susu kepada pedet yang berumur 2 bulan mulai dikurangi, sedangkan jumlah konsentrat dan hijauan akan terus ditingkatkan hingga pedet lepas sapih pada umur 3 bulan. Pada umumnya penyapihan pedet sapi perah dilakukan pada umur 3-4 bulan dengan mempertimbangkan kondisi pedet. Pedet yang kecil dan lemah dapat ditunda penyapihannya hingga umur 4 bulan (AAK, 2007). Menurut Santoso (2002), penyapihan pada pedet juga perlu mempertimbangkan kondisi dan umur pedet, sebab saluran alat pencernaannya berbeda dengan sapi dewasa.

Pakan yang diberikan kepada pedet akan terus meningkat kepada calf 2 dan calf 3 hingga pedet tersebut dikirim ke Probolinggo. Pedet yang telah melewati weaning programme akan dipelihara lebih lanjut pada kandang terpisah selama 2-3 bulan lagi sebelum dikirim ke Probolinggo. Pedet betina akan dipelihara lebih lanjut, sedangkan pedet jantan dijual untuk digemukkan. Tabel ?. merupakan pedoman pemberian susu dan pakan pedet.

Tabel ?. Pedoman Pemberian Susu dan Pakan Pedet Hingga Lepas Sapih

Umur (hari)

1-14

15-25

26-36

37-47

48-58

59-69

70-80

81-90

Susu (ltr/ek/hr)

4-6

6

6

6

6

5

4

2

Konsentrat (kg/ek/hr)

0,050

0,075

0,125

0,250

0,250

0,500

0,800

1,000

Hijauan (kg/ek/hr)

ad lib

ad lib

ad lib

ad lib

ad lib

ad lib

ad lib

Sumber : Departemen Heifer Raising PT. Greenfields Indonesia, 2008

Keterangan :

§ Ad lib = ad libitum (tidak terbatas)

Perlakuan Pemeliharaan Pada Pedet Jantan dan Betina

a. Penimbangan Bobot Badan

Penimbangan bobot badan tidak dilakukan setiap bulan secara teratur. Penimbangan bobot badan dilakukan hanya pada umur 0 hari (lahir), umur ± 3 bulan (lepas sapih) dan umur 4-5 bulan (dikirim ke Probolinggo). Penimbangan seperti ini dilakukan dengan alasan untuk mengefisienkan tenaga, waktu dan kegiatan karena aktifitas Departemen Heifer Raising cukup padat. Penimbangan dilakukan dengan menggunakan alat timbang digital dengan model kandang jepit untuk memudahkan penimbangan dan penanganan pedet-pedet yang nakal.

Penimbangan menunjukkan pertambahan bobot badan. Pertambahan bobot badan merupakan variabel yang digunakan untuk menyatakan pertumbuhan dalam waktu tertentu yang dilakukan dengan penimbangan berulang-ulang dan ditunjukkan dengan kenaikan bobot badan setiap hari, setiap minggu atau waktu lainnya (Tilman, dkk., 1990). Bobot lahir rata-rata di PT. Greenfields Indonesia adalah 35 kg. Bobot lahir di PT. Greenfields Indonesia dibagi menjadi large size dan small size. Menurut Syarief dan Sumoprastowo (1990), bobot lahir pedet normal adalah lebih dari 20 kg. Pertambahan bobot badan untuk large size (bobot lahir > 39 kg) adalah 0,8-1 kg/hari, sedangkan untuk small size (bobot lahir < 39 kg) adalah 0,7-0,8 kg/hari. Pertambahan bobot badan tersebut sudah ideal, karena enurut Diggins, Bundy dan Christensen (1994), pertambahan bobot badan yang ideal adalah 0,50-0,68 kg/hari untuk umur 1-8 bulan.

b. Identifikasi atau pemberian tanda pengenal

Identitas ternak adalah pemberian tanda atau nomor pada ternak, dapat berupa eartag, tatoo dan kalung (Peraturan Menteri Pertanian No. 55/Permentan/OT.140/10/2006 dalam Pedoman Pembibitan Sapi Perah yang Baik).

Maksud pemberian tanda pengenal sejak masih pedet adalah (AAK, 2007) :

1. Mempermudah pelaksanaan seleksi.

2. Mempermudah rekording (pencatatan).

3. Mempermudah melakukan tata laksana: perkawinan, pemberian makanan, dan lain sebagainya.

Menurut AAK (2007) tanda pengenal yang dapat digunakan adalah eartag, kerat (ear-notching), ear-tatooing dan peneng.

Eartag merupakan tanda pengenal berupa anting yang berasal dari bahan plastik atau logam yang berisi angka atau huruf sebagai kode dan dipasang pada telinga. Keuntungan dari penggunaan eartag adalah mencegah terjadinya kesalahan atau tertukarnya nomor penandaan yang satu dengan sapi yang lainnya (Santoso, 2003)

Ear-notching adalah tanda pengenal pada telinga yang dipasang dengan cara melukai atau mengerat bagian tepi telinga. Setiap keratan memililki arti dengan kode tertentu seperti nomor.

Ear-tatooing adalah tanda pengenal dengan cara melukai bagian kulit, baik pada telinga, pantat ataupun bagian lainnya. Alat yang digunakan dirancang khusus, bentuknya seperti tang yang jepitannya seperti stempel jarum kecil. Alat ini dirangkai seperti bentuk angka atau huruf, sehingga alat tersebut dapat mencetak angka atau huruf seperti yang diinginkan peternak.

Peneng adalah tanda pengenal dari logam atau kulit yang dikaitkan dengan tali atau rantai dan dipasang pada leher sapi. Pada peneng dapat dituliskan kode berupa huruf atau angka, sehingga peternak dengan mudah mengenali sapi yang satu dengan lainnya.

Pemberian tanda di PT. Greenfiellds Indonesia dilakukan segera setelah lahir sebelum dipisahkan dari induknya dengan menggunakan eartag. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Syarief dan Sumoprastowo (1990) yang menyatakan tanda diberikan sebelum dipisahkan dari induk, yaitu pada umur 2-3 hari. Pemasangan eartag dilakukan dengan membersihkan daun telinga pedet terlebih dahulu dan menyemprotnya dengan iodosep, lalu memasang ear-tag dan meyemprotnya kembali dengan iodosep sebagai desinfektan.

c. Dehorning (Pemotongan Tanduk)

Dehorning berarti meniadakan atau mematikan calon tanduk sebelum tumbuh memanjang atau memotong tanduk yang sudah terlanjur tumbuh panjang (AAK, 2007). Tujuan dehorning adalah (Syarief dan Sumoprastowo, 1990) :

1. Menghemat ruangan.

2. Kandang dan peralatan lebih awet.

3. Mengurangi bahaya yang mungkin terjadi pada peternak dan memberi kemudahan dalam menangani dan memelihara ternak.

4. Mengurangi kemungkinan terjadinya penandukan terhadap sesama ternak yang mengakibatkan kerusakan kulit atau luka.

PT. Greenfields Indonesia melakukan dehorning pada saat pedet berumur 1 bulan dengan menggunakan besi panas. Hal ini didukung oleh pendapat Schmidt, Vleck dan Hutjens (1988) yang menyatakan dehorning biasanya dilakukan pada pedet berumur 2-4 minggu. AAK (2007) menyebutkan tiga cara untuk melakukan dehorning, yaitu :

1. Dehorning dengan bahan kimia

Bahan kimia yang biasa dipakai adalah caustic-soda/soda api/natrium hidroksida (NaOH) dalam bentuk pasta atau batangan seperti lilin. Cara ini paling bagus dilakukan pada pedet yang berumur 3-10 hari. Peternak yang akan melakukan harus memakai sarung tangan dari karet untuk menjaga kulit tangan. Sebelum mengoles soda api, bulu di sekitar calon tanduk harus digunting dan dibersihkan. Bagian yang sudah bersih diolesi vaselin agar soda api yang akan dioleskan pada dasar calon tanduk tidak mengalir ke bagian lainyang berbahaya, seperti mata. Selanjutnya dasar calon tanduk digosok dengan soda api hingga muncul bintik-bintik darah.

2. Dehorning dengan besi yang dipanaskan

Dehorning dengan besi panas dilakukan pada pedet berumur 1 bulan. Besi yang digunakan dirancang secara khusus sehingga bila alat tersebut dipanaskan dengan listrik atau sumber panas lainnya dapat dipakai untuk mematikan/menghilangkan tanduk. Caranya adalah dengan menempelkan besi panas pada tunas tanduk. PT. Greenfields Indonesia memilih cara ini untuk melakukan dehorning. Pedet yang akan dipotong tanduknya dimasukkan ke dalam kandang jepit kecil lalu diberi suntikan obat bius (Lidocain HCl) pada bagian syaraf tunas tanduk (dekat mata) untuk mengurangi rasa sakit. Setelah itu besi yang telah dipanaskan ditempelkan pada tunas tanduk hingga terlepas. Kemudian semprot dengan “Limoxin-25 spray”.

3. Dehorning dengan gergaji

Dehorning dengan gergaji merupakan salah satu cara yang paling mudah.Dehorning dengan gergaji hanya dilakukan pada sapi-sapi dewasa yang tanduknya sudah keras dan memanjang. Gergaji yang digunakan harus bergigi halus dan tajam. Pemotongan yang dilakkukan dengan cara menyisakan pangkal tanduk 1-2 cm.

d. Kastrasi

Kastrasi adalah usaha mematikan sel kelamin dengan jalan operasi dan mengikat atau memutus saluran sperma ataupun memasukkan bahan kimia dengan cara injeksi agar alat reproduksi tidak berfungsi (AAK, 2007). Sapi-sapi yang tidak terpilih sebagai calon bibit dalam suatu kelompok langsung dikastrasi. Harapannya adalah sapi menjadi lebih jinak, mudah dikuasai, mutu daging dan laju pertumbuhannya meningkat. Manfaat lainnya adalah sifat-sifat jelek tidak diturunkan atau dikembangkan, sehingga secara ekonomis lebih menguntungkan peternak (AAK, 2007). PT. Greenfields Indonesia melakukan kastrasi hanya bila ada permintaan.

Blakely dan Bade (1991) menjelaskan beberapa cara kastrasi, yaitu :

1. Kastrasi dengan pisau yang tajam.

Skrotum terlebih dahulu dicuci dengan larutan antiseptik lalu disayat pada bagian bawah. Testikel lalu dikeluarkan dari skrotum dan salurannya diputuskan. Luka yang ditimbulkan lalu diobati untuk mencegah infeksi dan mempercepat kesembuhan.

2. Kastrasi dengan elastrator

Elastrator digunakan untuk merentangkan suatu cincin karet yang kuat lalu dipasang pada skrotum di atas testikel. Di bawah cincin karet tersebut, aliran darahnya terputus sehingga testikel tidak berfungsi.

Cara ini sangat efektif dilakukan pada pedet yang umurnya < 1 minggu. Skrotum akan mengering dan terlepas dengan sendirinya setelah kastrasi berlangsung selama 10 hari (AAK, 2007). Perlakuan kastrasi dengan cara ini yang dilakukan di PT. Greenfields Indonesia kurang baik, karena dilakukan pada umur 2-3 minggu, namun pelaksanaannya sudah sesuai dengan literatur.

3. Kastrasi dengan “tang Burdizzo”

Kastrasi dengan “tang Burdizzo” dapat dilakukan pada semua semua pedet jantan dari berbagai umur. Kastrasi dengan cara seperti ini hampir sama dengan menggunakan elastrator, karena tujuannya adalah memutuskan saluran dengan jepitan tang sehingga aliran darah yang menuju testikel akan terputus. Kastrasi dengan cara ini tidak akan menimbulkan pendarahan dan dalam waktu beberapa minggu testis atau skrotum akan mengecil (AAK, 2007).

4. Kastrasi secara kimiawi

Cara kimiawi yang efektif untuk melaksanakan kastrasi pada pedet jantan, yaitu menggunakan preparat suntik yang nama dagangnya Chem-cast (Bio-Ceutic Laboratories, Inc., P.O. Box 999, St. Joseph, Missourri 64502). Chem-cast adalah suatu larutan kimia paten untuk penyuntikan langsung ke dalam testikel sapi jantan muda, yang berat badannya < 75 kg. Dalam waktu 60-90 hari setelah kastrasi, pedet benar-benar berada dalam keadaan terkastrasi secara sempurna.

Keuntungan cara kastrasi secara kimiawi adalah dapat dilakukan kapan pun sepanjang tahun karena pelaksanaannya sederhana dan tidak menimbulkan perdarahan dan tidak terasa sakit.

5. Kastrasi dengan cara operasi (AAK, 2007)

Cara ini dapat dilakukan pada pedet umur 1 minggu-4 bulan. Tetapi, untuk hasil operasi yang resikonya kecil sebaiknya dilakukan pada pedet umur < 1 minggu. Operasi pada pedet umur < 1 minggu lebih mudah dan cepat sembuh, ± 10 hari bekas operasi telah kering. Kastrasi dengan cara ini pada pedet umur > 3 bulan lebih sulit dan terlalu banyak resikonya, karena adanya pemberontakan. Oleh karena itu, pelaksanaan kastrasi harus menggunakan anestesi.

e. Penghilangan puting ekstra

Puting ekstra atau puting palsu merupakan puting yang pertumbuhnnya lebih kecil atau tidak sempurna dibandingkan dengan keempat puting normal lainnya. Kerugian yang ditimbulkan akibat adanya puting ekstra ini adalah dapat menjadi saluran infeksi penyakit mastitis dan mengganggu pemerahan karena pada umumnya terletak berdekatan atau pada dasar puting utama (AAK, 2007). Menurut Santoso (2003) umur yang tepat untuk melakukan pemotongan puting ekstra adalah > 1 bulan dan < 1 tahun. Hal ini juga diperkuat oleh Syarief dan Sumoprastowo (1990) yang berpendapat bahwa pemotongan puting ekstra dilakukan setelah pedet betina berumur 1-2 bulan.

Cara yang paling baik dengan menyucihamakan sekitar puting yang akan dipotong dengan yodium tinctur, lalu digunting dengan gunting yang tajam dan steril. Sesudah dipotong, lukanya segera diobati dengan yodium lagi. Bila terjadi perdarahan, bagian yang terluka ditekan dengan kapas yang steril (Syarief dan Sumoprastowo, 1990).

PT. Greenfields Indonesia tidak melakukan penghilangan puting ekstra, karena dinilai tidak perlu. Puting ekstra yang terdapat pada sapi-sapi perah setelah dewasa tidak menyebabkan kerugian yang besar, karena pada umumnya tidak berfungsi. Penghilangan puting ekstra justru dinilai lebih merugikan dengan kondisi puting ekstra yang tidak berfungsi tersebut.

f. Pemisahan Pedet jantan dan betina

Pemeliharaan pedet sapi perah jantan dan betina hingga berumur 5 bulan adalah sama. Tetapi, sesudah pedet jantan mencapai umur 6 bulan, cara pemeliharaannya berbeda. Pedet jantan telah mencapai kedewasaan kelamin pada umur 6-8 bulan. Oleh karena itu, pemisahan pedet jantan dan betina perlu dilakukan pedet jantan agar tidak mengganggu pedet-pedet betina (AAK, 2007).

PT. Greenfields Indonesia melakukan pemisahan pemeliharaan antara pedet jantan dan betina pada umur 3 bulan. Hal ini dilakukan karena pada umur tersebut pedet-pedet telah lepas sapih dan pada umur 5 bulan pedet jantan telah dijual ke Probolinggo. Selain pemisahan jantan dan betina, pedet juga dikelompokkan berdasarkan kondisinya (besar, kecil dan sakit).

Pemeliharaan Kesehatan dan Tindakan Biosecurity

a. Tindakan Biosecurity

Peraturan Menteri Pertanian No. 55/Ppermentan/OT. 140/10/2006 dalam Pedoman Pembibitan Sapi Perah yang Baik menyatakan bahwa dalam rangka pengamanan kesehatan setiap pembibitan sapi perah harus memperhatikan hal-hal tindak biosecurity sebagai berikut :

1. Lokasi usaha tidak mudah dimasuki binatang liar serta bebas dari hewan piaraan lainnya yang dapat menularkan penyakit.

2. Melakukan desinfeksi kandang dan peralatan dengan menyemprotkan insektisida pembasmi serangga, lalat dan hama lainnya.

3. Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari satu kelompok ternak ke kelompok ternak lainnya, pekerja yang melayani ternak yang sakit tidak diperkenankan melayani ternak yang sehat.

4. Menjaga agar tidak setiap orang dapat bebas keluar masuk kandang ternak yang memungkinkan terjadinya penularan penyakit.

5. Membakar atau mengubur bangkai sapi yang mati karena penyakit yang menular.

6. Menyediakan fasilitas desinfeksi untuk staf/karyawan dan kendaraan tamu di pintu masuk perusahaan.

7. Segera mengeluarkan ternak yang mati dari kandang untuk dikubur atau dimusnahkan oleh petugas yang berwenang.

8. Mengeluarkan ternak yang sakit dari kandang untuk segera diobati atau dipotong oleh petugas yang berwenang.

Secara umum tindakan biosecurity yang dilakukan oleh PT. Greenfields Indonesia setiap hari adalah membersihkan tempat pakan dan minum, membersihkan milk bar dan dot susu, pembersihan kandang serta penggantian cairan virkon. Syarief dan Sumoprastowo (1990) menyatakan kandang, selokan, tempat pakan dan minum serta peralatan yang digunakan harus selalu dalam keadaan bersih. Sudono (2003) menguatkan pernyataan tersebut dengan pendapat bahwa kandang pedet harus dibersihkan setiap hari, dijaga tetap kering, cukkup cahaya matahari dan cukup baik peredarannya. Cairan Virkon merupakan cairan untuk celup kaki sebelum memasuki area breeding dan pen, baik pen pedet yang sehat maupun yang sakit. Perbandingan campuran desinfektan Virkon®S dan air adalah 1:200-1:100 (0,5-1%).

Program mingguan yang dilakukan adalah penyemprotan desinfektan virkon dua kali dalam seminggu, pembersihkan pipa susu dari old milking parlor serta pembersihan lingkungan kandang seperti membersihkan rumput di sekitar area breeding. Program bulanan juga dilakukan, yaitu pembongkaran bedding dan pembersihan sisa sawdust serta pengapuran pada lantai kandang yang licin/berlumut. Program harian, mingguan dan bulanan Departemen Heifer Raising dapat dilihat pada Lampiran ??.

Pedet yang sakit langsung dipisahkan dari kelompok ternak yang sehat dan ditempatkan pada pen sakit. Pedet yang mati karena sakit maupun proses kelahiran segera dibuang pada tempat pembuangan bangkai. Perlakuan ini sesuai dengan pendapat Sudono (2003) yang menyatakan bahwa pedet-pedet yang menunujukkan tanda-tanda sakit, terutama penyakit menular harus dipisahkan dari pedet-pedet yang sehat dan segera diobati.

Hal lain yang dilakukan adalah pembasmian terhadap lalat dan serangga lainnya, tikus, pinjal, memasang perangkap untuk kucing dan anjing serta burung. Pekerjaan ini dilakukan oleh seorang petugas yang bertanggung jawab atas seluruh area perusahaan dan peternakan serta pabrik. Bahan yang dipakai untuk membasmi lalat adalah spray Agita, Seruni, Mustang dan Nuvat. Untuk larva lalat dipakai Nevorex dan Abate. Untuk tikus dipakai Roden dan lem tikus. Sedangkan untuk burung dipakai jaring perangkap burung yang sangat tipis. Seluruh tindakan biosecurity dan pemeliharaan kesehatan ini dapat dilihat pada Lampiran ???.

b. Pemeliharaan Kesehatan

Pemeliharaan kesehatan dilakukan semenjak pedet lahir. Pemeliharaan kesehatan yang dilakukan di perusahaan ini pada dasarnya sejalan dengan tindakan biosecurity. Pemeriksaan terhadap kondisi pedet dan pengobatan dilakukan oleh seorang dokter hewan dan dibantu oleh beberapa tenaga kesehatan hewan. Pedet-pedet yang sakit yang telah diobati dan sembuh tidak akan dikembalikan ke pen semula karena memiliki potensi untuk membawa dan menularkan penyakit. Tindakan preventif yang dilakukan oleh PT. Greenfields Indonesia adalah :

1. Pemberian obat cacing (deworming) pada umur 3 bulan dengan memakai Dextomax. Pemberian obat cacing dilakukan karena konsumsi pedet terhadap hijauan mulai meningkat. Hijauan tersebut berasal dari lahan pertanian yang kemungkinan membawa benih cacing dan termakan oleh pedet.

2. Vaksin pertama dilakukan pada umur 3 bulan, terdiri dari vaksin RB51, vaksin Bovishield dan vaksin Ultrabac.

3. Vaksin kedua dilakukan pada umur 5 bulan, terdiri dari vaksin Bovishield dan vaksun Ultrabac.

Vaksin diberikan untuk meningkatkan kekebalan tubuh dari kemungkinan adanya penyakit yang mudah menular dan membahayakan, seperti brucella, leptospira sp., clostridium sp., dan sebagainya.

Kasus penyakit yang sering terjadi di Departemen Heifer Raising adalah :

1. Diare

Diare biasanya disebabkan oleh pemberian pakan yang berlebihan, kekurangan vitamin A atau serangan parasit (Santoso, 2002). Bakteri penyebabnya adalah Eicherichia Coli. Blakely dan Bade (1991) menyatakan 10-12% pedet-pedet yang lahir mati dengan gejala diare dalam tenggang waktu 30 hari setelah lahir. Penyebabnya cukup kompleks, mulai dari bakteri, virus, keadaan lingkungan, kepadatan ternak ynag terlalu tinggi, kekurangan kolostrum, terlalu banyak pakan, defisiensi vitamin A dan adanya parasit-parasit.

Tindakan awal yang dilakukan pada pedet-pedet yang terserang gejala diare adalah memberikan elektrolit pada air minumnya, memberikan rennet pada susu dan pengobatan. Obat yang diberikan kepada pedet adalah Pen strep, Engemycin, Vetadryl dan Injectamin. Pedet yang keadaannya semakin parah dipisahkan dari kelompok pedet yang sehat.

2. Pneumonia

Penyakit ini disebabkan oleh Mycoplasma mycoides. Penularannya paling sering terjadi melalui pernafasan. Penyakit pneumonia dapat terjadi karena:

a. Pemberian minum yang salah, menyebabkan pedet tersedak dan batuk. Karena itu, saat memberikan pedet minum susu dengan dot posisinya harus benar.

b. Kandang yang bau dan mengandung gas amonia yang menyengat hidung karena kandang kotor (banyak feses dan urin, lembab, ventilasi kandang yang buruk).

c. Debu yang berasal dari alas kandang (sawdust) atau dari konsentrat yang masuk ke dalam hidung.

3. Infeksi naval/tali pusar

Infeksi naval terjadi karena ketidaktelitian pada saat memasang umbilical klem serta penyemprotan iodosep yang kurang sempurna.

Sistem Pencatatan atau Recording, Seleksi dan Culling

Sistem pencatatan pada departemen Heifer Raising cukup baik. Menurut AAK (2007) pencatatan bermaksud untuk mengumpulkan data penting di dunia peternakan. Pada usaha sapi perah, pencatatan bertujuan untuk menunjang pelaksanaan program yang tatalaksana yang lebih baik, seleksi yang yang lebih ketat dan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Pencatatan harus dilakukan secara rutin, seksama dan intensif.

Pencatatan yang perlu dilakukan adalah (Peraturan Menteri Pertanian No. 55/Permentan/OT. 140/10/2006 dalam Pedoman Pembibitan Sapi Perah yang Baik) :

1. Rumpun, identitas ternak dan sketsa (foto ternak)

2. Identitas, alamat kelompok dan organisasi peternak

3. silsilah, rumpun, identitas tetua, produktivitas dan abnormalitas tetua

4. Perkawinan (tanggal, pejantan, IB/kawin alam, berat kawin)

5. Kelahiran (tanggal, bobot lahir, sex, tipe kelahiran, calving-ease)

6. Beranak dan beranak kembali (tanggal, perlakuan, treatment)

7. Mutasi (pemasukan dan pengeluaran ternak).

Pencatatan seperti yang disebutkan di atas dilakukan seluruhnya di peternakan ini. Beberapa contoh pencatatan dapat dilihat pada Lampiran ??.

Seleksi ialah memilih ternak yang mempunyai sifat-sifat produksi yang tinggi untuk dijadikan bibit bagi generasi yang akan datang (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Proses seleksi yang dilakukan oleh peternakan ini berdasarkan bobot lahir, breed atau bangsa, potensi produksi, sejarah penyakit serta perkembangan pertumbuhan dan tinggi setiap 3 bulan dan 6 bulan sekali. Perusahaan melakukan seleksi dini terhadap pedet-pedet betina.Parameter seleksi dini yang ditetapkan oleh perusahaan adalah :

1. Breed disesuaikan dengan kebutuhan produksi susu. Untuk saat ini pilihan utama breed yang dipelihara adalah Friesien Holstein. Breed yang lainnya adalah Jersey dan Cross.

2. Bobot lahir ≥ 35 kg untuk FH, sedangkan Jersey dan Cross sebesar 27 kg.

3. Kondisi fisik sehat dan normal (tidak menderita cacat bawaan atau cacat lain yang diakibatkan oleh proses kelahiran).

4. Potensi genetik produksi susu induk pedet ≥ 6.000 liter/laktasi.

Pedet-pedet betina yang masuk dalam program seleksi akan diberi tanda permanen pada eartagnya, yaitu irisan segitiga pada dasar eartag dengan menggunakan gunting.

Proses seleksi ini akan diteruskan pada proses culling. Pedet-pedet yang tidak memenuhi persyaratan akan diculling. Culling dilaksanakan pada umur 1,5 tahun. Culling adalah proses pengeluaran ternak yang sudah dinyatakan tidak memenuhi persyratan bibit. Standar culling di PT. Greenfields Indonesia adalah perkembangan pertumbuhan dan tinggi, yaitu :

a. Large size : PBB 0,8-1 kg/hari; PTB 0,02-0,03 cm/hari.

b. Small size : PBB 0,7-0,8/ hari; PTB 0,01 cm/hari.

Manajemen Pemeliharaan Sapi Dara (Heifer)

Heifer merupakan sapi betina mulai umur 6-20 bulan yang pemeliharaannya dilakukan secara terpisah di Probolinggo. Suhu udara Probolinggo yang panas mengakibatkan stress pada sapi karena tidak sesuai dengan karakter hidupnya di daerah dingin. Karena itu, dipasang water sprinkle di kandang untuk menurunkan suhu udara dan mengurangi stress pada sapi. Pemeliharaannya dilakukan secara berkelompok berdasarkan umur dan berat badan untuk mempermudah pemberian pakan dalam kuantitas yang sesuai dan pengawasan terhadap perkembangan pertumbuhan. Jenis pakan yang diberikan dalam bentuk komplit (Ration : Dairy Heifer, dengan kandungan protein 18%). Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah air minum yang bersih harus selalu tersedia setiap saat serta pembersihan kandang dari kotoran setiap hari untuk menciptakan kondisi yang nyaman dan sehat. Setiap bulan dilakukan penimbangan untuk mengetahui perkembangan pertumbuhannya (target PBB harian/average daily gain adalah 0,7 kg/hari).

Pada masa pemeliharaan sebelum heifer dikawinkan, pada umur 12 bulan diberikan vaksinasi kedua yaitu vaksin RB51. Heifer siap dikawinkan ketika mencapai umur 14 bulan dengan bobot badan 350 kg. Perkawinan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

1. Dilakukan penyerentakan birahi dengan program sinkronisasi 1 dengan penyuntikan PgF1.

2. Pengamatan birahi hingga hari ke 5. Sapi yang birahi kemudian di IB.

3. Sapi yang tidak birahi, 1 minggu kemudian disinkronisasi 2 dengan PgF2.

4. Pengamatan terhadap birahi sampai hari ke 5. Sapi yang birahi kemudian di IB.

5. Joint mating dengan pejantan untuk sapi yang tidak menunjukkan birahi.

Setelah 45-60 hari dihitung dari waktu IB atau joint mating, semua sapi diperiksa kebuntingannya. Sapi-sapi yang dinyatakan bunting dikelompokkan hingga umur kebuntingan 4-5 bulan. Sapi-sapi ini diambil darahnya untuk dites darah dengan “Brucella Cart Test”. Bila hasilnya negatif, sapi tersebut dikirim kembali ke Gunung Kawi, sedangkan bila hasilnya positif maka sapi tersebut harus segera dipotong. Sapi-sapi yang lulus seleksi kemudian dikirim kembali ke Gunung Kawi.

Pemeliharaan Sapi Dara Bunting

Sapi dara bunting merupakan sapi dara mulai umur 20-24 bulan yang telah bunting dan dipelihara secara kelompok di Gunung Kawi. Udara yang sejuk dan lebih nyaman memberi kondisi yang lebih baik bagi sapi. Setelah beradaptasi selama ± 2 minggu, dilakukan penggantian eartag dan pemberian magnet ke dalam perut sapi. Tujuan pemberian magnet adalah menangkap bahan-bahan logam yang tajam, seperti paku dan kawat yang ada dalam pakan yang mungkin termakan oleh sapi. Dengan demikian dapat mencegah logam-logam tersebut menusuk dinding perut yang dapat mengakibatkan kematian pada sapi. Pada umur kebuntingan 7 bulan, sapi tersebut diambil darahnya untuk tes brucella di Laboratorium dengan sistem “Elisa Test”. Tes ini dilakukan untuk lebih menjamin sapi benar-benar bebas dari penyakit brucellosis.

Pen

Gambar ??. Eartag biru untuk betina, oranye untuk jantan.

catatan atau recording pada sapi bunting tetap dilakukan untuk mengetahui umur dan kondisi kebuntingan. Sapi dengan umur kebuntingan 255 hari (DCC 255) atau 21 hari menjelang kelahiran akan dikirim ke Departemen Livestock untuk pemeliharaan lebih lanjut hingga melahirkan. Sapi yang berada pada periode ini disebut sebagai sapi bunting transisi. Pakan yang diberikan pada sapi bunting transisi merupakan pakan dengan kandungan nutrisi yang sesuai untuk menghadapi proses kelahiran. Target kelahiran pertama dari dara bunting ini adalah umur 24 bulan dengan bobot badan induk 550 kg.

h1

GANGGUAN REPRODUKSI SAPI PERAH

July 29, 2008

DITULIS OLEH : JUNAIDI KARO KARO

RINGKASAN

HOTNITA JULIANTY PURBA. J3I305054. 2008. Gangguan Reproduksi Sapi Perah di PT Greenfields Indonesia, Malang. Laporan Praktik Kerja Lapangan. Program Keahlian Teknologi dan Manajemen Ternak. Direktorat Program Diploma, Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing : Dr. Bagus P. Purwanto

Praktek kerja lapang (PKL) ini dilaksanakan pada tanggal 18 Februari sampai 10 Mei 2008 di perusahaan peternakan sapi perah PT Greenfields Indonesia.

Tujuan dari pelaksanaan praktek karja lapang ini adalah memberikan bekal keterampilan dan kecakapan kepada mahasiswa agar mampu bekerja dilapang guna mempunyai keahlian dalam mengatur reproduksi pada sapi perah, melatih kemampuan mahasiswa untuk mengevaluasi situasi dan kondisi peternakan sapi perah pada umumnya dan di PT Greenfields Indonesia pada khususnya serta memberikan bekal kepada mahasiswa sehingga memiliki kemampuan manejerial dalam bidang reproduksi.

Materi yang digunakan adalah sapi perah betina Friesian Holstein, keturunan Jersey, dan sapi Cross dengan populasi sekitar 1800 sapi laktasi. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan pengamatan terhadap kejadian-kejadian yang terjadi di lapang, berdiskusi dengan pembimbing lapang maupun dengan para pekerja dan observasi partisipasi yang artinya ikut bekerja secara langsung di perusahaan tersebut.

Untuk analisis data yang didapatkan dari rekording reproduksi didapatkan angka service per conception antara 3.5 hingga 4.0. Perhitungan ini menggunakan cara yang berbeda dari biasanya, sehingga rata-rata untuk S/C jauh diatas angka pada umumnya. Rata-rata untuk conception rate 50% dan rata-rata calving interval berkisar 13 bulan 10 hari. Persentasi gangguan reproduksi yang sering terjadi seperti retensio plasenta, endometritis dan metritis masih tergolong normal (20%) walaupun diatas persentasi rataan untuk suatu kelompok sapi perah yaitu 8-11 %. Hal ini didukung oleh data calving interval yang baik dan dapat dilihat dengan adanya recording per individu yang akan memudahkan pengamatan mulai dari pendeteksian berahi, perkawinan, pencatatan kelahiran, hingga gangguan-gangguan yang dialami oleh induk tersebut.

Kesimpulan dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapang ini yaitu manajemen reproduksi peternakan sapi perah PT Greenfields Indonesia dapat dikatakan baik.


RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 1 Juli 1987, putri kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Drs. J. Purba dengan R. Saragih, Spd

Pendidikan formal penulis diawali di TK Rosari Jakarta Selatan selama 2 tahun (1991-1993), selanjutnya  penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Dasar Mardi Yuana Depok selama 6 tahun (1993-1999) dan melanjutkan di SLTP Putra Bangsa Depoks selama 3 tahun (1999-2002). Pada tahun 2002 penulis melanjutkan  pendidikan ketingkat Sekolah Menengah Umum di PSKD VI Depok dan selesai pada tahun 2005.

Pada tahun 2005, penulis diterima sebagai mahasiswa program diploma di Institut Pertanian Bogor pada Program Keahlian Teknologi dan Manajemen Ternak. Selama masa pendidikan, penulis aktif di bidang Komisi Pelayanan Siswa (KPS) yang berada di bawah naungan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Sebagai tugas akhir untuk memperoleh gelar ahli madya, penulis melakukan praktik kerja lapang di bidang peternakan sapi perah dan menyusun laporan dengan judul Gangguan Reproduksi Sapi Perah di PT Greenfields Indonesia kabupaten Malang, Jawa Timur.


PRAKATA

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan anugerahNya saya dapat melaksanakan Praktik Kerja Lapang selama 3 bulan, terhitung dari tanggal 18 Februari sampai 10 Mei 2008 di PT Greenfields Indonesia Malang Jawa Timur dan menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.

Laporan tugas akhir ini disusun berdasarkan diskusi dengan seluruh pihak PT Greenfields Indonesia pada saat melaksanakan Praktik Kerja Lapangan serta literatur yang saya baca dari beberapa buku mengenai sapi perah..

Ucapan terima kasih saya berikan kepada :

1. Keluarga yang selalu memberi kasih sayang, dorongan dan dukungan untuk menyesaikan studi saya serta perhatiannya akan kebutuhan saya baik secara moril maupun materi.

2. Teman-teman seangkatan, yang menjadi motivator selama menjalankan studi di Diploma IPB dan teman-teman selokasi PKL di PT Greenfields Indonesia yang menemani serta memberi dukungan selama berada di Malang.

3. Bagus P. Purwanto selaku dosen pembimbing yang telah menyempatkan dan menyisihkan waktunya untuk membimbing saya pada saat penulisan laporan ini.

4. Din Satriawan, Catur Nugroho dan Yoni Kusmay selaku pembimbing lapangan di PT Greenfields Indonesia, pekerja-pekerja kandang dan para Dokter hewan yang memberikan waktunya untuk berdiskusi dengan penulis.

5. Seluruh dosen peternakan yang telah membimbing dan memberikan ilmu selama menjalankan study di Diploma IPB.

6. Semua pihak yang membantu penulisan laporan ini.

Penulis  sadar bahwa laporan ini jauh dari sempurna. Penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca untuk itu saran yang membangun sangat penulis harapkan

Bogor, Juli 2008

Penulis

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Usaha peternakan sapi perah bertujuan untuk mendapatkan produksi susu yang tinggi serta secara tidak langsung mendapatkan pedet. Untuk mendapatkan produksi susu yang tinggi dan berkualitas perlu pengelolaan manajemen dari semua aspek. Salah satu faktor yang sangat penting dalam manajemen pemeliharaan sapi perah yang dapat menetukan keberhasilan suatu usaha peternakan adalah produktivitas dari ternak tersebut.

Produktivitas dari setiap jenis ternak secara langsung ataupun tidak langsung tergantung pada kemampuan reproduksinya. Ternak dengan produktivitas tinggi disertai dengan seleksi yang baik dalam perkawinan akan meningkatkan produksinya (Lindsay et al., 1982).

Keberhasilan reproduksi merupakan cermin keberhasilan suatu usaha peternakan dengan pengaturan reproduksi yang baik. Berkembangnya populasi sangat tergantung pada induk dan bibit yang berkualitas serta jumlah kelahiran sapi yang banyak. Hal ini tentu sangat ditunjang oleh reproduksi yang optimal. Produksi dan reproduksi sangat berkaitan erat bagi berkembang dan tersedianya sapi. Kegagalan seekor ternak untuk menjadi bunting pada satu atau lebih perkawinan akan menghilangkan produk konsepsi pada satu atau lebih periode kebuntingan (Salibury dan Vandermark, 1985).

Berbagai masalah reproduksi yang terjadi khususnya sapi betina tidak hanya pada kesehatan organ reproduksinya saja. Selain organ reproduksi sendiri, organ lain seperti otak, tiroid, paratiroid, maupun pankreas serta berbagai kelenjar di dalam tubuh turut mempengaruhi reproduksi. Berbagai macam hormon seperti foliclle stimulating hormone (FSH), luteinizing hormone (LH), prolactin dan lain sebagainya berperan penting bagi kecepatan sapi untuk beranak. Oleh karena itu suatu pengaturan terhadap kemampuan reproduksinya secara tertib dan teratur perlu dilakukan sehingga efisiensi reproduksi dapat tercapai.

Partodihardjo (1987), menyatakan bahwa evaluasi keberhasilan dibidang reproduksi ternak harus memperhatikan kartu ternak yang berisi keterangan mengenai seekor ternak, umur pertama kali dikawinkan, pengamatan terhadap berahi, deteksi kebuntingan, perkawinan kembali setelah melahirkan, saat perkawinan yang tepat, fertilitas jantan yang digunakan serta service per conception, non return rate, conception rate, dan calving interval. Hal-hal tersebut digunakan untuk mendapatkan hasil reproduksi yang baik. Bertumpu pada hal tersebut maka dilakukan praktik kerja lapang di salah satu industri peternakan sapi perah yang berkembang PT Greenfields Indonesia untuk dapat melihat perkembangan populasi dan efisiensi reproduksi khususnya dalam penanganan masalah reproduksi.

Tujuan

1. Memberi bekal keterampilan dan kecakapan mahasiswa agar mampu bekerja di lapang guna mempunyai keahlian dalam mengatur reproduksi pada sapi perah.

2. Melatih kemampuan mahasiswa untuk mengevaluasi situasi dan kondisi peternakan sapi perah di PT Greenfields Indonesia.

Manfaat

Manfaat yang diperoleh pada praktek kerja lapang ini selain menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa dalam menganalisa masalah yang berhubungan dengan reproduksi juga meningkatkan keterampilan dan pengalaman kerja. Manfaat dari hasil praktek kerja lapang ini tidak hanya bagi mahasiswa tetapi juga bagi peternak dan pengelola sebagai sumber informasi tentang pengaturan reproduksi khususnya dalam penanganan gangguan reproduksi yang sering muncul pada sapi perah.


PERUSAHAAN PETERNAKAN SAPI PERAH

PT GREENFIELDS INDONESIA

PT Greenfields Indonesia terletak di Dusun Maduarjo, Desa Babadan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Daerah Tingkat II Malang, Propinsi Jawa Timur. Jarak lokasi dengan kota Malang sekitar 40 km. Perusahaan ini berada di lereng Gunung Kawi dengan ketinggian 1200 m di atas permukaan laut. Wilayah ini mempunyai suhu udara sekitar 16-220C dan curah hujan sekitar 2.997 mm pertahun dengan kelembaban sebesar 45 %.

Unit usaha yang dimiliki perusahaan tersebut adalah usaha peternakan (Dairy Farm) dan unit pengolahan susu (Processing Unit). Untuk ketenagakerjaan dibagi menjadi beberapa departemen, heifer raising, livestock, milking parlor, dan animal health and reproduction.

Tepatnya pada tanggal 14 Maret 1997 didirikannya PT. Greenfields Indonesia dengan nama PT Prima Japfa Jaya. Pada awal berdirinya, PT Prima Japfa mendatangkan 90 ekor sapi perah bangsa Fries Holland (FH) yang diimpor dari Australia, kemudian dibawa ke perusahaan. Dari tahun ketahun perusahaan semakin berkembang ini menunjukkan jumlah populasi meningkat hingga akhir 2007 jumlah sapi mencapai 1814 ekor. Hampir setiap hari jumlah dan komposisi berubah dengan adanya pertambahan dari jumlah kelahiran, penjualan dan pengafkiran. Jumlah dan komposisi sapi perah PT Greenfields Indonesia selama Januari hingga April 2008 dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Komposisi Sapi Perah PT. Greenfields Indonesia

Jenis sapi

Jumlah (ekor)

ST (Satuan Ternak)

Persentase ST (%)

Sapi Laktasi

1266

1266

3,71

Sapi Kering

471

471

15.92

Sapi Dara

1503

751.5

58.01

Pedet

1390

347.5

21.58

Pejantan

17

17

0.78

Jumlah

4647

2881

100

Sumber : PT. Greenfields Indonesia, April 2008

Untuk pemeliharaan sapi-sapi tersebut perusahaan menggunakan lahan seluas 52 ha. Lahan tersebut digunakan untuk kandang, pemerahan, kantor, pabrik pengolahan susu, hospital, mess, pabrik pakan, kebun rumput, penyimpanan pakan, rumah, genset, pos satpam, parkir kendaraan dan tandon air.

Tabel 2. Luas dan Penggunaan Lahan PT. Greenfields Indonesia

No.

Bangunan

Unit

Luas (m2)

1

Kandang

8

25.833,44

2

Klinik

1

296,70

3

Unit proses susu

1

2.106,00

4

Kantor

1

131,00

5

Milking

a. Tempat perah lama

1

149,20

b. Tempat perah baru

1

1.980,00

c. Jalan masuk sapi

1

1.500,00

d. Gudang persedian bahan pakan

1.109,00

e. Ruang data

1

130,00

f. Wokshop

1

162,00

6

Bunker dan pabrik pakan

10.528,00

7

Rumah genset

1

162,00

8

Tempat parker

2

144,00

9

Pos satpam

2

18,00

10

Lantai jemur kotoran sapi

750,00

11

Tandon air kotor

1

80,00

12

Tandon air bersih

2

123,00

13

Mess

a. Mess lama

1

180,00

b. Aula

1

144,00

c. Perumahan karyawan

1

203,00

d. Barak

1

156,00

14

Tanah babadan

40.000,00

15

Saluran limbah cair

4.275,55

16

IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)

1

5.000,00

17

Kebun rumput

249.500,00

Jumlah

25

344.364,99

Sumber : Unit Human Resource Development PT Greenfields Indonesia, 2008

Sistem perkandangan yang digunakan PT Greenfields adalah free stall barn (kandang lepas) dengan bentuk atap monitor. Jumlah kandang yang ada sebanyak 8, dengan komposisi kandang 3 sampai kandang 8 untuk sapi dewasa, sedangkan kandang 2 dan SH-2 digunakan untuk sapi transisi dan pedet. Sumber air yang digunakan berasal dari sekitar Gunung Kawi dan wilayah Precet. Satu sumber mata air dan tiga buah sumur bor (deep well) dengan menggunakan pompa kedalaman 100 m. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan perusahaan terutama di kandang dan pemerahan. Ukuran kapasitas kandang, peralatan porduksi dapat dilihat pada Tabel 2 dan 3. Berikut adalah gambar bentuk dan kontruksi kandang yang digunakan PT Greenfields Indonesia

Gambar 1. Kandang sapi laktasi PT Greenfields Indonesia

Tabel 3. Kandang PT. Greenfields Indonesia

Kandang

Keterangan

Ukuran (m2)

Kapasitas (ekor)

1

Hospital

13.40 x 76.60

12

2A

Pedet SuperHhutch

30.35 x 72.00

200

2B

Bunting Tua

30.35 x 72.00

70

3

Transisi, Lame, Mastitis

30.35 x 72.00

176

4

Fresh, Starter Dry Pregnant

30.35 x 102.00

572

5

High Lactation

30.35 x 150.00

416

6

Super High Lactation

30.35 x 150.00

416

7

Normal, Medium Lactation

30.35 x 150.00

416

8

Late Lactation, Culling

30.35 x 150.00

416

Sumber : Livestock Departemen PT. Greenfields Indonesia, 2008

Tabel 4. Peralatan Produksi PT. Greenfields Indonesia

No

Nama Alat

Jumlah

1

Milk bar kapasitas 15 liter @ 12 ekor

6 Buah

2

Drum Plastik kapasitas 160 liter

6 Buah

3

Drum Plastik kapasitas 120 liter

2 Buah

4

Drum Plastik kapasitas 80 liter

8 Buah

5

Dot Susu kapasitas 2 liter

11Buah

6

Drench

2 Buah

7

Milk Can

9 Tanki

8

Mesin Semprot desinfektan

1 set

9

Bedding

50/petak

10

Gerobak

3 Buah

11

Ember

8 Buah

12

Sikat Tangan

2 Buah

13

Hang Pallet

1 Buah

14

Dehorner

1 Buah

15

Skid Loader

1 Buah

16

Hand Tractor

4 Buah

17

Cangkul

3 Buah

18

Ember

1 Buah

19

Kerikan

3 Buah

20

Sorok

7 Buah

21

Sapu Lidi Panjang

7 Buah

22

Mesin Perah Kapasitas 14 ekor

1 unit

23

Mesin Perah Kapasitas 40 ekor

1 unit

24

Botol teat dipping

12 botol

26

Ember desinfektan

5 Buah

27

Stilo (sikat kawat)

6 buah

Sumber : Perusahaan PT. Greenfields Indonesia, 2008

Peralatan tersebut digunakan untuk departemen heifer raising, livestock, dan milking parlor. Produksi susu PT Greenfields Indonesia rata-rata per hari adalah 30 ton dengan rataan produksi susu per ekor per hari 27 liter. Sebelum dipasarkan susu di olah terlebih dahulu oleh unit processing untuk dijadikan susu pasteurisasi dan whipping cream. Harga jual susu tergantung pada Total Plate Count (TPC) dengan harga rata-rata Rp 4500,-/liter. Sebagian besar konsumen merupakan masyarakat luar negeri seperti Malaysia, Hongkong, India dan Australia.

Penanganan limbah dan sanitasi yang dilakukan oleh perusahaan memisahkan limbah cair dengan limbah padat. Limbah cair berasal dari flushing (air pencucian kandang), pembersihan tempat air minum (dump tank) dan limbah padat yang berasal dari bedding pasir hitam. Semuanya ditampung dalam satu wadah untuk diproses lebih lanjut. Limbah yang berasal dari sisa pakan akan dijual.

Untuk mencegah perkembangbiakan bakteri dan mengurangi pertumbuhan kuman sanitasi harus dilaksanakan dengan baik. Sanitasi meliputi unit pemerahan, kandang, dan pabrik pakan. Metode Cleaning In Plate (CIP) digunakan pada unit pemerahan, penyemprotan vircons serta penaburan mistral dilakukan oleh bagian kandang rutin tiap harinya. Selain itu sanitasi yang dilakukan di PT Greenfields Indonesia berupa pencelupan roda mobil yang masuk kedalam perusahaan dan pencelupan kaki karyawan. Pencelupan dimulai dari roda mobilsetelah itu kaki dengan menggunakan air yang becampur dengan formalin, namun apabila karyawan masuk kesetiap departemen karyawan wajib mencelup kaki kedalam cairan virkons.


MANAJEMEN REPRODUKSI

Bobot Badan dan Umur Pertamakali Kawin

Berdasarkan informasi yang diperoleh di perusahaan peternakan pemeliharaan sapi dara dipelihara di Probolinggo umur pertama kali dikawinkan dengan usia rata-rata 14 bulan. Perkawinannya dilaksanakan dengan cara inseminasi buatan (IB).

Sapi dara yang berahi tidak langsung dikawinkan, melainkan diperiksa kondisi fisiologinya, yaitu dengan melihat bobot badan sebagai acuan bahwa sapi dara tersebut sudah dewasa kelamin. Menurut Lindsay et al. (1982) pada beberapa keadaaan, perkawinan betina sengaja ditunda dengan maksud agar induk tidak terlalu kecil waktu melahirkan. Induk yang terlalu kecil pada waktu melahirkan maka kemungkinan akan terjadi distokia. Umur ternak betina pada saat pubertas mempunyai variasi yang lebih luas daripada bobot badan pada saat pubertas (Nuryadi, 2000). Hal ini berarti bahwa bobot badan lebih berperan terhadap pemunculan pubertas daripada umur ternak.

Ditunjang oleh teori yang dikenal dengan nama target weight theory, yaitu seekor ternak akan mencapai pubertas atau aktivitas produksi dapat berlangsung secara normal jika telah mencapai bobot badan tertentu. Umur dan bobot badan pubertas dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik. Walaupun umur dari sapi dara sudah cukup untuk dikawinkan atau dengan kata lain sudah mengalami dewasa tubuh tidak berarti mengalami dewasa kelamin. Pada saat umur belum genap satu tahun dan bobot badan sudah mencapai 350 kg standar PT Greenfields Indonesia, dan jarak waktu tidak terlalu jauh maka sapi tersebut dapat dikawinkan. Alasan bahwa sapi dara harus mengalami dewasa kelamin adalah membantu dalam proses kelahiran, karena kelahiran yang tidak normal banyak terdapat pada sapi-sapi yang baru pertama kali melahirkan.

Deteksi Berahi

Deteksi berahi yang tepat merupakan kunci utama keberhasilan suatu perkawinan selain ketepatan dan kecepatan saat melakukan perkawinan, pemeriksaan berahi yang efektif memerlukan pengetahuan yang lengkap tentang tingkah laku sapi yang berahi baik normal ataupun tidak. Deteksi berahi paling sedikit dilaksanakan dua kali dalam satu hari, pagi hari dan sore/malam hari. Dalam pelaksanaan deteksi berahi bagi para inseminator maupun peternak sukar untuk dapat mengetahui saat yang tepat awal terjadinya estrus (berahi). Terjadinya berahi pada ternak di sore hari hingga pagi hari mencapai 60%, sedangkan pada pagi hari sampai sore hari mencapai 40% (Lubis, 2006). Menurut Ihsan (1992) deteksi berahi umumnya dapat dilakukan dengan melihat tingkah laku ternak dan keadaan vulva.

Pengamatan berahi di lokasi PKL dilakukan cukup teratur. Pengecekan dilakukan oleh service veteriner pada pagi hari saat sapi digiring ke tempat pemerahan, siang hari saat sapi istirahat atau setelah diperah, begitu juga dengan kegiatan sore hari untuk pemerahan kedua, dan malam hari setelah sapi-sapi tersebut selesai diperah. Para petugas akan mencatat ear tag (identitas) apabila sapi betina menaiki sapi lain dan diam jika dinaiki. Kemudian sapi akan diperiksa dengan mencocokkan data yang ada melalui siklus estrus dari sapi tersebut. Siklus estrus adalah berahi yang berulang secara teratur dalam kurun waktu rata-rata 21 hari.

Secara fisiologis, berlangsungnya siklus berahi ini melibatkan aktivitas sistem syaraf dan sistem hormonal dalam tubuh sapi, sehingga dapat dikatakan bahwa reproduksi sapi berlangsung secara neuro hormonal. Jika sapi tersebut masuk dalam pengecekkan satu siklus berahi (rata-rata 18-23 hari), tanda chalking orange pada pangkal ekor menghilang, vulva terlihat bengkak, panas, dan merah maka sapi tersebut dapat dikawinkan, untuk memastikan estrus lebih tepat lagi, cervic dapat diraba, jika agak keras (tegang) maka sapi tersebut positif estrus dan harus segera dikawinkan sebelum terlambat.

Lamanya sapi berahi sangat bervariasi yaitu berkisar 6-30 jam (Lubis, 2006), dengan rataan 17 jam. Tidak jarang sapi-sapi yang berada di PT Greenfields Indonesia waktu berahinya tidak diketahui saat malam hari (10 pm) hingga pagi hari (6 am) karena tidak ada veteriner yang bertugas. Hal ini dapat membuat peternak kehilangan satu siklus berahi.

Tabel 5. Lama waktu berlangsungnya fase-fase

dari siklus berahi pada sapi betina

Fase

Lama waktu (hari ke-) dari siklus

Estrus

0–1

Metestrus

1-3

Diestrus

4-16

Proestrus

17-21

Sumber: Makalah Seminar Pelatihan Inseminator pada Sapi/Kerbau BIB Singosari, 2006

Catatan :

Dalam menyebut hari-hari dari siklus berahi, hari ke-0 adalah saat munculnya berahi pertama kali, hari ke-1 adalah hari dimana berahi muncul pertama kali, demikian hari selanjutnya sampai dengan hari ke-21 dari siklus berahi. Hari-hari ini penting diketahui misalnya untuk penyuntikkan hormon prostaglandin (PGF) yang harus diberikan pada hari-hari antara hari ke-5 sampai dengan hari ke-16 dari siklus berahi.

Sistem Perkawinan

Sistem perkawinan merupakan gambaran dari beberapa metode perkawinan untuk program pengembakbiakan sapi. Masa berahi seekor sapi cukup singkat, untuk itu diperlukan pengamatan secara teliti terhadap tanda-tanda berahi seekor ternak agar program perkawinan dapat berjalan sesuai rencana. Sistem perkawinan ternak dapat dilakukan dengan dua cara:

1. Perkawinan Alam

Perkawinan alam dilakukan oleh seekor pejantan yang langsung memancarkan sperma kedalam alat reproduksi betina dengan cara kopulasi. Terlebih dahulu pejantan mendeteksi kondisi berahi betina dengan menjilati atau membau di sekitar organ reproduksi betina bagian luar setelah itu pejantan melakukan penetrasi

2. Perkawinan Buatan

Perkawinan buatan sering dikenal dengan Inseminasi Buatan (IB) atau Artificial Insemination (AI) yaitu dengan memasukkan sperma kedalam saluran reproduksi betina dengan menggunakan peralatan khusus (Blakely dan Bade, 1988).

Perkawinan yang dilakukan oleh Departemen Reproduksi PT Greenfields Indonesia melalui inseminasi buatan (IB) pada saat sapi tersebut menunjukkan gejala-gejala berahi dan mencocokkan data yang ada dalam satu siklus. Pelaksanaan perkawinan harus dilakukan pada saat berahi. Selain itu pengecekan terhadap gangguan reproduksi juga dilakukan, jika sapi tersebut mengalami infeksi pada bagian cervic, atau organ lainnya maka perkawinan akan ditunda.

Perlengkapan yang digunakan untuk perkawinan adalah (1). straw beku pejantan unggul yang diimpor dari Amerika dengan bangsa FH (Frisian Holstein), (2). gun IB yang diimpor dari New Zealand, dan (3). plastic sheat berasal dari Perancis. Straw langsung didatangkan dari Amerika dengan harga sekitar Rp 350.000,00 – Rp 400.000,00- dalam satu container dengan kapasitas kurang lebih 3024 dosis. Semen-semen yang terdapat dalam satu container yang berisi 32-34 liter nitrogen terdiri dari 6-7 pejantan FH (Friesian Holstein) dengan jumlah sperma minimal dua puluh lima juta dalam satu straw kapasitas setengah milliliter (0,5 ml). Straw akan diambil sesuai kebutuhan dan disimpan dalam container kecil dengan kapasitas nitrogen enam liter untuk di bawa ke lapangan. Pergantian straw biasanya dilakukan setiap 6 bulan dengan adanya berbagai pertimbangan. Penambahan nitrogen dilakukan saat batas nitrogen dalam container kurang dari panjang straw, biasanya pada saat volume nitrogen tinggal 30-32 liter.

Straw yang berada di perusahaan tidak hanya diimpor dari Amerika saja, melainkan ada yang diambil dari BIB (Balai Inseminasi Buatan) Singosari. Penggunaan straw yang berasal dari BIB Singosari digunakan untuk sapi-sapi yang bersiklus normal. Jika sapi tersebut bunting dan melahirkan pedet jantan, maka akan diserahkan kembali ke BIB. Tetapi jika pedet yang dilahirkan betina, maka akan menjadi milik perusahaan Greenfields Indonesia.

Pelaksanaan IB dilakukan oleh inseminator yang sudah menguasai teknik inseminasi. Dimulai dari pengambilan straw dari container, pencairan sperma dengan menggunakan air yang bersuhu 370C, memasukkan straw ke dalam gun, perabaan cervic yang benar agar dalam menyuntikkan gun tepat dua hingga tiga sentimeter di depan mulut cervic. Semua prosedur untuk IB dilakukan dengan sangat hati-hati. Kriteria semen yang digunakan PT Greenfields Indonesia berdasarkan produksi susu yang tinggi, sedangkan kriteria semen yang digunakan untuk heifer berdasarkan easy calving 6% (mudah beranak).

Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan inseminasi buatan diantaranya :

1. Kondisi betina, meliputi kesehatan dan anatomi organ reproduksi, Body Condition Score (BCS), lingkungan dan pakan, ektoparasit dan endoparasit.

2. Spermatozoa, dilihat dari total sperma yang motil (% motilitas dan konsentrasinya)

3. Ketepatan waktu IB (siklus berahi)

4. Penempatan posisi semen saat IB (tepat di depan cervik ± 3 cm)

Program Ovsynch

Departemen Reproduksi PT Greenfields Indonesia membuat program penyerentakkan berahi. Program ini disebut dengan Program Ovsynch (ovulation synchronisasi). Dengan penyerentakkan berahi dimaksudkan pengendalian siklus berahi sedemikian rupa sehingga periode estrus pada banyak hewan betina terjadi serentak pada hari yang sama atau dalam waktu 2 sampai 3 hari (Toelihere, 1979). Hal ini juga bertujuan agar dapat mengefisiensikan waktu berahi dan target untuk calving interval dapat tercapai.

Dasar fisiologis dari sinkronisasi berahi adalah hambatan pelepasan Luteinizing Hormone (LH) dari hipofisis anterior yang menghambat pematangan folikel de Graaf atau penyingkiran korpus luteum baik secara manual atau secara fisiologis dengan pemberian preparat hormon luteolitik. Karena progesteron dapat menghambat pelepasan LH, pertumbuhan folikel, berahi dan ovulasi maka progesteron merupakan preparat pertama yang dipakai untuk sinkronisasi berahi. Pelaksanaanya dimulai dari DIM (days in milk) 46 hari setelah melahirkan. Sapi-sapi yang tidak berahi akan disuntikkan hormon prostaglandin 1 (PG1) yang biasa dilakukan pada hari Rabu, setelah 17 hari tidak berahi maka akan disuntikkan PG2. Untuk sapi yang berahi langsung dikawinkan, jika tidak berahi lagi maka akan diberikan penambah hormone GnRH1 (Gonadothropin Releasing Hormone) yang dilaksanakan 14 hari setelah PG2, kemudian jika sampai 7 hari sapi tersebut tidak ada tanda-tanda berahi maka akan disuntikkan PG3 dan suntikkan hormon terakhir untuk perangsang yaitu menggunakan hormone GnRH2 (Gonadothropin Releasing Hormone) bersamaan dengan IB setelah penyutikkan PG3 selama 3 hari. Dosis penyuntikannya untuk semua sama sebanyak 2 ml, kecuali penyuntikkan GnRH2 sebanyak 1 ml. Penyuntikkan dilakukan intravena bagian belakang tubuh sapi (pantat). Penyuntikkan progesteron ini bertujuan untuk menghambat pematangan folikel dan menyingkirkan (degradasi) corpus luteum secara mekanik, estrus dan ovulasi.

Jadwal Program sinkronisasi ovulasi:

PG 1 : Dim 46

PG 2 : 17 hari setelah PG 1

GnRH 1 : 14 hari setelah PG 2

PG 3 : 7 hari setelah GnRH 1

IB + GnRH 2 : 3 hari setelah PG 3

Keberhasilan dari program ovsynch departemen reproduksi dapat dilihat pada total sapi yang bunting setelah disuntik PG3 diangka 80% (satatus tercapai). Pemberian GnRH2 + IB mempunyai target 8% dari program ovsynch. Selain dari program ovsynch perusahaan tersebut juga melakukan treatment Chorulon (Chorionic gonadothropin) untuk sapi-sapi yang DIM < 200 dan sudah lebih dari 3 kali di IB tidak bunting. Fungsi dari chorulon tersebut biasanya diberikan pada kasus-kasus infertilitas (tidak terjadinya pembuahan), sistik ovari (nimfomania), induksi ovulasi (delayed ovulasi). Penyuntikkan chorulon ini menggunakan HCG (hormon chorionik gonadotropin) sebanyak 10 mililiter pada bagian paha belakang kiri dan kanan.

Pemeriksaan Kebuntingan

Sapi yang diduga tidak berahi setelah dikawinkan kemungkinan bunting. Pemeriksaan kebuntingan sapi dilakukan satu sampai satu setengah bulan setelah inseminasi terakhir. Pemeriksaan dilakukan dengan cara palpasi rektal yaitu memasukkan tangan pada bagian rektal, jika ovarium terasa asimetris atau adanya pembesaran di salah satu ovari, bisa dikatakan sapi tersebut bunting. Selain itu perabaan dapat dilakukan pada bagian fetal membran (percabangan uteri) yang terasa membesar, pemeriksaan ini dilakukan oleh dokter hewan atau veteriner yang mempunyai keahlian dalam hal reproduksi.

Umur kebuntingan 1,5 bulan sangat muda dan dapat mengakibatkan pecahnya embrio yang masih sangat kecil. Jika sapi tersebut positif bunting maka diberi tanda dengan chalking green pada pangkal ekor. Sejarah perkawinan sapi yang bersangkutan termasuk tanggal melahirkan, tanggal dan jumlah IB yang dilakukan pada seekor sapi harus tercatat dengan baik sehingga dapat dipelajari terlebih dahulu. Catatan perkawinan dan reproduksi yang lengkap sangat bermanfaat untuk menentukan umur kebuntingan secara tepat dan cepat (Toelihere, 1985).

Pemeriksaan kebuntingan dilakukan pada pagi hari saat sapi kembali ke kandang setelah diperah. Ini dapat membantu seorang veteriner untuk memeriksanya, karena sapi dapat di lock up (jepit) pada bagian kepala, sehingga mudah untuk di palpasi. Sebelum melakukan palpasi tangan dibungkus dengan gloves plastic, dan mengambil sebagian feses yang ada sebagai pelicin. Mulanya memasukkan satu jari, dua jari dan seterusnya hingga semua bagian masuk kedalam rektum. Jika kotoran terlalu banyak dapat dikeluarkan sebagian, tidak perlu sampai habis. Saat tangan sudah masuk sapi akan berkontraksi (merejan), tangan didiamkan beberapa saat, kemudian dapat dilanjutkan kembali.

Penanganan Kelahiran

Sapi-sapi yang sudah masuk dalam program pengeringan (dry off program) di pen DP (dry pregnant) akan selalu dikontrol. Sapi dengan umur kebuntingan 8 bulan keatas akan dipindahkan ke pen 8 (pen transisi). Begitu juga saat sapi menujukkan tanda-tanda melahirkan, biasanya sangat terlihat pada bagian vulva yang mengendor dan adanya lendir berwarna kekuningan yang menggantung. Sapi dapat langsung digiring menuju pen maternity (pen beranak). Hal ini sangat penting dilakukan untuk menghindari sapi melahirkan di kandang pen dry pregnant sehingga tidak membahayakan pedet yang akan lahir. Sapi yang mengalami kesulitan dalam melahirkan akan mendapat bantuan dari veteriner.

Masalah yang sering terjadi adalah distokia dalam posisi posterior (posisi kepala pedet menghadap kedalam). Jika sapi tersebut mengalami distokia maka dengan segera dokter hewan ataupun veteriner membetulkan posisi pedet dalam kondisi normal. Setelah itu pedet akan dikeluarkan dengan menarik pada bagian kaki yang diikat tali saat sapi merejan hingga semua tubuh pedet keluar. Dalam kondisi normal proses kelahiran pedet terbagi kedalam beberapa tahap atau fase, yaitu :

1. Fase pertama : sapi gelisah, vulva kendor, vulva mengeluarkan lendir, sapi merejan, amnion terlihat dan amnion pecah.

2. Fase kedua : organ tubuh pedet sebagian terlihat, sapi merejan dan seluruh tubuh pedet terlihat.

3. Fase ketiga : plasenta keluar

Kelahiran harus sudah terjadi dalam waktu 8 jam, jika pedet belum juga keluar maka perlu mendapat bantuan. Pertolongan diberikan dengan memastikan terlebih dahulu kondisi pedet, setelah dirasa benar maka pedet siap dikeluarkan. Kaki depan akan diikat dengan tali yang sudah dicelupkan iodine 7%. Begitu juga tangan yang akan dimasukkan ke dalam vulva dicelupkan dengan iodine. Pada saat sapi merejan kaki akan ditarik. Pedet yang keluar segera dibersihkan dari lendir-lendir yang tersisa terutama pada bagian hidung dan mulut untuk membantu pernafasan. Induknya pun ikut menjilat-jilat tubuh pedet. Empat sampai lima jam setelah melahirkan plasenta harus sudah keluar. Sapi yang sudah melahirkan segera diberikan vitamin AD3E 5 ml lewat suntikkan di bagian leher (intravena), penstrep yang disuntikkan melalui intravena bagian leher sebanyak 20 ml, dan pemberian calcoral gel 400 ml melalui mulut. Penanganan yang diberikan bertujuan agar kondisi sapi tidak melemah setelah melahirkan (drop). Beberapa jam setelah itu sapi akan diperah untuk diambil kolostrumnya menggunakan mesin perah portable.

GANGGUAN REPRODUKSI

Tinggi rendahnya produksi ternak tergantung bagaimana reproduksinya. Secara keseluruhan penurunan daya reproduksi dan kematian merupakan masalah reproduksi yang belum ditangani secara baik. Umur melahirkan pertama kali dapat dipengaruhi oleh pakan, sehingga membuat siklus berahi selanjutnya tidak normal (lebih panjang/pendek). Beberapa gangguan reproduksi secara umum dipengaruhi oleh lingkungan, hormonal, genetik (anatomi), dan penyakit/infeksi.

Lingkungan

Khususnya dalam hal pemberian pakan, harus diupayakan dengan baik dan seimbang terutama pada umur muda (Herwiyanti, 2006). Pakan yang kurang otomatis akan membuat perkembangan alat reproduksi juga terhambat, dan sekresi hormon terganggu. Begitu juga saat pakan yang berlebih menyebabkan obesitas, pada sapi dara akan mengganggu perkembangannya sedangkan pada sapi dewasa mengganggu ovulasi. Defisiensi vitamin A menyebabkan abortus, defisiensi vitamin AD3E menyebabkan anestrus. Saat defisiensi mineral Phosfor (P) akan terjadi hipofungsi ovari, dan lambat untuk pubertas. Mineral Cuprum (CU), Ferum (FE), Cobalt (CO) dapat menyebabkan kegagalan berahi, begitu juga dengan induk yang kekurangan Yodium maka pedet akan premature dan kondisi lemah saat kelahiran. Saat sapi masuk dalam tahap menyusui akan menghambat hormon GnRH. Iklim juga menjadi salah satu faktor, panas yang berlebih dalam jangka waktu yang lama membuat sapi tidak menunjukkan tanda-tanda berahi. Lingkungan juga berhubungan dengan senilitas/ketuaan, gigi yang aus sehingga sapi tidak nafsu makan akibatnya defisiensi.

Hormonal

1. Sapi anestrus (adanya corpus luteum) fungsi CL itu sendiri mempertahankan kebuntingan.

2. Silent heat bisa disebabkan kekurangan hormon estrogen, sapi yang sudah tua, atau berahi setelah melahirkan.

3. Berahi yang singkat (18 jam) tidak teramati

4. Hipofungsi ovarium, kurangnya hormon FSH (Follicle Stimulating Hormon)

5. Cistik ovari, kurangnya hormon LH (Luteinizing Hormon) menyebabkan sapi mau menaiki tapi tidak mau dinaiki.

Genetik/anatomi

Sifat hereditas (menurun): ovari kecil tidak berkembang, apabila terjadi pada keduanya maka sapi harus diafkir; adanya saluran reproduksi yang tidak berkembang. Untuk sifat yang tidak menurun: ovarium hanya satu, freemartin (kembar jantan dan betina).

Penyakit/infeksi

Dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur dan protozoa. Akibat yang ditimbulkan dari bakteri salah satunya adalah Brucellosis sedangkan virus dapat menyebabkan IBR (Infectious Bovine Rhinotracheitis). Beberapa gangguan reproduksi yang sering terjadi di PT Greenfields Indonesia, yaitu sebagai berikut :

1. Nimfomania (berahi setiap hari)

Penyebab dari nimfomania itu sendiri karena produksi susu yang tinggi tetapi tidak diimbangi dengan nutrisi (intake nutrisi rendah) sehingga kekurangan hormon LH (Luteinizing hormone). Jika dilakukan palpasi parental pada bagian ovarium maka akan terasa salah satu ovarium atau kedua-duanya membesar dan terdapat cairan, dindingnya tipis, diameter lebih dari 2,5 cm serta gejala berahi terus menerus. Persentasi yang terhitung pada kasus seperti ini menunjuk angka 5%, tetapi kejadiannya dalam kelompok berbeda-beda.

Untuk penanganan kasus ini sapi akan diberikan injeksi hormon LH (Lutenizing Hormon) sebanyak 3 ml. Hormon tersebut akan disuntikkan secara intrauteri menggunakan gun plastik.

2. RFM (Retensi Fetal Membran)

Secara fisiologik selaput fetus tanggal dalam waktu 3 sampai 8 jam postpartum. Apabila selaput tersebut menetap lebih lama dari 8 sampai 12 jam, kondisi ini dianggap patologik dan terjadilah retensio secundinae (Toelihere, 1985).

Penyebabnya adalah kegagalan lepasnya vilia kotiledon fetus dari kripta karankula maternal karena dorongan myometrium yang lemah. Uterus akan terus berkontraksi dan sejumlah besar darah yang tadinya mengalir ke uterus sangat berkurang. Karankula maternal mengecil karena suplai darah berkurang dan kripta karankula berdilatasi. Retensio secundinae sebenarnya adalah suatu proses kompleks yang meliputi pengurangan suplai darah diikuti oleh penciutan struktur-struktur plasenta maternal dan fetal, perubahan-perubahan degeneratif dan kontraksi uterus yang kuat (Toelihere, 1985). Plasenta tersebut harus keluar, karena akan mempengaruhi proses reproduksi selanjutnya. Bakteri yang menepel pada plasenta akan masuk kedalam organ reproduksi. Jasad-jasad renik seperti Brucella abortus, Tuberculosis, Campylobacter fetus dan berbagai jamur menyebabkan placentitis.

Gejala yang cukup jelas yaitu sebagian selaput fetus menggantung keluar dari vulva 12 jam atau lebih sesudah kelahiran normal, abortus atau distokia. Sekitar 20 sampai 25 persen memperlihatkan gejala-gejala metritis dengan suhu badan yang tinggi, produksi susu dan berat badan menurun. Pada kasus ini angka kematian sangat sedikit dan tidak melebihi satu sampai dua persen. Apabila ditangani dengan cepat dan baik maka kesuburan sapi tidak banyak terganggu. Pada kasus ini kerugian yang diderita peternak bersifat ekonomis.

Berbagai cara dan sarana telah dipakai untuk menangani Retensio secundinae. Cara yang masih popular dikalangan dokter hewan adalah menyingkirkan selaput fetus secara manual dan memberikan antibiotik. Pelepasan plasenta manual dapat dilakukan dengan menempatkan tangan pada endometrium dan chorion di ruang interkotiledoner dan kotiledon fetal serta karankula dipegang secara individual, ditekan, dan dengan ibu jari serta jari telunjuk memisahkan secara hati-hati. Semua selaput fetus harus dikeluarkan secara keseluruhan tanpa meninggalkan sisa di dalam uterus yang sangat berpotensi terjadinya infeksi. Dapat juga dilakukan irigasi (pencucian) dengan iodine povidone sebanyak 200 ml intravagina. Antibiotik yang dipakai oleh veteriner departemen reproduksi mencakup Oxytetracyclin sebanyak(<<<)

Penyakit pada uterus yang terinfeksi setelah kelahiran pada alat kelamin betina kebanyakan terjadi dari saat melahirkan sampai 3 hari sesudahnya, pada saat cervic, vagina, dan vulva masih mengalami dilatasi. Pada saat tersebut kuman dapat leluasa masuk ke alat kelamin. Terjadinya infeksi tergantung dari virulensi kuman maupun daya tahan yang dimiliki oleh saluran kelamin. Kejadian ini mencapai angka 19% pada tahun 2007.

3. Endometriris (Lendir Infeksi)

Infeksi endometrium merupakan peradangan pada bagian uterus yang paling ringan. Pada umumnya disebabkan oleh infeksi jasad renik yang masuk ke dalam uterus melalui cervic dan vagina. Kuman-kuman yang sering masuk melalui cervic dan vagina adalah Strepthococcus, Staphylococcus, Coli (berasal dari feses, mungkin pada waktu inseminasi buatan, atau pertolongan distokia maupun retensio). Endometritis penyebab utama kemajiran (Toelihere, 1985). Masih dapat dipahami bahwa dalam alat kelamin betina yang mempunyai uterus menderita endometritis masih dapat terjadi fertilisasi, kecuali jika endometritis itu menghasilkan sekresi nanah atau lendir lain yang volumenya banyak sekali hingga menyebabkan perjalanan semen terganggu.

Symptom endometritis sangat tergantung kepada derajat penyakitnya. Endometritis ringan secara klinis sulit diketahui gejalanya. Mungkin diketahui bila dalam keadaan estrus dan lendir berahi yang keluar tidak terang tembus seperti kaca, dimana lendir yang dihasilkan oleh bagian-bagian yang meradang bersifat jernih seperti air (Partodiharjo, 1987). Untuk endometritis yang tergolong lebih berat biasanya menghasilkan sekresi yang mudah dilihat mata dan dikenal secara klinis. Misalnya endometritis mucopurulent yang ditandai dengan keluarnya nanah melalui vagina dan tertinggal di ujung rambut (Partodiharjo, 1987).

Endometritis subklinis di PT Greenfields Indonesia ditandai dengan sapi yang siklus berahinya normal, hanya saja saat dikawinkan sulit bunting, sedangkan pada gejala endometritis klinis ditunjukkan dengan adanya leleran (lendir) yang berwarna keruh atau keputihan. Berbagai kriteria infeksi ditandai oleh tingkat kekentalan lendir tersebut. Beberapa kriteria lendir yang terlihat di lapang :

1. LI +1 : Lendir sedikit keruh tidak terdapat gumpalan

2. LI +2 : Lendir berwarna keputihan, adanya sedikit gumpalan

3. LI +3 : Lendir berwarna putih dengan jumlah gumpalan yang cukup

Banyak

Sebelum terjadinya endometritis, biasanya sapi-sapi tersebut mengalami distokia saat melahirkan, atau RFM. Diagnosis endometritis pada umumnya disusun menurut pemeriksaan rektal, vagina, anamnese, dan biopsi (Partodiharjo, 1987). Menurut anamnese biasanya sapi yang endometritis tidak bunting saat dikawinkan. Untuk pemeriksaan pravaginal didapatkan adanya sedikit lendir dalam vagina. Volume sekresi biasanya tidak banyak, lendir akan mengalir menuju vulva. Untuk pemeriksaan rektum umumnya didapatkan kedua uterus sedikit membesar dibandingkan uterus yang tidak bunting dan didapatkan juga penebalan pada dinding uterus. Diagnosa yang sempurna ialah bila diadakan biopsi. Dengan biopsi, pewarnaan dan pemeriksaan mikroskopik akan dapat gambaran yang jelas dan pasti tentang endometrtis, karena sifat peradangan pada jaringan endometrium dengan jelas terlihat dibawah mikroskop.

Banyak sekali macam dan cara pengobatan yang dilakukan dan pada umumnya berhasil baik. Pengobatan yang dilakukan dengan menyutikkan OTC (Oxytetracyclin). Larutan OTC dibuat dari campuran Aqudest 60 ml + Alamycin LA 6 ml secara intrauteri atau dengan menggunakan metricure 10 ml melalui intrauteri (gun plastik). Antibiotik yang dimasukkan kedalam uterus bertujuan untuk menstimulir organ reproduksi betina lalu membasmi jasad renik yang meradang dalam uterus. Untuk kasus endometritis yang menyerang pada tahun 2007 sebesar 20% yang diperoleh dari data sapi-sapi transisi.

4. Metritis

Metritis atau peradangan seluruh bagian uterus meliputi semua lapisan dinding uterus. Kejadiannya berlangsung dua minggu setelah beranak. Sifat toksiknya terjadi dalam waktu 3-5 hari setelah melahirkan. Metritis umumnya disertai septicemia berat atau toksemia (metritis septika). Penyebab infeksi yang paling banyak ditemukan adalah kuman-kuman koliform seperti, E.coli, Strepthoccocus, Staphiloccocus dan defisiensi mineral.

Gejala yang sering timbul biasanya tampak lesu, menahan rasa sakit, produksi susu akan menurun, tidak mampu untuk berdiri, anoreksia, dan keluarnya discharge (cairan) encer berwarna coklat dan berbau amis. Pada saat dilakukan palpasi rektal menunjukan uterus membesar (tidak normal), cervic teraba lebih besar dari biasanya, dan kadang-kadang bila uterus ditekan maka akan mengeluarkan leleran yan bersifat mucopurulent. Keadaan ini memungkinkan tidak teraturnya siklus berahi (Subronto dan Tjahajati, 2001). Kerugian yang akan diterima oleh peternak dalam kasus ini dapat menyebabkan penurunan angka kelahiran, penurunan produksi, penurunan berat badan, munculnya reapet breeder, pyometra dan majir (Hardjopranjoto, 1995). Di PT Greenfields Indonesia kondisis ini sudah mencapai angka 20% pada tahun 2007. Berikut adalah gambar sapi yang terserang metritis.

Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik Engemycin (Oxytetraxyclin) sebanyak 20 ml secara intrauteri atau dengan menggunakan Utozym. Jika sapi dalam kondisi parah sapi segera diinfus dengan OTC 200 ml (Aqudest 200 ml + Alamycin 20 ml). Pencegahan yang dapat dilakukan dengan memperbaiki sanitasi kandang, peralatan yang steril saat penanganan distokia, proses inseminasasi buatan yang aseptis, serta pemberian pakan dengan cukup mineral.

5. Pyometra

Pyometra merupakan penyakit yang ditandai dengan teririsnya rongga uterus oleh eksudat purulent dan biasanya tanpa diikuti oleh gejala-gejala penyakit sistemik (Subronto dan Tjahajati, 2001). Kejadian pyometra korpus luteum (CL) dapat diraba pada salah satu ovariumnya. Mungkin saja CL tidak ada, atau melekat dan tidak dapat dipalpasi. Korpus luteum yang terdapat pada pyometra terjadi karena adanya ovulasi post-partum. Pada umumnya pyometra terlihat lebih kurang 3 minggu setelah kelahiran sampai sepanjang masa laktasi. Pyometra biasanya diawali oleh kelahiran yang abnormal. Beberapa keadaan pyometra yang sering dijumpai dalam sifat tertutup (tanpa leleran) maupun terbuka (adanya eksudat dari vagina). Uterus terasa jauh lebih besar dari normal. Eksudat dapat bersifat kuning sampai bercampur darah.

Pengamatannya melalui lendir yang sangat kental dengan banyaknya gumpalan-gumpalan putih keluar dari vulva. Kebanyakan pyometra dapat disembuhkan dengan sekali pengobatan. Untuk pengobatan, tujuan utamanya adalah mengosongkan uterus dengan meningkatkan kontraksi atau menghilangkan CL (Corpus Luteum).

Obat-obatan yang dapat digunakan meliputi estrogen, oxytocin, prostaglandin atau analognya (Subronto dan Tjahajati, 2001). Terapi pyometra yang dilakukan oleh bagian veteriner dengan menyuntikkan hormon PGF2α, Oxytocin, atau menggunakan Metricure (Cefapirin benzhatine) 500 mg intrauteri. Berikut adalah beberapa peralatan yang digunakan untuk mendukung kegiatan reproduksi, dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6. Alat-alat yang Digunakan di Departemen Reproduksi

PT Greenfields Indonesia

Nama

Jumlah

Keterangan

Container straw

(kapasitas ± 3000)

2 unit

Menyimpan straw (stock)

Container nitrogen cair (34-36 l)

1

Nitrogen (stock)

Container kapasitas (180 straw)

1

Menyimpan straw

Gun stainless

2

Inseminasi Buatan

Gun plastik

50 buah

Penanganan antibiotik

Plastik sheet

1000 buah

Inseminasi Buatan

Pen stick orange

12/Kotak

Chalking

Tell tail green

1 liter/Botol

Chalking

Thawing aki

1 set

Pengenceran sperma dengan suhu stabil

Cutter

3

Pemotong lastic sheet

Tissue

250sheath/ Bungkus

Sanitasi

Spoit

5

Treatment antibiotic

Jarum

10

Treatment antibiotic

Gloves (sarung tangan)

100/Box

Palpasi organ reproduksi

Buku catatan (data recording)

1 set

Data siklus, infeksi

Sumber : PT. Greenfields Indonesia Departemen Reproduksi, 2007


KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis mengenai manajemen reproduksi dan gangguan reproduksi sapi perah PT Greenfields Indonesia, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Manajemen reproduksi yang meliputi deteksi berahi, sistem perkawinan, program sinkronisasi (penyerentakkan berahi) dan pemeriksaan kebuntingan dapat dikatakan baik.

2. Rekording yang dilaksanakan di PT Greenfields Indonesia dengan menggunakan sistem Dairy Comp 305 dan catatan reproduksi di lapang seperti pencatatan sapi berahi, pencatatan sapi yang dikawinkan, pengamatan lendir infeksi dilakukan secara teratur, baik dan lengkap dalam memuat data.

3. Evaluasi reproduksi dapat dilihat melalui data sekunder dengan menggunakan parameter reproduksi seperti service per conception, conception rate dan calving interval dapat dikatakan sudah baik.

DAFTAR PUSTAKA

Bakely J dan Bade P.H. 1998. Ilmu Peternakan. Edisi keempat. Terjemahan Srigandono B. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta

Hardjopranjoto, W. 1995. Ilmu Kemajiran pada Ternak. Airlangga University Press: Surabaya

Herwiyanti, E.M.P, drh. 2006. Makalah Seminar Pelatihan Inseminator pada Sapi/Kerbau BIB Singosari: Malang

Ihsan, N. 1992. Diktat Inseminasi Buatan. Program Studi Inseminasi dan Pemuliaan Ternak. Animal Husbandry Project. Universitas Brawijaya: Malang

Lindsay D.R, Enwistle K.W dan Winantea A. 1982. Reproduksi Ternak di Indonesia. Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Brawijaya: Malang

Lubis, O.P drh. 2006. Makalah Seminar Pelatihan Inseminator pada Sapi/Kerbau BIB Singosari: Malang

Nuryadi. 2006. Dasar-Dasar Reproduksi Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya: Malang

Partodihardjo, S drh. 1987. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara Sumber Widya: Jakarta

Subronto dan Tjahajati, I. 2001. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta

Toelihere M.R.1979. Fisiologi Rerpoduksi pada Ternak. Angkasa: Bandung

Toelihere M.R. 1985. Ilmu Kebidanan pada Ternak Sapi dan Kerbau. Universitas Indonesia Press: Bogor

h1

PAKAN SAPI PERAH

July 29, 2008

DITULIS OLEH JUNAIDI KARO KARO

PEMBAHASAN

TATALAKSANA PEMBERIAN PAKAN SAPI PERAH

DI PT. GREENFIELDS INDONESIA

Peternakan sapi perah merupakan peternakan penghasil susu, dimana sapi perah merupakan ternak yang lebih dominan sebagai penghasil susu, dibandingkan dengan ternak perah lainnya. Sapi perah mempunyai kemampuan untuk mengubah pakan yang berupa konsentrat dan hijauan menjadi susu yang bermanfaat bagi kesehatan. Pemberian pakan merupakan hal yang penting diperhatikan dalam pemeliharaan sapi perah. Kualitas pakan yang diberikan dan tatalaksana pemberian pakan yang baik, merupakan faktor penunjang untuk produksi susu, kesehatan tubuh maupun kesehatan reproduksi sapi perah. Cara pemberian pakan yang terprogram akan memberikan hasil yang baik. dan apabila pemberian pakan salah malah sebaliknya akan memberikan efek negatif bagi kesehatan sapi perah.

Pengadaan dan Penanganan Bahan Pakan

Bahan makanan harus menyediakan zat-zat makanan yang dapat digunakan untuk membangun dan menggantikan bagian-bagian tubuh dan menghasilkan produk seperti susu, telur, dan woll (Anggorodi, 1994). Didalam memilih bahan baku pakan untuk menyusun ransum harus diperhatikan faktor-faktor seperti palatabilitas, nilai gizi, mudah diperoleh, tersedia sepanjang waktu, harga murah dan tidak mengandung racun (Chuzaemi dan hartutik, 1988).

Penyediaan bahan baku sangat penting dalam menunjang proses produksi perusahaan. Tanpa adanya persediaan bahan baku yang memadai dapat mengakibatkan proses produksi terganggu. Implikasi dari pengadaan bahan baku ini adalah timbulnya biaya-biaya seperti biaya pemasaran dan biaya penyimpanan bahan baku (Prawirosentono, 2001)

PT. Greenfields Indonesia dalam merencanakan penyediaan bahan baku pakan sapi perah memperhatikan beberapa aspek, antara lain ketersediaan bahan baku, kandungan nutrisi bahan baku, dan kebutuhan nutrisi ternak yang dipelihara.

Bahan baku yang digunakan sebagai bahan pakan sangat memperhatikan kualitas. Sebelum bahan pakan masuk ke gudang pakan, terlebih dahulu di lakukan pengecekan bahan baku di kantor QC (Quality control), dikantor tersebut juga terdapat pos timbang. Di kantor pos timbang diadakan pengecekan bahan baku, pengecekan yang dilakukan meliputi presampling dan unloading.

Pengecekan presampling dilakukan pada saat bahan pakan baru datang dari luar perusahaan dan masuk pos timbang, disana dilakukan pengecekan yang meliputi pengecekan warna yang sesuai dengan bahan baku pakan, tekstur, aroma apakah masih bagus atau sudah bau tengik, dan kelembaban bahan pakan. Setelah bahan pakan ditimbang dan dinyatakan dapat digunakan, bahan-bahan tersebut dikirim ke gudang pakan dan ditumpuk ditempat yang telah disediakan di dekat gudang pakan.

Pada saat penurunan dilakukan kembali pengecekan unloading. Pengecekan yang dilakukan sama dengan pengecekan presampling. Di PT. Greenfields Indonesia bahan baku yang digunakan sebagai bahan pakan sudah mempunyai standar sendiri dari perusahaan. Proses penyediaan bahan pakan dapat dilihat dari gambar 1.

Gambar 1. Proses penyediaan bahan pakan di PT. Greenfields Indonesia

Penyimpanan bahan pakan yang digunakan untuk pembuatan ransum, disimpan dengan tumpukan maksimal 20 sampai 25 karung setiap tumpukan. Penumpukan bahan pakan disebabkan kurangnya tempat penyimpanan dan tergantung dari ukuran kavling penyimpanan bahan pakan. Pada kavling besar biasanya bahan pakan ditumpuk dengan tinggi tumpukan rata-rata 15 karung, hal tersebut dapat dilihat dari besarnya ukuran kavling yang digunakan. Penyimpanan bahan pakan yang diletakkan diluar gudang ditutup dengan terpal, dan bagian bawahnya diberi alas berupa pallet dari kayu. Fungsi pembungkusan menurut Chuzaemi dan Hartutik (1989) yaitu mempertahankan kondisi fisik bahan makanan dan menahan gangguan ari luar.

Penggunaan bahan pakan untuk pembuatan ransum menggunakan metoda FIFO (first in first out). bahan pakan yang lebih awal datang digunakan terlebih dahulu agar tidak terjadi perubahan komposisi nutrisi yang terkandung dari bahan baku pakan. Penyimpanan bahan baku pakan yang terlalu lama dapat mempengaruhi komposisi nutrisi bahan pakan.

Penanganan dan Pengadaan Hijauan

Hijauan merupakan salah satu bahan pakan yang penting untuk sapi perah. Hijauan yang diberikan sebagai pakan sapi perah di PT. Greenfields Indonesia adalah rumput raja (king grass), silase jagung, cane top tebu yang dikeringkan, dan alfalfa. Penyediaan pakan hijauan diperoleh dari kebun rumput PT. Greenfields Indonesia, dan dari lahan pertanian sekitar. Lahan yang digunakan sebagai kebun rumput seluas 8 Ha, untuk memproduksi rumput tersebut dikerjakan oleh petani sekitar daerah peternakan, dengan sistim kontrak atau borongan dari perusahaan.

Gambar 2. kebun hijauan PT. Greenfields Indonesia.

Pemanenan rumput king grass dilakukan setiap hari pada pagi hari. Setelah dipanen dari kebun dibawa ke perusahaan, sebelum masuk ke feed processing rumput tersebut ditimbang terlebih dahulu di post timbang setelah itu baru dibawa ke tempat pemotongan rumput ( chopper processing ). Pemanenan rumput king grass pertama kali dipanen pada umur 60 hari, setelah itu interval pemotongannya adalah 40-50 hari sekali, jarak tanam sekitar 10 cm dan 1 ikat king grass yang telah dipanen beratnya mencapai 30 kg.

Selain itu sapi juga diberi rumput alfalfa, pemberian rumput alfalfa hanya diberikan kepada sapi yang status produksi early dan bunting transisi. Jumlah pemberian rumput alfalfa dengan target berkisar antara 1,5-2 kg per ekor. Pemberian ruput alfalfa hanya merupakan pilihan dan kapasitas pemberian tidak terlalu banyak karena banyak sedikitnya pemberian rumput alfalfa kepada sapi bergantung dari banyak atau tidaknya produksi rumput. Luas lahan yang digunakan untuk kebun alfalfa sekitar 2,3 ha. Jumlah panen berkisar antara 200-250 kg per hari. Penanaman dilakukan dilokasi sekitar peternakan. Jarak tanam rumput 10 cm dan pemanenan dilakukan pada umur 25-26 hari dengan interval panen 30-40 hari sekali dengan ciri-ciri fisual yaitu kuncup bunga mulai mekar. Jarak pemotongan dari tanah berkisar dari 3-5 cm. Kebun alfalfa dapat dilihat pada gambar 3.

Silase yang digunakan yaitu berasal dari tebon jagung yang didapatkan dari perkebunan sekitar perusahaan. Pembuatan silase ditujukan untuk mengantisipasi apabila bahan pakan hijauan kekurangan. Beda silase jagung dengan tebon jagung yang masih segar yaitu silase dapat dijaga kualitasnya tetapi dari kesegaran dan nutrisi dapat berubah karena pada saat pembuatan silase ada energi yang terbuang. Pembuatan silase jagung melalui beberapa tahap.

1. Pengumpulan tebon jagung yang akan dijadikan silase

2. Setelah itu dilakukan penyimpanan selama 3 minggu untuk mengurangi kadar air yang terkandung didalam tebon jagung tersebut.

3. Tebon jagung di chopper dengan pharsa bager dengan potongan 2-5 cm. Gambar Pharsa bager

4. Potongan tebon jagung di simpan kedalam plastic pharsa bag yang anaerob guna menghindari fermentasi yang bisa merusak silase. Kapasitas penyimpanan silase dari plastic pharsa bag ini mencapai 280 ton dengan panjang 70 meter. Gambar plastic pharsa bag

5. Silase disimpan dan dapat digunakan setelah dry matter nya mencapai 35% dengan PH normal.

Jadwal pemeliharaan pedet di PT. Greenfields Indonesia

Cara Pemberian Pakan

Waktu pemberian pakan dilakukan dua kali yaitu pagi dan sore hari. Pemberian pakan pedet dilakukan oleh petugas kandang dengan cara meletakkan pakan kedalam tempat pakan yang telah disediakan. Sapi yang ada di PT. Greenfiels Indonesia semua diberikan pakan fresh, dan semua sisa pakan dibuang. Setiap sisa pakan ditimbang untuk menentukan intake yang dimakan. Gambar. Pemberian pakan pada pedet.

Pemberian Air Minum

Air merupakan zat yang penting bagi kehidupan, dan diperlukan oleh setiap makluk hidup. Dalam sebuah usaha peternakan, air merupakan unsur yang penting, salah satunya digunakan sebagai air minum untuk ternak. Di peternakan PT. Greenfields Indonesia sapi perah diberikan air minum yang bersih dan segar, dan air minum disediakan ad libitum, untuk kandang pedet yang belum disapih, air minum diberikan didalam drum yang telah dipotong bagian atasnya. Pengisian air dilakukan secara manual oleh petugas kandang.

Untuk kandang pedet yang lepas sapih disediakan air minum yang bersih, dan didalam bak dilengkapi dengan pelampung sistem, yang berfungsi menjaga air agar selalu dalam keadaan penuh. Menurut Wattiaux ( 2003), pemberian air bersih yang segar harus tersedia secepat mungkin pada saat pakan diberikan, konsumsi dari bahan kering ditingkatkan oleh konsumsi air yang diberikan.

Pemberian air minum untuk sapi dewasa disediakan dump tank system didalam kandang, dilengkapi dengan pelampung sistem yang berfungsi menjaga air dalam dump tank agar selalu dalam keadaan penuh.

Gambar. Pemberian air minum

Pemberian Susu Pengganti Untuk Pedet (Milk Replacer)

Susu pengganti dikenal juga sebagai Milk Replacer digunakan sebagai cadangan susu apabila di peternakan kekurangan susu untuk pedet yang dipelihara. Pemberian milk replacer diberikan setelah pedet berumur lebih dari 10 hari. Pemberian milk replacer kepada pedet di peternakan PT Greenfields Indonesia hanya pada saat susu mengalami kekurangan. Jadi jumlah penggunaan milk replacer yang digunakan di PT. Greenfields Indonesia tidak mempunyai target pemberian bulanan, karena susu yang dihasilkan dari induk untuk dikonsumsi pedet dapat kurang kapan saja dan hal itu yang menyebabkan pemberian milk replacer tidak ada target pemberian.

Pemberian milk replacer dengan perbandingan 1 kg milk replacer : 8-10 liter air, dengan temperature 45 – 55ºC . Pencampuran milk replacer dilakukan didalam drum plastik dengan menambahkan air panas kedalamnya. Pemberian milk replacer yang sudah dicampur dengan air panas diberikan dengan menggunakan milk bar teat dengan suhu susu berkisar antara 30 sampai 39ºC. Milk replacer yang diberikan untuk pedet yaitu Kalvolac dengan kandungan protein 22,5%, lemak 16,0%, mineral 11,0%, dan serat kasar 1,2%. Gambar calf milk replacer yang diberikan kepada pedet.

Pengadaan dan Penanganan Bahan Baku

Keberhasilan usaha peternakan apabila fakor-faktor penunjang dapat tepenuhi, salah satunya adalah faktor pakan yang sangat penting dalam keberhasilan usaha, sehingga ketersediaan bahan baku pakan harus diperhatikan sebelum mendirikan usaha peternakan. Pakan yang telah didatangkan setelah sampai ke gudang pakan harus mendapat perlakuan yang sesuai dengan jenis pakan yang bersangkutan, karena setiap bahan baku pakan memiliki karakteristik berbeda-beda agar kualitas pakan bertahan lama dan tidak mudah rusak, maka penanganan bahan baku pakan harus selalu mendapatkan perhatian oleh pengusaha peternakan.

Pakan dibuat dari sejumlah bahan baku yang dikombinasikan dengan perbandingan yang berbeda untuk membentuk keseimbangan zat-zat nutrisi, mineral dan pakan yang sempurna (Anonimus, 1998).

Manajemen Pemberian Pakan

Pemberian pakan sapi perah yang dilakukan di PT. Greenfields Indonesia dilakukan berdasarkan keadaan sapi yang dipelihara didalam kandang. Perlakuan terhadap pemberian pakan sangat diperhatikan, dengan tujuan menghindari stres pada sapi. Menurut sudono (1999), cara pemberian pakan yang salah dapat mengakibatkan penurunan produksi, gangguan kesehatan dan bahkan dapat juga menyebabkan kematian.

Manajemen Feed Bunk

Pakan yang Diberikan Kepada Sapi

Pakan merupakan faktor yang paling penting yang dapat mempengaruhi produk dan kualitas susu serta mempengaruhi kesehatan sapi baik kesehatan tubuh maupun kesehatan reproduksinya (Sudono, et al. 2003). Di PT. Greenfields Indonesia sapi perah dipelihara dalam skala industri besar dan pemberian pakanpun menggunakan mobil roto-mix. perusahaan mempunyai manajemen tersendiri yang disebut dengan manajemen feed bunk. Dalam manajemen ini, setiap perlakuan dalam pemberian pakan mempunyai tujuan yang bersifat positif terhadap sapi perah yang di pelihara.

Pakan yang diberikan untuk sapi perah berupa pakan complit feed dalam keadaan fresh feed. Pemberian pakan complit feed ini bertujuan :

1. Efisiensi tenaga kerja manusia yang dapat dilakukan dengan mobil roto-mix.

2. Mencegah pemberian pakan berulang-ulang yang dapat menimbulkan sapi mengalami stres yang berpengaruh terhadap gangguan produksi.

3. Penyedian pakan yang cepat, agar sapi dapat selalu makan untuk mencukupi kebutuhan pokok dan produksi.

4. Pakan complit feed dengan campuran silase jagung, hijauan segar, konsentrat dan bahan feed aditif, yang mempunyai tekstur potongan-potongan kecil dapat mempermudah sapi dalam mengkonsumsi pakan.

5. Pakan sisa tidak digunakan lagi bertujuan untuk mencegah sapi tidak keracunan yang diakibatkan oleh fermentasi didalam bahan makanan sapi tersebut.

6. setiap sisa pakan yang dihasilkan dari setiap pen dikumpulkan, dan setelah itu ditimbang untuk menentukan feed intake dan untuk menentukan realisasi pemberian pakan.

Pemberian Pakan dan Pakan yang Diberikan

Pakan yang diberikan kepada sapi dalam keadaan fresh feed, keunggulan dari pemberian pakan secara fresh feed dari keadaan pakan yang segar dan aroma yang harum, dapat meningkatkan palatabilitas makan sapi sehingga kebutuhan untuk mencukupi kebutuhan pokok dan kebutuhan produksi dapat segera tersedia kembali. Pakan diberikan sesuai kebutuhan nutrisi sapi perah dalam keadaan fresh feed bertujuan agar kualitas pakan yang diberikan tetap baik kandungan nutrisinya.

Tujuan pemberian pakan fresh ini yaitu untuk meningkatkan palatabilitas makan sapi, sehingga pada saat sapi selesai diperah dan balik lagi ke kandang, bisa langsung makan dengan kondisi pakan yang diberikan fresh. Hal ini dapat menarik perhatian sapi agar tidak langsung tidur diatas bedding pada saat selesai diperah, dan dapat memberikan kesempatan kepada otot puting (spincter) yang terbuka pada saat diperah sehingga pada saat sapi makan otot tersebut dapat tertutup kembali dengan sempurna, dan dapat mencegah bakteri untuk masuk kedalam ambing yang dapat menyebabkan penyakit mastitis.

Pakan yang telah dibuat berdasarkan status sapi yang ada didistribusikan ke tempat pakan (feed bunk). Pemberian pakan untuk sapi dewasa yang berproduksi maupun yang tidak berproduksi diberikan dengan menggunakan mobil roto-mix, untuk pemberian pakan pedet dilakukan manual oleh karyawan kandang. Pemberian pakan untuk sapi dewasa didistribusikan di feed bunk dan untuk pedet, pakan diletakkan kedalam tempat pakan yang telah disediakan didalam kandang. Pakan diberikan dua kali sehari berdasarkan jadwal yang telah ditentukan.

Di PT.Greenfields Indonesia mengadakan rearing untuk memasok replacemen stock sapi, hal ini dilakukan untuk menghemat biaya mengingat harga bibit impor yang relatif mahal, dan mempertahankan produksi. Program pemeliharaan, pembesaran dan pemberian pakan pun dilakukan.

Pemberian Susu Untuk Pedet Dari Umur 0 sampai 3 Bulan

Pada saat induk sapi melahirkan, pedet yang dilahirkan harus diberi kolostrum. Karena pedet yang baru dilahirkan, tidak memiliki kekebalan tubuh (antibodi) yang cukup untuk melawan penyakit. Didalam kolostrum terdapat Imunoglobulin (Ig) yang berfungsi sebagai antibodi yang dibawa oleh induk, dan akan diberikan kepada anaknya pada saat pedet meminumnya. Setelah pedet lahir kolostrum diberikan tiga kali pemberian dalam sehari dengan interval waktu:

- Pemberian pertama 1 – 1,5 jam setelah pedet dilahirkan, dengan pemberian kolustrum sebanyak 2 – 3 liter

- Pemberian kedua 4 – 6 jam setelah pemberian pertama, dengan pemberian kolustrum sebanyak 3 liter

- Pemberian ketiga 5 – 6 jam setelah pemberian kedua, dengan pemberian kolustrum sebanyak 3 liter

Kolostrum diberikan sampai hari ke empat (1 hari dengan kolustrum penuh dan hari ke 2 – 4 diberikan susu fresh). Susu fresh merupakan susu yang masih mengandung Imunoglobulin (Ig) yang dihasilkan oleh sapi dengan DIM 1 sampai DIM 5 (PT. Greenfields Indonesia, 2008). kwalitas kolostrum dengan susu biasa dapat dilihat dari tabel 1.

Tabel 1. Kwalitas Susu Kolostrum dan Susu Biasa

Komposisi Susu

1

2

3

4

5

11

Kolostrum

Susu Transisi

Susu Biasa

Total solid (%)

23,9

17,9

14,1

13,9

13,6

12,9

Total protein (%)

14,0

8,4

5,1

4,2

4,1

4,0

Imunoglobulin (%)

6,0

4,2

2,4

0,2

0,1

0,09

Lemak (%)

6,7

5,4

3,9

4,4

4,3

4,0

Laktosa (%)

2,7

3,9

4,4

4,6

4,7

4,9

Mineral (%)

1,11

0,95

0,87

0,82

0,81

0,74

Sumber : Departemen Breeding PT. Greenfields Indonesia, 2007

Setelah pedet lepas kolustrum, pedet diberi susu transisi. Susu transisi merupakan campuran susu fresh dengan susu biasa secara grandual bertahap dengan perbedaan 10% setiap pemberian. Sampai pedet umur 10 hari, pedet sudah mulai minum susu biasa atau bisa menggunakan calf milk replacer (PT. Greenfields Indonesia, 2008).

Pemberian susu dua kali (pagi dan sore) sebanyak 3 liter/ekor tiap pemberian, cara pemberian susu dengan menggunakan dot atau pentil karet (milk bar teat). Pemberian susu untuk pedet, diberikan sampai umur tiga bulan. Setelah mencapai umur 2,5 bulan, pedet mulai disapih (weaning program). Program sapih dilakukan dengan cara mengurangi pemberian susu sebanyak 10% setiap pemberian, program sapih juga dilihat dari kondisi makan pedet. Pada saat disapih rata-rata bobot badan pedet sudah mencapai 115 kg. Pemberian susu dan pakan pedet di PT. Greenfields Indonesia dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Data Pemberian Susu dan Pakan Pedet

Umur

1-14 hari

15-25 hari

26-36 hari

37-47 hari

48-58 hari

59-69 hari

70-80 hari

81-90

hari

Susu (ltr/ek/hr)

4-6

6

6

6

6

5

4

2

Konsentrat

(kg/ek/hr)

0,05

0,075

0,125

0,250

0,250

0,500

0,800

1,000

Hijauan

Ad lib

Ad llib

Ad lib

Ad lib

Ad lib

Ad lib

Ad lib

Air minum

Ad lib

Ad lib

Ad lib

Ad lib

Ad lib

Ad lib

Ad lib

Sumber: Departemen Breeding PT. Greenfields Indonesia, 2007

Pemberian Pakan Pedet Jantan Umur 0 – 5 Bulan

Pakan konsentrat mulai diberikan pada umur satu minggu, dan juga diberi hijauan tambahan (star grass) pada umur dua minggu (pakan calf 1 dengan kandungan protein 20%, TDN 78%, dan ADG 0,7 kg) mulai diberikan kepada pedet jantan pada umur dua Minggu. Pemberian pakan calf 1 diberikan sampai pedet berumur 2,5 bulan. Pada umur tersebut dilakukan transisi pakan calf 1 dengan pakan calf 2. Transisi pakan diberikan secara grandual dengan perbedaan 10% sampai pakan yang baru utuh diberikan 100%. Setelah pakan calf 2 utuh diberikan, transisi ke pakan calf 3 langsung diberikan. Pemberian pakan calf 3 diberikan lebih cepat, bertujuan agar pedet jantan bisa menyesuaikan pakan yang ada di peternakan Probolinggo. Di PT. Greenfields Indonesia, pedet jantan dipelihara sampai berumur 5 bulan.

Pemberian Pakan Pedet Betina Umur 0 – 6 Bulan

Di PT. Greenfields Indonesia pemeliharaan pedet betina dilakukan sampai umur enam bulan. Pedet mulai diberi konsentrat dan hijauan (pakan calf 1 dengan kandungan protein 20%, TDN 78%, dan ADG 0,7 kg), pada umur dua minggu. Pemberian pakan calf 1 diberikan sampai pedet berumur 2,5 bulan. Setelah itu pakan calf 1 mulai ditransisi dengan pakan calf 2. transisi pakan diberikan secara grandual dengan perbedaan 10% sampai pakan yang baru utuh diberikan 100%.Pakan calf 2 (dengan Kandungan protein 19% dan TDN 74%, dan ADG 0,7 kg) diberikan sampai pedet berumur lima bulan, dan setelah itu transisi ke pakan calf 3 mulai dilakukan. Pemberian pakan calf 3 (dairy heifer) diberikan sampai pedet menjadi sapi dara (heifer).

Pemberian Pakan Sapi Dara Umur 6 - 20 Bulan

Setelah pedet berumur 6 bulan pedet dipelihara di Probolinggo dengan manajemen pemberian pakan yang ada di peternakan Probolinggo. Pakan yang diberikan adalah pakan calf 3 (dairy heifer) dengan kandungan protein 18% dan TDN 58%.

Pemberian Pakan Sapi Dara Bunting Umur 20 - 24 Bulan

Setelah umur sapi dara bunting 5 bulan menjelang melahirkan, sapi tersebut dikirim lagi ke peternakan PT. Greenfields Indonesia. Pakan diberikan dengan menggunakan mobil roto-mix untuk mendistribusikan ke tempat pakan (feed bunk). Sapi dara bunting tersebut diberikan pakan DP (dry pregnant) dengan kandungan protein 12 % dan TDN 58 %.

Waktu Pemberian Pakan

Pemberian pakan sapi perah di PT. Greenfields Indonesia dilakukan dua kali dalam sehari. Jadwal pemberian pakan disesuaikan dengan jadwal yang telah ditentukan. Waktu pemberian pakan pedet dilakukan dua kali dalam sehari yaitu pemberian pada pagi hari berkisar antara jam 09.00-10.00 dan pemberian yang kedua dilakukan pada sore hari berkisar antara jam 16.00-17.00 WIB. Pemberian pakan pedet dilakukan oleh petugas kandang, dengan cara meletakkan pakan kedalam tempat pakan yang telah disediakan.

Pemberian pakan sapi dewasa di diberikan berdasarkan jadwal yang telah ditentukan. Pakan didistribusikan dengan mobil roto-mix ke feed bunk pada saat sapi berangkat ke tempat pemerahan, dan pada saat sapi balik ke kandang pakan sudah tersedia dalam keadaan fresh.

Realisasi Pemberian Pakan

Pakan didistribusikan diatas feed bunk, dengan pemberian pakan yang dilakukan seperti ini, sapi dapat leluasa memakan pakan yang telah disediakan. Walaupun pakan diberikan dengan cara di distribusikan di atas feed bunk, persaingan makan antara sesama sapi dapat dikendalikan dengan pemasangan head lock, sehingga sapi hanya dapat memakan pakan yang ada didepannya dan tidak mengganggu sapi lain yang makan disebelahnya. Jumlah pemberian pakan disesuaikan dengan kebutuhan sapi dan produksi susu.

Realisasi pemberian pakan bertujuan untuk menentukan feed intake sapi. Pakan yang diberikan sangat memperhatikan feeding cost, karena biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan pakan sapi perah merupakan salah satu biaya yang besar dalam operasional pemeliharaan sapi perah.

Pemberian pakan dilebihkan sebanyak 4%. Hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan akan konsumsi pakan terhadap sapi yang kekurangan pakan, yang disebabkan persaingan makan antara sesama sapi. Selain itu bertujuan menghindari negatif energi balance (NEB), pada sapi dengan status produksi early. Pada sapi yang berproduksi susu tinggi lebih banyak menguras lemak tubuh untuk kebutuhan produksi.contoh realisasi pemberian pakan tanggal 2 May 2008 dapat dilihat pada table 3.

Perlakuan Terhadap Pakan dan Tempat Pakan (feed bunk)

Dalam pembuatan pakan complit feed yang dilakukan oleh PT. Greenfields Indonesia, ada beberapa perlakukan yang diberikan terhadap pakan yang terdapat di feed bunk. Perlakukan tersebut dilakukan agar dapat meningkatkan palatabilitas makan sapi. Perlakuan yang dilakukan antara lain pembalikan pakan yang dilakukan dua kali sehari. Pembalikan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kembali nafsu makan sapi, dan juga untuk menghindari pakan tersebut panas yang disebabkan oleh fermentasi didalam pakan. Selain itu pembalikan juga berfungsi untuk meningkatkan dan mengeluarkan bau pakan, yang dapat menarik perhatian sapi untuk makan kembali. Pembalikan yang dilakukan juga bertujuan agar semua pakan dapat habis dan tidak banyak terdapat sisa, hal ini disebabkan sapi lebih cenderung memakan pakan yang baru datang.

Pakan yang diberikan pada pagi hari dimundurkan pada saat pakan yang baru di distribusikan, perlakukan tersebut dilakukan bertujuan menarik perhatian sapi untuk makan, dengan aroma harum yang di keluarkan oleh pakan yang baru dapat menarik perhatian sapi yang tidur diatas bedding.

Perlakukan lain yang dilakukan yaitu memajukan dan meratakan pakan di sepanjang feed bunk, perlakukan ini dilakukan pada saat pakan sudah mulai jauh dari feed bunk dan pakan susah dijangkau oleh sapi. Pakan diratakan agar sapi dapat makan dengan merata disepanjang feed bunk dan juga untuk efisiensi pakan.

Perlakuan yang dilakukan terhadap tempat pakan (feed bunk) yaitu dengan cara melakukan pengerikan sisa pakan yang menempel, dengan hand tractor yang dimodifikasi. Pengerikan feed bunk dilakukan setiap pagi, bertujuan untuk mengerik sisa pakan yang menempel pada feed bunk. Pengerikan ini bertujuan agar pakan yang baru tidak gampang tengik, dan juga untuk kebersihan feed bunk.

Penyapuan central alley dan penyapuan pakan yang berceceran dilakukan tiga kali dalam sehari. Perlakukan ini dilakukan pada saat mau pergantian shif kerja karyawan kandang. Penyapuan ini ditujukan untuk kebersihan central alley dan efisiensi pakan yang berceceran.

Untuk mengetahui kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan, setiap hari dilakukan pengambilan sampel pakan yang dilakukan dua kali sehari dengan jumlah pengambilan sebanyak 2 kg setiap pengambilan. Pengambilan sampel pakan dilakukan pagi hari jam 06.00, dan pada sore hari jam 17.00 WIB. Kualitas pakan di cek di pos timbang yang berfungsi juga sebgai tempat pengecekan bahan pakan (Quality control). Pengecekan pakan dilakukan bertujuan untuk mengetahui kualitas pakan yang diberikan kepada sapi perah setiap harinya.

Proses Pembuatan Pakan

Pakan yang dibuat merupakan pakan complit feed, dalam pembuatan pakan menggunakan perbandingan hijauan dan konsentrat berbanding 60 : 40. berdasarkan informasi yang didapatkan dari supervisor lapangan, perbandingan antara hijauan dan konsentrat digunakan untuk jenis pakan sapi dengan status produksi early, medium, late, dan dry pregnant transisi. Diantara jenis pakan tersebut setiap status sapi mempunyai kebutuhan nutrisi yang berbeda-beda. Pakan sapi perah di PT. Greenfields Indonesia diberikan sesuai dengan kebutuhan nutrisi dan kebutuhan produksi.

Dalam pembuatan pakan sapi perah, dilakukan di gudang pakan atau dikenal juga feed processing. Pembuatan pakan dilakukan setiap hari, dan jam pembuatan pakan disesuaikan dengan jam dilakukannya pemerahan. Proses pembuatn pakan complit feed melalui beberapa tahap diantaranya :

  1. Persiapan bahan baku yang akan digunakan sebagai pakan, bahan-bahan pakan yang disediakan sesuai dengan campuran yang akan digunakan.
  2. Bahan-bahan yang telah tersedia dinaikkan kedalam roto-mix dengan menggunakan alat comfeyer belt, proses penimbangan kebutuhan tiap-tiap komposisi bahan pakan ditimbang didalam roto-mix.
  3. Setelah bahan-bahan pakan masuk semua kedalam roto-mix, dilakukan homogenisasi selama 5 menit.
  4. Pakan yang sudah dihomogenisasi siap untuk didistribusikan ke pen yang terdapat didalam kandang, berdasarkan status dan jenis pakan apa yang akan diberikan kepada sapi.

Penanganan Sisa Pakan

Pakan yang diberikan kepada sapi dapat saja bersisa walaupun pemberiannya sudah ditargetkan. Hal ini dapat saja disebabkan dari pakan yang berbau tengik, dan dapat juga disebabkan dari sapinya sendiri. Di PT. Greenfields Indonesia sisa pakan merupakan limbah. Pakan sisa tidak diberikan lagi kepada sapi. Pengambilan pakan sisa dilakukan setiap pagi, pengambilan pakan sisa dilakukan oleh kendaraan bob-cat sebelum pakan yang baru datang. Sisa pakan dinaikkan ke atas mobil truk, yang khusus digunakan untuk mengambil pakan sisa. Pakan dibawa ke pos timbang terlebih dahulu untuk mengetahui berapa sisa pakan setiap pen, dan juga untuk menentukan intake pakan sapi.

Setelah diketahui berapa beratnya, pakan dibawa ke gudang pakan dan ditumpuk ditempat penumpukan pakan sisa. Setelah itu pakan siap diproses untuk lebih lanjut yang nantinya dapat bermanfaat bagi perusahaan dan tidak menjadi limbah yang dapat merugikan perusahaan.

Pakan yang Diberikan Kepada Sapi

Pakan untuk sapi perah di PT. Greenfields Indonesia diberikan sesuai dengan kebutuhan sapi perah tersebut. Setiap status sapi mempunyai pakan tersendiri yang kandungan nutrisinya berbeda. Pakan yang diberikan kepada sapi yang dipelihara antara lain. Pakan untuk pedet, heifer, sapi produksi, maupun sapi yang tidak berproduksi.

Pakan pedet terbagi tiga berdasarkan golongan umur, dan setiap pakan mempunyai kandungan nutrisi yang berbeda diantaranya :

  1. Pedet umur 14 hari sampai 2,5 bulan diberikan pakan calf 1 V1 dengan kandungan Protein 20% dan TDN 78%
  2. Pedet betina umur 2,5 sampai 5 bulan diberikan pakan calf 2 V1 dengan kandungan Protein 19% dan TDN 74%, dan untuk pedet jantan diberikan dari umur 2,5 sampai 3 bulan.
  3. Pedet betina umur 5 sampai 6 bulan diberi pakan calf 3 V1


h1

TA PERKANDANGAN AYAM

July 20, 2008

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Usaha ternak yang pada mulanya hanya berkisar pada kegiatan atau usaha rakyat kian berkembang seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Akibat dari perkembangan zaman membuat masyarakat semakin sadar akan pentingnya gizi dari bahan hewani yang menyebabkan permintaan akan daging semakin meningkat. Hal ini tidak terlepas dari ayam yang merupakan sumber daging untuk kebutuhan masyarakat.

Pemenuhan akan daging ayam tidak terlepas dari peternakan ayam bibit. Peternakan ayam bibit ini nantinya akan menghasilkan anak ayam atau Day Old Chick (DOC) komersial. DOC ini akan dipelihara oleh peternak untuk dibesarkan menjadi ayam pedaging komersial.

Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan salah satu mata kuliah yang mengajarkan mahasiswa untuk terjun langsung ke lapangan untuk mempelajari manajemen yang dilakukan oleh peternakan ayam bibit. Selain itu, PKL merupakan salah satu syarat kelulusan program Diploma 3 Teknologi dan Manajemen Ternak.

Tujuan

Tujuan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) adalah untuk menambah pengetahuan, pengalaman, dan wawasan dalam tatalaksana pemeliharaan dan pembibitan ayam pedaging, serta menerapkan ilmu yang diperoleh di perkuliahan dan belajar membekali diri dengan keterampilan untuk tujuan dunia kerja. Selain itu, PKL ini juga merupakan salah satu syarat untuk melakukan seminar dan penyusunan Tugas Akhir.


METODE

Waktu dan Tempat Praktik

Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan mulai tanggal 18 Februari 2008 sampai 10 Mei 2008. PKL ini dilaksanakan di PT Peternakan Ayam Manggis IV Cianjur.

Metode Pelaksanaan Praktik

Metode pelaksanaan PKL meliputi Pengamatan langsung dan diskusi mengenai manajemen perkandangan khusus periode layer. Selain hal tersebut, juga melakukan kegitan rutin yang ditetapkan oleh perusahaan seperti pemeliharaan ayam bibit pedaging pada periode starter dan layer serta pengelolaan penetasan.

Pengumpulan data primer dilakukan berdasarkan pencatatan data-data hasil pengamatan dan diskusi selama melakukan praktik kerja lapang, sedangkan pengumpulan data sekunder dilakukan berdasarkan data-data yang telah ada sebelum melaksanakan Praktik Kerja Lapangan, tetapi data tersebut mendukung dan berhubungan dengan keadaan selama melakukan Praktik Kerja Lapangan.


KEADAAN UMUM

Lokasi dan Tata Letak

PT Petenakan Ayam Manggis IV Cianjur terletak di Kampung Cikadu, Desa Jamali, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Lokasi perusahaan berada kurang lebih 8,7 km dari Ibukota Kabupaten dan enam kilometer dari Ibukota Kecamatan. Lokasi peternakan berjarak kurang lebih satu km dari jalan raya dan 500 m dari pemukiman penduduk serta dikelilingi pagar dengan tinggi kurang lebih tiga m

Perusahaan memiliki luas tanah sekitar 60 ha yang berada pada ketinggian 450 m di atas permukaan laut. Temperatur di areal peternakan berkisar antara 23-32 oC, kelembaban udara 60-70% serta curah hujan rata-rata 3.000 mm/tahun.

Sejarah Perkembangan

PT Peternakan Ayam Manggis IV Cianjur merupakan salah satu dari perusahaan gabungan PT Peternakan Ayam Manggis yang berkantor pusat di Jakarta. PT Peternakan Ayam Manggis IV Cianjur didirikan pada tanggal 6 September 1992.

Perusahaan ini digolongkan ke dalam divisi operasional dalam bidang pemeliharaan bibit ayam pedaging dan petelur untuk menghasilkan Day Old Chick (DOC). Tahun 1998, perusahaan hampir mengalami kebangkrutan akibat krisis moneter, sehingga perusahaan mengganti usahanya menjadi peternakan ayam potong (broiler) selama satu tahun. Tahun 1999, perusahaan kembali memelihara ayam bibit.

PT Peternakan Ayam Manggis IV Cianjur hingga saat ini memiliki tiga unit farm yang terdiri atas 39 kandang. Strain ayam yang dipelihara adalah Hysex Brown untuk tipe petelur dan Hybro PG+ untuk tipe pedaging.

Struktur Organisasi

Pimpinan tertinggi PT Peternakan Ayam Manggis IV Cianjur yaitu seorang manager yang dibantu oleh seorang kepala unit farm untuk kegiatan di farm dan seorang kepala unit penetasan (hatchery) untuk kegiatan di hatchery.

Kepala unit farm bertugas mengawasi seluruh kegiatan yang berhubungan dengan produksi dan operasional farm dibantu oleh supervisor produksi, sedangkan kepala unit hatchery bertugas mengawasi seluruh kegiatan yang berhubungan dengan produksi dan operasional hatchery juga dibantu oleh supervisor produksi.

Superisor produksi bertugas mengawasi kegiatan operator dan bertanggung jawab seluruh kegiatan di lapangan, baik pada bagian farm maupun pada bagian hatchery. Kegiatan supervisor produksi dibantu oleh asisten yang menjabat sebagai kepala seksi yang bertugas sebagai pengganti supervisor jika tidak ada di lapangan, sebagai mediator antara operator dengan supervisor.

Staf administrasi bertugas mencatat kegiatan perusahaan yang berhubungan dengan kegiatan produksi, penerimaan dan pengeluaran keuangan, membuat laporan harian, mingguan, bulanan serta mengeluarkan surat jalan. Operator bertugas menjalankan kegiatan di lapangan.

Untuk lebih jelasnya, struktur organisasi PT Peternakan Ayam Manggis IV Cianjur dapat dilihat pada Gambar 1 berikut :

Farm Manager

Supervisor Administrasi

 

Supir

Statistik

Gudang

Mekanik

Satpam

Tukang Cuci

Kepala Unit Farm

Kepala Unit Hatchery

Supervisor Produksi

Kepala Produksi

Operator

Supervisor Produksi

Kepala Seksi

Operator

Tukang Kebun

Organization Chart

Gambar 1. Struktur Organisasi PT Peternakan Ayam Manggis IV Cianjur

Sarana Produksi

Sarana dan Prasarana

PT Peternakan Ayam Manggis IV Cianjur memiliki luas area 60 ha. Lahan yang dipakai untuk kegiatan peternakan seluas 45 ha. Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh PT Peternakan Ayam Manggis IV Cianjur adalah bangunan kandang yang terdiri atas 39 kandang, kandang karantina, kantor, gudang, asrama karyawan, satu unit penetasan (Hatchery), pos satpam, ruang sanitasi, unit kendaraan angkut berupa truk, bengkel dan mushola.

Sumber air berasal dari sumur artesis yang airnya akan mengalir terus untuk ditampung dalam tangki air sehingga peternakan tidak mengalami kesulitan air. Sumber tenaga listrik berasal dari PLN (Perusahaan Listrik Negara) dan dua buah generator sebagai cadangan bila sewaktu-waktu aliran listrik dari PLN padam.

Perkandangan

Perusahaan menggunakan closed house system atau kandang sistem tertutup. Sudaryani dan Santoso (2004) mengatakan bahwa keuntungan menggunakan kandang tertutup yaitu memudahkan pengawasan, pengaturan suhu dan kelembaban, pengaturan cahaya, mempunyai ventilasi yang baik serta penyebaran penyakit mudah diatasi. Berdasarkan fase pemeliharaannya, kandang yang digunakan oleh perusahaan menggunakan sistem brood-grow-lay.

Jumlah kandang yang dimiliki perusahaan sebanyak 39 kandang yang dibagi dalam tiga unit kandang. Unit I terdiri atas 11 kandang. Unit II dan III masing-masing terdiri atas 14 kandang. Setiap unit dilengkapi dengan kandang karantina. Kandang membujur dari Timur ke Barat. Jarak antar kandang 15 m. Kandang berukuran 90 m x 12 m dimana dalam satu kandang dibagi menjadi delapan pen yang sama besar.

Strain Ayam yang Dipelihara

Strain ayam yang dipelihara di perusahaan ini ada dua jenis yaitu Hysex Brown untuk ayam tipe petelur dan Hybro PG+ untuk tipe pedaging. Dalam laporan ini, yang akan dibahas lebih lanjut adalah ayam bibit pedaging Strain Hybro PG+.


MANAJEMEN PERKANDANGAN AYAM BIBIT PEDAGING

SISTEM TERTUTUP DI PT PETERNAKAN AYAM

MANGGIS IV CIANJUR

Konstruksi Kandang

Banyak bentuk dan konstruksi kandang yang bisa dibangun, tetapi semuanya harus didasarkan pada kegunaan dan rencana usaha yang akan dijalankan. Menurut Fadilah dkk (2007), semua bentuk kandang yang dibuat ditujukan untuk ayam bisa hidup dengan nyaman dan aman dari lingkungan, sehingga ayam dapat berproduksi dengan optimal. Konstruksi kandang meliputi, atap, dinding, lantai dan sistem ventilasi pada kandang.

Atap Kandang

Atap kandang adalah bagian dari bangunan kandang yang berfungsi untuk menaungi bagian dalam kandang dari panas matahari dan curah hujan. Bahan yang digunakan sebagai atap perlu dipilih dari jenis bahan yang ringan, tahan panas, tidak menyerap atau menghantar panas, tidak mudah bocor dan tahan terhadap curah hujan yang tinggi.

Atap kandang yang digunakan perusahaan adalah atap monitor berbahan seng. Menurut pendapat Rasyaf (2003), atap sistem monitor dapat meningkatkan fungsi ventilasi. Di bawah atap kandang terdapat langit-langit kandang yang terbuat dari terpal. Tinggi langit-langit kandang dari lantai yaitu 2,1 m.

Dinding Kandang

Dinding kandang berfungsi sebagai pelindung keberadaan ayam dari gangguan luar dan penghalang ayam agar tetap berada dalam kandang. Dinding kandang terdiri atas kawat monitor dan beton yang dilapisi dengan tirai yang terbuat dari terpal. Tinggi dinding kandang yang terbuat dari beton sampai ke kawat monitor yaitu 50 cm, sedangkan tinggi kawat monitor sampai atap terendah yaitu 1,6 m.

Tirai pada dinding kandang ada dua yaitu tirai berwarna putih dan tirai hitam. Tirai putih berfungsi untuk membantu penerangan pada periode starter dan layer, sedangkan tirai hitam untuk menahan cahaya dari luar pada periode grower. Pada saat produksi telur telah mencapai 60%, tirai hitam akan diturunkan dan light trap (penghalang cahaya) sudah dapat dilepas dari kipas (exhaust fan). Tujuan penurunan tirai hitam agar pencahayaan di dalam kandang dibantu oleh cahaya luar sehingga penggunaan lampu di dalam kandang dapat dikurangi.

Lantai Kandang

Lantai kandang menggunakan sistem litter berbahan sekam padi. Litter adalah hamparan alas kandang yang berguna sebagai alas tidur, penghangat bagi ayam dan mengurangi kelembaban lantai kandang. Ketebalan sekam padi sekitar 15-20 cm.

Menurut Rasyaf (2003), keuntungan sistem litter adalah menurunkan peluang ayam lepuh dada, sedangkan kerugiannya yaitu alas kandang mudah dan cepat basah dan menimbulkan bau tidak sedap yang dapat menyuburkan bibit penyakit terutama CRD (Chronic Respiratory Disease).

Sistem Ventilasi

Menurut Priyatno (2002), ventilasi adalah jalan keluar masuknya udara sehingga udara segar dari luar dapat masuk untuk menggantikan udara yang kotor dari dalam kandang. Sistem ventilasi yang digunakan perusahaan menggunakan cooling pad dan exhaust fan. Cooling pad mengalirkan udara segar yang dibutuhkan ke dalam kandang dan exhaust fan mengeluarkan udara kotor ke luar kandang. Jumlah fan yang dipasang disesuaikan dengan volume ruangan kandang, populasi ayam jantan dan betina serta rataan bobot badan jantan dan betina.

Peralatan Kandang

Peralatan yang digunakan pada setiap kandang diantaranya cooling pad, blower, tirai, tempat pakan, tempat minum, nest box, lori gantung dan egg tray.

Cooling Pad

Cooling pad yaitu serangkaian alat yang berfungsi sebagai pendingin otomatis atas kerja sinyal dari perubahan suhu kemudian diteruskan ke panel set point. Cooling pad terbuat dari bahan selulosa yang disusun bergelombang berbentuk wafer yang disebut cell deck berukuran tinggi 150 cm dan lebar 60 cm. Cooling pad dipasang di sebelah kiri kanan kandang dengan panjang 10 m di pen satu. Cooling pad dilengkapi dengan bak berisikan air dan tirai hitam yang berfungsi mengatur pemasukan udara segar yang diperlukan ayam.

Cooling pad akan bekerja jika seluruh kipas telah beroperasi dan suhu di dalam kandang telah mencapai 30 oC. Pipa cooling pad akan mengalirkan air selama dua menit dan berhenti selama enam menit yang diatur secara otomatis dengan time switch. Air akan mengalir melewati lubang-lubang kecil pada pipa cooling pad. Air yang mengalir menyebabkan cell deck menjadi basah. Udara bersih masuk melalui cell deck seiring dengan air yang merembes masuk melalui cell deck sehingga udara menjadi sejuk dan dingin. Udara dingin dan sejuk disebarkan ke seluruh ruangan kandang melalui bantuan exhaust fan. Menurut Jahja (1995), suhu yang ideal untuk pemeliharaan ayam berkisar antara 18-27 oC.

Exhaust Fan

Exhaust fan atau kipas adalah alat untuk menarik/ menyedot udara ke luar dari dalam kandang dan udara segar masuk melalui cooling pad. Fan yang dimiliki perusahaan berdiameter 140 cm dan berkapasitas 20.000 cfm/kipas yang diletakkan pada bagian belakang kandang. Pada waktu pengamatan terdapat 6 fan yang digunakan dalam satu kandang. Jumlah kipas yang beroperasi tergantung pada suhu di dalam kandang. Setiap kenaikan suhu 2 oC di dalam kandang, akan mengoperasikan kipas tertentu secara otomatis. Sebaliknya, pada penurunan suhu di dalam kandang akan menghentikan fungsi kipas tertentu pula. Pengaturan kipas dalam kandang disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Pengaturan Exhaust Fan dalam Kandang

Set Point Suhu Exhaust Fan yang Diaktifkan Exhaust Fan yang Nyala

—(oC)— ————-(buah)———-

< 22,0-23,9 No 2 dan 5 2

24,0-25,9 No 3 3

26,0-27,9 No1 dan 6 5

28,0-29,9 No 4 6

> 30,0 cooling pad beroperasi 6 + cooling pad

Sumber : PT Peternakan Ayam Manggis IV Cianjur (2008)

Pada prinsipnya, udara kotor akan diganti dengan udara bersih yang masuk melalui cell deck. Untuk mengoptimalkan pergantian udara dalam kandang, maka laju kecepatan udara per meter per detik sangat penting untuk diperhatikan karena kecepatan udara sangat menentukan dalam proses pendinginan tubuh ayam. Hubungan antara kecepatan angin dengan suhu dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Grafik Wind Chilled Factor

Dari Gambar 2 dapat dijelaskan bahwa ketika suhu lingkungan mencapai 35 oC dan aliran udara dalam kandang berkecepatan 0,5 m per detik, maka suhu efektif yang dirasakan ayam berkisar 32,5 oC. Jika kecepatan udara yang masuk 1 m per detik, suhu yang dirasakan oleh ayam 28 oC dan seterusnya. Pada gambar dapat dilihat daerah berwarna putih yang merupakan daerah optimal untuk ayam berkisar 19-25 oC dan kecepatan angin antara 1,3-2,0 m per detik.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa suhu di dalam kandang yang dicapai dengan menggunakan kandang closed house ini yaitu 26,8 oC. Suhu yang di capai ini sesuai dengan standar suhu yang ditetapkan oleh perusahaan 27 oC.

Tempat Pakan

Tempat pakan pada periode layer menggunakan automatic feeder trough untuk betina dan feeder trough untuk jantan. Masing-masing tempat pakan dilengkapi dengan grill. Untuk tempat pakan betina ditambah dengan motor penggerak, hopper, trough dan rantai pengedar pakan.

Hopper sebanyak tiga buah berfungsi sebagai bak pakan sebelum pakan diedarkan ke dalam kandang. Kapasitas tiap hopper yaitu 150 kg. Trough berfungsi sebagai tempat pakan yang berbentuk persegi panjang dan terbuat dari bahan seng baja. Lebar trough 11 cm dan panjangnya sejajar dengan panjang kandang. Dalam satu kandang terdiri dari enam jalur trough, dimana tiap dua jalur trough akan dihubungkan dengan satu hopper. Grill adalah penutup trough yang berbentuk segitiga sebagai tempat masuknya kepala ayam dengan ukuran lubang-lubang grill disesuaikan dengan ukuran kepala ayam. Ukuran grill pada betina 6cm x 7 cm. Menurut Sudaryani dan Santoso (2004), keuntungan menggunakan grill yaitu dapat meningkatkan efisiensi pakan dan pemberian pakan jantan lebih terkontrol. Rantai pengedar pakan berhubungan langsung dengan motor penggerak. Rantai ini akan mengedarkan pakan secara merata ke dalam kandang.

Feeder trough pada ayam jantan diletakkan dengan ketinggian 50 cm. Pada tiap kandang terdapat 16 buah feeder trough dengan ukuran 400cm x 11 cm. Kebutuhan tempat pakan per ekor ayam yaitu 15 cm.

Pendistribusian pakan dengan automatic feeder trough harus tepat. Pada waktu pengamatan lama pendistribusian pakan yaitu selama 6 enam menit.

Tempat Minum

Tempat minum yang digunakan pada periode layer yaitu nipple drinker. Nipple yaitu tempat minum otomatis dari bahan plastik dengan pentil stainless pada bagian bawahnya yang bila ditekan akan mengeluarkan air. Dalam satu kandang dipasang empat jalur rangkaian nipple yang panjangnya disesuaikan dengan panjang kandang. Jarak setiap nipple 30 cm sehingga jumlah nipple dalam kandang sebanyak 1.187 nipple. Setiap satu nipple dapat digunakan 8-9 ekor ayam. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hybro (2001), bahwa dalam satu nipple digunakan untuk 8-9 ekor ayam.

Perangkat tempat minum nipple terdiri dari pipa paralon untuk saluran air minum, pentil nipple, pipa besi sebagai penyangga paralon, tali penggantung pipa besi dan paralon, kawat kejut di bagian atas paralon sebagai penghalang ayam untuk tidak bertengger dengan kekuatan 120 volt, regulator atau pengukur tekanan air, perangkat dosatron (pencampur obat) yang dilengkapi water meter, dan tangki air. Tempat minum dipasang dengan ketinggian kurang lebih 50 cm dari atas litter.

Seluruh air minum ayam berasal dari sumur artesis yang ditampung pada penampungan air berkapasitas 100.000 liter. Air dipompa ke dalam tangki di dalam kandang yang berkapasitas 1.000 liter. Setelah itu air akan melewati saringan dan diukur pada water meter, kemudian air melewati dosatron dan masuk ke regulator.

Nest Box

Nest Box adalah kumpulan sarang tempat ayam bertelur yang dibuat dari bahan seng berbentuk rumah. Atap sarang berbentuk A yang pada bagian atasnya diberi lempengan agar ayam tidak dapat bertengger di atasnya. Ukuran nest box yaitu 1,8 m x 72 cm x 95 cm. Nest box mempunyai 20 lubang sarang dengan kapasitas 4-5 ekor/lubang sarang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sudaryani dan Santoso (2003) bahwa setiap lubang sarang dapat dipakai 4-5 ekor ayam betina.

Setiap satu lubang sarang berukuran 35 cm x 25 cm x 20 cm dialasi dengan seng, kemudian ditaburi sekam padi setebal 5-8 cm. Jumlah nest box dalam satu pen yaitu delapan buah, sehingga dalam satu kandang terdapat 64 buah nest box.

Perlengkapan lain yang ada di dalam kandang antara lain lori gantung, egg tray, alat penerangan, timbangan, keranjang pengangkut ayam, lemari fumigasi, peralatan kebersihan dan sanitasi.

Performa Ayam

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi performa atau penampilan ayam. Pada tabel 2 merupakan hasil pengamatan ayam bibit pedaging umur 26 minggu dengan jumlah ayam betina 6.073 ekor.

Dari performa yang dihasilkan, ternyata lebih rendah dari standar yang ditetapkan oleh perusahaan. Produksi telur Hen Day (HD) lebih rendah, hal tersebut kemungkinan disebabkan karena pakan yang diberikan juga lebih rendah dari standar. Performa yang kurang baik ini bukan disebabkan oleh manajemen perkandangan (kandang dan peralatan) yang kurang baik atau kurang memadai, tetapi kemungkinan disebabkan oleh hal-hal lain seperti program pemberian pakan atau manajemen pemeliharaan yang kurang baik.

Persentase depletion atau penyusutan jumlah ayam (afkir, kematian) masih berada di bawah toleransi. Umumnya, kematian bukan disebabkan oleh terserang suatu penyakit melainkan disebabkan terjepit tempat pakan pada saat distribusi pakan, tertindih pada saat ayam menumpuk pada satu sisi kandang bila ayam dalam keadaan terkejut.

Tabel 2. Performa Ayam Bibit Pedaging Umur 26 Minggu

Performa Aktual Standar

Konsumsi Pakan (g/e/h) 136,00 143,0

Bobot Badan (g/e) 3315,00 3270,0

Produksi Telur HD (%) 35,30 42,0

Produksi Telur HE (%) 65,30 78,0

Depletion 0,18 0,2

Sumber : PT Peternakan Ayam Manggis IV Cianjur (2008)


PEMELIHARAAN AYAM PERIODE INDUKAN

Pemeliharaan ayam pada periode indukan atau starter dimulai pada umur 0-5 minggu. Menurut Fadilah dkk (2007), periode starter sangat menentukan keberhasilan usaha pemeliharaan ayam karena pada periode inilah terjadi pembentukan sistem kekebalan tubuh, pembentukan tubuh dan awal pembentukan kerangka.

Periode starter dimulai dengan kegiatan persiapan kandang dan peralatan, perlakuan saat DOC datang, pemberian pakan dan minum, pengaturan cahaya, penimbangan, pemotongan paruh dan pencegahan penyakit.

Persiapan Kandang dan Peralatan

Persiapan kandang membutuhkan waktu yang relatif lama karena kandang dibersihkan dan diistirahatkan, yang dilakukan agar siklus penyakit terputus sebelum pemeliharaan ayam dimulai. Tahapan persiapan kandang yang harus dilakukan adalah: penyemprotan kandang dengan obat kutu. Pengangkatan litter bekas. Penyemprotan kandang dengan obat kutu kembali. Pencucian kandang dengan air dan deterjen. Perbaikan fisik kandang. Penyemprotan dengan long life dosis 2,5 ml/l air. Pemasangan chick guard dan gasolek. Fumigasi dengan tiga kali kekuatan. Sekam ditabur ke dalam chick guard dan difumigasi dengan cypper killer 3g/ 2 l air.

Peralatan yang digunakan pada periode starter yaitu tempat pakan, tempat minum, koran sebagai alas, alat pemanas (gasolek) dan chick guard (lingkar pembatas). Peralatan harus dalam keadaan bersih agar anak ayam terhindar dari penyakit.

Dalam chick guard (lingkar pembatas) dipasang sebuah gasolek pada ketinggian 1,0-1,2 m dengan kemiringan 45°. Kapasitas satu chick guard untuk 500-750 ekor. Menurut Sudaryani dan Santoso (2004), empat jam sebelum DOC datang, pemanas sudah dinyalakan sehingga pada saat DOC datang suhu sudah stabil yaitu 35°C. Tempat pakan dan minum diletakkan di dalam chick guard yang telah dialasi Koran. Tempat pakan yang digunakan yaitu feeder tray dan tempat minum berbentuk galon. Tempat pakan dan tempat minum disusun secara selang-seling dan melingkar mengikuti chick guard. Air minum yang digunakan air dengan campuran gula 5 g/l air.

Perlakuan Saat DOC Datang

DOC dihitung dan dibagi ke dalam chick guard dengan jumlah yang sama. Jumlah DOC yang datang pada saat pengamatan sebanyak 6.800 ekor betina dan 1.250 ekor jantan. Setelah dihitung, dilakukan penimbangan secara acak dengan mengambil sampel 10% dari jumlah DOC yang ada. Tujuan dilakukan penimbangan adalah untuk mengetahui bobot badan rata-rata anak ayam. Hasil penimbangan bobot badan rata-rata yaitu 40 g untuk betina dan 45-50 g untuk jantan. Selain itu, dilakukan pengambilan sampel darah terhadap anak ayam yang kondisi fisiknya lemah. Tujuan pengambilan sampel ini yaitu untuk mengetahui apakah anak ayam terjangkit suatu penyakit.

Pemeliharaan jantan dan betina dipisahkan agar pengontrolan pakan dan pemeliharaan mudah dilakukan untuk mencapai bobot badan standar. DOC yang berada di dalam chick guard dapat langsung minum dan makan yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Pemberian Pakan dan Minum

Pemberian pakan pada periode starter dilakukan ad libitum hingga ayam berumur tiga minggu. Pakan yang digunakan berbentuk mash yang diproduksi oleh perusahaan sendiri dengan kode 732. Kandungan nutrisi pada pakan telah sesuai dengan Hybro (2001), yang menyatakan bahwa pada ayam starter memerlukan kadar protein kasar 18,5% dan energi metabolisme 2.750 kkal/kg. Pemberian minum untuk periode starter dilakukan ad libitum dengan penambahan vitamin dan antibiotik.

Pengaturan Cahaya

Pemberian cahaya pada periode starter bertujuan untuk memacu pertumbuhan dan agar ayam dapat mengenal lingkungannya dengan baik. Program pencahayaan untuk ayam periode starter disajikan pada Tabel 3.

Pada saat ayam berumur 1-14 hari, tirai penutup kandang yang berwarna putih dalam keadaan tertutup dan tirai yang berwarna hitam dalam keadaan terbuka sehingga cahaya luar dapat masuk. Pada malam hari, pencahayaan dilakukan menggunakan lampu. Setelah ayam berumur 15 hari tirai penutup dalam keadaan tertutup dan 1-2 kipas dinyalakan.

Tabel 3. Program Pencahayaan Ayam Periode Starter

Umur Lama Pencahayaan Intensitas Cahaya

1-7 23 20

8-14 18 20

15-21 13 5

22-35 8 5

Sumber : PT Peternakan Ayam Manggis IV Cianjur (2008)

Penimbangan

Penimbangan ayam dilakukan setiap minggu secara acak dengan sampel 10% dari jumlah ayam. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rasyaf (2001), bahwa penimbangan dilakukan secara acak dengan jumlah sampel kurang lebih 10% dari populasi ayam. Penimbangan dilakukan sebelum ayam diberi makan.

Tujuan penimbangan ini adalah untuk mengetahui bobot badan anak ayam sehingga pengontrolan bobot badan dan tingkat keseragaman ayam pada periode starter dapat dicapai. Anak ayam yang berbobot badan kecil dan lemah dipisah pada brooder yang berbeda untuk diberi perlakuan yang intensif.

Pemotongan Paruh

Pemotongan paruh dilakukan pada ayam dilakukan pada anak ayam umur empat hari. Sudaryani dan Santoso (2004) menyatakan bahwa keuntungan pemotongan paruh pada ayam umur muda adalah ayam mudah dipegang, dapat mengurangi pendarahan dan cekaman serta daya hidup anak ayam lebih baik. Tujuan potong paruh adalah menghilangkan sifat kanibal, efisiensi pakan dan memacu pertumbuhan.

Paruh dipotong hingga sepertiga bagian dengan menggunakan electric debeaker. Sebelum pemotongan paruh, DOC diberi vitamin K dan antibiotik lewat air minum. Setelah potong paruh selesai dilakukan, DOC dipuasakan minum selama dua jam dan pakan lima jam. Tujuan pemuasaan ini agar tidak tidak terjadi pendarahan pada mulut ayam. Setelah pemuasaan, anak ayam diberi minum dengan campuran vitamin K, kemudian esok harinya diberi vitamin C dan vitamin K juga lewat air minum.

Pencegahan Penyakit

Program pencegahan penyakit dilaksanakan dengan biosecurity yang ketat dan program vaksinasi. Biosecurity yang dilakukan perusahaan yaitu menggunakan satu pintu untuk keluar masuk perusahaan yang dilengkapi dengan ruang semprot untuk mencegah terbawanya bibit penyakit, pegawai kandang menggunakan pakaian khusus yang diganti pada ruang sanitasi utama, melewati ruang sanitasi pada setiap pintu unit kandang, pencelupan kaki dan cuci tangan ke dalam air desinfektan sebelum masuk ke dalam kandang.

Bahan sanitasi yang digunakan dari jenis bahan septi guard semacam lysol dengan bahan aktif glutaraldehyde 30%, isopropanol 5%, amnium quartener 20%. Cara mengencerkan yaitu dengan dosis 1 ml dalam 4 l air. Jenis sanitasi ini biasanya digunakan untuk cuci tangan dan celup kaki sebelum masuk ke dalam kandang, sedangkan untuk peralatan dengan dosis yang dipakai adalah 1 ml air dalam 2,5 l air.

Program vaksinasi merupakan salah satu cara yang paling sering digunakan untuk mencegah timbulnya penyakit. Vaksinasi yang dilakukan pada periode starter terutama untuk mencegah penyakit Infectious Bursal Disease (IBD), Newcastle Disease (ND), Infectious Bronchitis (IB), Coccidiosis serta Avian Influenza (AI).


PEMELIHARAAN AYAM PERIODE PRODUKSI

Pemeliharaan ayam periode produksi (layer) dimulai pada saat ayam berumur 21 minggu hingga ayam afkir atau berumur 65 minggu. Pemeliharaan ayam pada periode ini diharapkan untuk mendapatkan induk-induk yang memiliki penampilan optimum, baik dari segi puncak produksi maupun kemampuan menghasilkan telur tetas yang berkualitas baik.

Kandang dan Peralatan

Kandang yang digunakan untuk pemeliharaan ayam periode produksi (layer) masih sama dengan kandang pada periode sebelumnya. Peralatan yang digunakan pada periode produksi yaitu tempat pakan automatic feeder trough dan feeder trough, tempat minum nipple drinker, ventilasi (cooling pad dan exhaust fan), kereta dorong (lori), lemari fumigasi dan penambahan nest box (sarang).

Pada saat menjelang produksi, nest box harus dalam keadaan siap pakai. Alas nest box sudah terpasang dan ditabur dengan sekam padi. Hal ini bertujuan agar ayam mulai dapat mengenali tempat bertelurnya sehingga telur yang dihasilkan tidak kotor atau pecah.

Kepadatan Kandang

Luas kandang 1.080 m2 dengan jumlah ayam 6.073 ekor pada umur 26 minggu, sehingga diperoleh kepadatan kandang 5,6 ekor/m2. Jumlah jantan 716 ekor atau 11,78%. Hal ini sesuai dengan standar kepadatan kandang yang ditetapkan oleh perusahaan yaitu 5,0-6,0 ekor/m2.

Berbeda dengan kandang sistem terbuka atau open house system, standar yang ditetapkan oleh North dan Bell (1990) menyatakan bahwa kepadatan kandang pada periode layer pada kandang sistem terbuka adalah 3,6 ekor/m2. Dari sini jelas terlihat bahwa kepadatan kandang pada kandang sistem tertutup atau closed house sytem dapat ditingkatkan.

Pemberian Pakan dan Minum

Konsumsi pakan sangat penting untuk diperhatikan pada periode layer, terutama program konsumsi pakan menjelang puncak produksi. Jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan ayam. Kandungan nutrisi pada pakan periode layer yaitu protein 15,5% dan energi metabolisme 2.700 kkal/kg. Kode pakan yang digunakan 735. Menurut Hybro (2001), kenaikan jumlah pakan harus mencukupi kebutuhan gizi ayam untuk produksi telur dan pertumbuhan, yang pemberiannya bertahap sehingga dapat mencegah terjadinya over stimulasi pada ayam yang belum siap untuk berproduksi. Pemberian pakan dilakukan satu kali yaitu pada pagi hari pukul 08.30 WIB.

Tingkat konsumsi air minum ayam harus dimonitor setiap hari. Konsumsi air minum memiliki hubungan dengan tingkat produksi, jumlah pakan yang dikonsumsi dan temperatur lingkungan (Fadilah dkk. 2007). Ayam yang kekurangan air minum akan menyebabkan produksi telur menurun akibat terganggunya proses metabolisme. Jumlah konsumsi air minum pada periode layer yaitu 2,2-2,5 kali dari jumlah konsumsi pakan.

Pengaturan Cahaya

Program pemberian cahaya pada periode layer dilaksanakan saat tirai yang berwarna hitam dibuka atau pada saat produksi telur mencapai 60%. Pemberian cahaya di kandang tertutup menggunakan lampu neon berkekuatan 40 watt. Program pemberian cahaya pada periode layer yang dilakukan di perusahaan disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Program Pencahayaan Ayam Periode Layer di Perusahaan

Umur Ayam Lama Pencahayaan

—–(minggu)—– ——-(jam/hari)——

20 10

21 12

22-23 14

24-26 15

>27 16

Sumber : PT Peternakan Ayam Manggis IV Cianjur (2008)

Penimbangan

Penimbangan dan seleksi bobot badan dilakukan secara teratur satu minggu sekali dengan mengambil sampel 3-4% dari jumlah seluruh ayam. Penimbangan bobot badan pada periode layer dimaksudkan untuk mengontrol bobot badan.

Penimbangan dilakukan sebelum ayam diberi makan dengan menggunakan timbangan gantung (salter) yang berkapasitas 5 kg dengan cara mengikat kedua kaki pada posisi kepala ayam berada di bawah.

Koleksi dan Penanganan Telur

Pada dasarnya, yang mempengaruhi produksi telur yaitu faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar seperti makanan, rontok bulu/luruh, suhu dalam kandang, kegaduhan dan penyakit, sedangkan faktor dalam yaitu keturunan/ genetik. Pencatatan produksi telur dilakukan pada saat ayam berproduksi sekitar 5% (hen day). Perhitungan produksi telur di perusahaan dilakukan setiap hari berdasarkan produksi hen day.

Pada saat produksi telur mencapai 30%, pengumpulan telur dilakukan sebanyak empat kali dalam sehari. Sebelum dilakukan fumigasi, telur diseleksi terlebih dahulu berdasarkan keadaan luar telur, yang dikelompokkan ke dalam telur normal, abnormal, retak dan kotor. Telur yang lolos seleksi kemudian difumigasi dengan formalin dan KMnO4 untuk membunuh bakteri yang berada pada kerabang telur.

Pencegahan Penyakit

Program sanitasi dan vaksinasi masih dilakukan hingga ayam afkir. Sanitasi yang dilakukan sama dengan periode sebelumnya. Program vaksinasi yang dilakukan pada periode layer, sebagian besar merupakan vaksinasi ulang yang telah dilakukan pada periode sebelumnya.

Keberhasilan vaksinasi dinilai dengan cara pengambilan sampel darah 20 ekor ayam secara acak pada setiap kandang. Sampel darah tersebur akan diperiksa di laboratoriumdi Bogor. Tujuan pemeriksaan ini untuk mengetahui titter antibodi yang terbentuk pasca vaksinasi.


PENGELOLAAN PENETASAN

Pengelolaan penetasan di PT Peternakan Ayam Manggis IV Cianjur dilakukan di unit hatchery. Kegiatan yang dilakukan pada unit hatchery antara lain penanganan telur sebelum ditetaskan, proses penetasan, pull chick (penurunan DOC).

Penanganan Telur Sebelum Ditetaskan

Grading (Seleksi Telur)

Tahap awal dari proses penetasan dimulai dari penyeleksian telur (grading). Menurut Sudaryani dan Santoso (2004), tujuan seleksi telur tetas adalah untuk mendapatkan anak ayam yang sesuai dengan yang diharapkan.

Kriteria telur tetas (Hatch Egg) dalam seleksi meliputi telur utuh dan bersih, bobot telur 55-70 gram, bentuk telur normal dengan indeks 74%, ketebalan kerabang 0,33 mm.

Telur yang tidak masuk ke dalam kriteria telur tetas dimasukkan ke dalam gudang telur untuk digunakan sebagai telur konsumsi. Telur yang lolos seleksi ditempatkan di egg tray dan disusun di kereta buggy sesuai dengan kandang dan hari pengumpulan, kemudian dibersihkan dengan kompresor dari bulu dan sekam yang masih menempel pada telur.

Fumigasi Telur Tetas

Telur tetas yang telah lolos seleksi kemudian dimasukkan ke dalam ruang fumigasi berukuran 3 m x 2,5 m. Fumigasi dilakukan selama 20 menit dengan dosis 280 g KMnO4 dan 560 ml formalin. Menurut Sudaryani dan Santoso (2003), fumigasi dilakukan untuk membunuh kuman penyakit.

Penyimpanan Telur

Telur yang telah difumigasi disimpan di cooling room. Cooling room merupakan ruangan khusus untuk menyimpan telur tetas sebelum masuk ke setter, dimana suhu dan kelembaban ruangan diatur sehingga embrio tidak berkembang. Tujuan utama penyimpanan telur tetas adalah menunggu sampai jumlah telur yang ingin ditetaskan tercapai. Lama penyimpanan telur tetas berkisar 3-4 hari pada suhu 20 oC dan kelembaban 70-80%. Penyimpanan telur tetas yang terlalu lama dapat menurunkan daya tetas telur.

Proses Penetasan

Proses penetasan melalui dua tahapan yaitu setter dan hatcher. Selama proses penetasan yang perlu diperhatikan yaitu suhu, kelembaban, pemutaran dan ventilasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Nuryati dkk (2003), bahwa bila salah satu dari faktor di atas tidak berfungsi dengan baik, maka penetasan akan gagal.

Pre Warming

Setelah jumlah telur yang akan ditetaskan terpenuhi, maka telur tetas dikeluarkan dari cooling room menuju setter. Akibat jauhnya perbedaan suhu antara cooling room dengan setter, maka perlu adanya penyesuaian suhu agar embrio yang ada di dalam telur tidak mengalami cekaman/ shock. Proses penyesuaian suhu tersebut disebut pre warming. Lamanya proses pre warming didasarkan pada ketebalan kerabang telur. Pre warming pada telur ayam Hysex dilakukan selama 18 jam, sedangkan untuk telur ayam Hybro selama 12 jam

Setter

Telur dari pre warming dimasukkan ke dalam ruang setter (ruang inkubator). Telur disetting berdasarkan kandang, kualitas telur, dan umur induk ayam. Ruang setter memiliki suhu 37,5 oC dan kelembaban 52-55%. Pemutaran telur tetas di dalam setter dilakukan selama 18 hari dengan frekwensi pemutaran satu jam sekali. Sudut pemutaran telur 90 oC dan kemiringan 45o. Bila telur tidak diputar, maka kuning telur akan melekat pada satu sisi kerabang telur dan berakibat pada kematian embrio. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudaryani dan Santoso (2003), bahwa telur tetas harus diputar setiap jam untuk menjaga embrio agar tidak menempel pada kerabang telur.

Transfer Telur Tetas dan Candling

Transfer adalah proses pemindahan telur tetas dari setter ke hatcher saat umur embrio 18 hari. Sebelum masuk ke mesin hatcher, terlebih dahulu dilakukan candling (peneropongan). Candling dilakukan untuk memisahkan telur yang fertil, infertil dan explode. Menurut Nuryati dkk (2003), telur explode disebabkan oleh telur terkontaminasi bakteri, kotor, pencucian telur kurang baik dan mesin tetas kotor.

Proses candling dilakukan dengan meletakkan telur di atas meja candling yang memiliki 12 buah bola lampu berkekuatan 60 watt. Telur yang fertil tampak gelap saat diterawang, telur infertil tampak terang karena tidak adanya perkembangan embrio, dan telur explode terdapat jamur atau bintil-bintil pada kerabangnya.

Transfer telur tetas dan candling harus dilakukan dengan cepat atau maksimal 30 menit karena embrio dapat mati akibat perubahan suhu telur yang drastis. Telur yang sudah diteropong dipindahkan ke kereta buggy hatcher yang berbentuk keranjang.

Hatcher

Telur yang lolos pada saat candling kemudian dimasukkan ke dalam mesin hatcher selama tiga hari. Tidak dilakukan pemutaran selama berada di hatcher karena terjadi pipping yaitu anak ayam berusaha memecah kerabang dengan paruhnya.

Pengaturan suhu dan kelembaban dilakukan berdasarkan keadaan telur. Suhu dalam hatcher sekitar 37-38 oC. Kelembaban hatcher sebelum pipping sekitar 52-55% dan saat pipping kelembaban dinaikkan menjadi 70-75%. Kelembaban yang tinggi dapat membantu proses pipping. Saat telur menetas (setelah pipping) maka kelembaban diturunkan kembali menjadi 52-55% dan suhu dalam keadaan lebih rendah dari 37 oC untuk membantu proses pengeringan bulu DOC.

Pull Chick (Penurunan DOC)

Pull chick merupakan proses terakhir dalam hatchery. Pull chick dilakukan empat kali dalam seminggu. Hari Senin dan Kamis untuk DOC layer, sedangkan hari Selasa dan Jum’at untuk DOC broiler. Proses pull chick diawali dengan membongkar rak DOC, grading DOC, potong paruh, vaksinasi, hitung ulang dan pengeluaran DOC.

DOC yang dibongkar dari keranjang akan diseleksi berdasarkan bobot badan dan penampilan normal. Kriteria DOC normal yaitu bobot DOC minimal 33 g/ekor untuk layer dan 37 g/ekor untuk broiler, lincah, mata cerah dan aktif, memiliki pusar tertutup, kaki, paruh dan perut (kantung kuning telur) normal, bulu cerah, tidak kusam dan penuh, bebas dari penyakit pullorum, omphalitis dan jamur.

Pada DOC layer dilakukan pemisahan jantan dan betina (sexing). DOC jantan berwarna kuning merata, sedangkan untuk betina berwarna coklat lebih dominan atau warna kuning dengan garis coklat di bagian punggung atau di kepala.

Perhitungan dan pengemasan DOC dilakukan dengan teliti agar jumlah DOC pada boks tidak kurang. Setiap boks diisi dengan 102 ekor DOC. Boks dilengkapi dengan label yang mencantumkan strain ayam, tanggal menetas, nama perusahaan dan jumlah ayam. Warna boks untuk strain Hybro PG+ yaitu hijau. Warna boks untuk strain Hysex Brown yaitu hitam untuk jantan dan biru untuk betina.

Pengiriman DOC merupakan tahap akhir dari proses penetasan. Jumlah pengiriman disesuaikan dengan permintaan pasar. Pengiriman DOC dilakukan dengan menggunakan mobil boks yang dilengkapi dengan ventilasi sebagai sirkulasi udara selama perjalanan. Biasanya, konsumen yang memesan DOC dari perusahaan ini berasal dari daerah Jawa dan Sumatera.


PENANGANAN LIMBAH

Limbah yang Dihasilkan

Limbah yang dihasilkan berasal dari limbah kandang dan limbah penetasan. Limbah dari kandang berupa bangkai ayam dan sekam yang bercampur dengan kotoran ayam. Limbah penetasan terdiri atas limbah cair seperti air bekas pencucian dari kegiatan penetasan dan limbah padat berupa telur afkir dari grading, telur infertil saat candling, kerabang telur dan telur yang tidak menetas.

Penanganan Limbah

Penanganan limbah bangkai ayam yang dilakukan oleh perusahaan yaitu dengan cara membakar bangkai tersebut pada lubang yang telah disediakan. Untuk sekam yang bercampur kotoran ayam akan diangkut keluar kandang dan dijual kepada agen.

Pada limbah penetasan, air bekas pencucian akan dialirkan ke saluran air tanpa melalui proses lebih lanjut. Limbah padat berupa telur afkir dijual kepada karyawan yang ada di perusahaan sebagai telur konsumsi. Telur infertil dijual kepada perusahaan roti. Kerabang telur, telur yang tidak menetas, DOC yang mati dan DOC grade out ditangani dengan cara dikubur atau dibakar.


KESIMPULAN

PT Peternakan Ayam Manggis IV Cianjur merupakan perusahan ayam bibit untuk menghasilkan anak ayam atau Day Old Chick (DOC). Kandang yang digunakan oleh perusahaan yaitu kandang closed house system atau kandang sistem tertutup.

Dilihat dari manajemen perkandangan termasuk di dalamnya peralatan yang tersedia, pada perusahaan ini sudah cukup baik dan memadai, dilihat dari suhu di dalam kandang sesuai dengan standar operasional yang ditetapkan yaitu sekitar 26,8 oC.


DAFTAR PUSTAKA

Fadilah, Roni dkk 2007. Sukses Beternak Ayam Broiler. Agromedia Pustaka, Jakarta

Hybro, B.V. 2001 Technical Information on PN Breeder Asia The Netherland, Amsterdam

Jahja, J. 1995. Ayam Sehat Ayam Produktif 1. Medion, Bandung

North, M.O. dan D.D. Bell. 1990. Comercial Chicken Production Manual. 4th ED. Van Nostrand Reinhold, New York

Nuryati, T., Sutarto. M. Khamin dan Hardjosworo, P.S. 2003. Sukses Menetaskan Telur Ayam. Agromedia Pustaka, Jakarta

Priyatno, A.M. 2002. Membuat Kandang Ayam. Penebar Swadaya, Jakarta

PT Peternakan Ayam Manggis IV. 2007. Panduan Manajemen Ayam Hybro PG+ PS, Cianjur

Rasyaf, M. 2003. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta

Sudaryani , T. dan H. Santoso. 2004. Pembibitan Ayam Buras. Penebar Swadaya, Jakarta

Suprijatna, E., U. Atmomarsono, dan R. Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta


L A M P I R A N

Lampiran 1. Program Vaksinasi PT Peternakan Ayam Manggis IV Cianjur

Umur

Jenis Vaksinasi

Aplikasi

Jenis Vaksin

Hari

Minggu

1

IBD live

subcutan

Transmune IBD (GPS)

4

ND.IB live + Cocci live

Tetes Mata + Tetes Mulut

MA5 Clone 30 + Livacox Q

14

AI kill

Tetes Hidung

Anonimous

18

ND live + IB live + ND kill

Tetes Mulut + Tetes Mata + SC

Avinew + IB 4/91 + Chikopest

5

AI kill

I M (R)

Avimex AI

6

Pox live + SHS live

W W + Tetes Mulut

Ovo Diptherine + Aviffa RTI

8

ND.IB live + Coriza kill

Tetes Mata + I M (L)

MA5 Clone30 + Hg Gel Vac 3

10

ILT live

Tetes Hidung

Nobilis ILT

12

AE. Pox live + ND.IBD kill

W W + I M (R)

Nobilis AE. Pox + Cevac NDIBDK

14

IB live + AI kill

Tetes Mata + I M (L)

IB 4/91 + Avimex AI

16

ND.IB.EDS.SHS kill

I M (R)

Ovo 4

18

Coriza kill

I M (L)

Ovo Diptherine + Aviffa RTI

20

IB live + ND.IB.IBD kill

Tetes Mata + I M (R)

Hg Gel Vac 3

22

ND.IB live + AI kill

Spray + I M (L)

MA5 Clone30 + Avimex AI

32

ND.IB live

Spray

MA5 Clone 30

40

ND live + IB live

Tetes Mulut + Tetes Mata

Avinew + IB 4/91

48

ND.IB live

Spray

MA5 Clone 30

56

ND live + IB live

Tetes Mulut + Tetes Mata

Avinew + IB 4/91

64

ND.IB live

Spray

MA5 Clone 30

h1

PENYAKIT AYAM

July 20, 2008

Ditulis oleh

Junaidi karo-karo.AMd

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perkembangan dunia Peternakan saat ini khususnya perunggasan di Indonesia semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan banyaknya berdiri perusahaan Peternakan perunggasan. Peternakan perunggasan (ayam) merupakan penghasil daging dan telur untuk memenuhi sebagian besar konsumsi protein hewani. Protein hewani asal unggas lebih murah dan mudah didapat dibandingkan dengan ternak lainnya (ternak ruminansia).

Dony Farm adalah salah satu perusahaan Peternakan ayam ras petelur yang menghasilkan telur sekaligus daging (ayam afkir). Perusahaan ini juga memproduksi DOC ayam petelur komersial untuk memenuhi kebutuhan bibit bagi masyarakat yang ingin beternak ayam petelur.

Dalam satu usaha peternakan unggas, pemeliharaan kesehatan merupakan bagian penting dalam peningkatan produksi ternak. Produktivitas dan reproduktivitas ternak hanya dapat dicapai secara optimal apabila ternak dalam keadaan sehat. Oleh karena itu tatalaksana pemeliharaan dan pengendalian kesehatan ternak merupakan salah satu prasyarat tercapainya target produksi yang optimal.

Tujuan

Tujuan kegiatan Praktik Kerja Lapang (PKL) adalah untuk menambah pengetahuan, pengalaman, dan wawasan dalam tatalaksana pemeliharaan ayam bibit petelur, kususnya masalah pengendalian kesehatan ternak serta menerapkan ilmu yang diperoleh di perkuliahan dan belajar membekali diri dengan keterampilan untuk tujuan dunia kerja. Selain itu, PKL ini juga merupakan salah satu syarat untuk menyandang gelar Ahli Madya di Program Keahlian Teknologi dan Manajemen Ternak, Program Diploma III IPB.


METODE

Waktu dan Tempat

Praktik kerja lapangan dilakukan pada tanggal 18 Februari – 08 Mei 2008. Lokasi yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan praktik kerja lapangan ini adalah di Dony Farm, Magelang, Jawa Tengah.

Metode Pelaksanaan

Praktik kerja lapangan dilakukan dengan cara mahasiswa terjun langsung ke lapangan dan melaksanakan seluruh aktivitas sesuai jadwal yang ada di lapangan. Pengambilan data dan informasi dilakukan dengan cara pencatatan langsung selama praktik kerja lapangan dan melakukan diskusi dengan pembimbing lapangan maupun karyawan untuk pengumpulan data sekunder.


KEADAAN UMUM

Lokasi dan Tata Letak

Perusahaan peternakan ayam ras petelur Dony Farm terletak di Desa Kalikuto, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Lokasi peternakan tersebut sudah memenuhi persyaratan berdirinya sebuah peternakan, karena lokasi tersebut jauh dari pemukiman padat penduduk dan akses transportasi menuju lokasi peternakan sudah lancar. Suhu udara berkisar antara 25oC-27oC, sehingga ayam lebih nyaman dan cekaman stres dapat dihindari.

Dony Farm menempati empat lokasi yang terpisah tapi masih berada di satu kecamatan yang sama. Keempat farm tersebut antara lain farm Kalikuto, Selurah, Siencek, dan Gedangan. Farm Kalikuto merupakan pusat dari seluruh farm. Pada lokasi ini terdapat kantor utama, gudang pakan dan gudang telur. Farm Kalikuto digunakan untuk pemeliharaan ayam layer final stock, pejantan final stock dan ayam parent stock, tapi mulai saat ini pemeliharaan ayam parent stock mulai dipusatkan di farm Gedangan. Farm Selurah digunakan untuk pemeliharaan ayam starter, grower, layer dan pejantan, dan pusat pembuatan pupuk kompos. Farm Siencek digunakan untuk pemeliharaan ayam jantan final stock dan ayam pedaging, sedangkan farm Gedangan digunakan untuk pemeliharaan ayam parent stock sekaligus sebagai unit penetasan.

Sejarah Perkembangan

Dony Farm merupakan suatu perusahaan yang bergerak di bidang peternakan ayam ras yang terdiri atas PT Cakrayoga Bumi Manunggal yang bergerak dibidang komersial farm petelur dan CV Bina Unggas Pratama yang bergerak di bidang Breeding Farm dan Hatchery.

Doni Farm berdiri tahun 1991 dengan 6 buah kandang battery. Pada tahun 1994 dilanjutkan dengan pembangunan 29 unit kandang komersial dan 14 unit kandang pembesaran. Pada tahun 1994, didirikan unit penetasan dan langsung mengimpor mesin tetas James Way 1 unit.

Pada tahun 1995 dilanjutkan dengan pembangunan 41 kandang komersial dan 18 kandang pembesaran. Sebagai penunjang operasional farm maka dibangun unit Feed mill yang dilengkapi dengan 2 unit hammer mill kapasitas 3,5 ton per jam, 1 unit mixer vertikal kapasitas 2 ton per mix dan 2 unit mixer vertikal kapasitas 500 kg per mix.

Pada tahun 2002, unit penetasan mengimpor mesin tetas 1 unit untuk menambah kapasitas hatchery yang ada. Pada tahun yang sama unit Breeding Farm membangun 2 unit closed house dengan kapasitas 10.000 ekor parent stock. Pada tahun 2006 Dony Farm melakukan diversifikasi usaha dengan usaha ayam broiler. Usaha ayam broiler melalui pola kemitraan dengan PT Prima Karya Persada unit Temanggung dengan skala pemeliharaan 20.000 ekor.

Pada tahun 2007 Dony Farm menambah unit usaha baru yang merupakan diversifikasi usaha dan sebagai bentuk integrated farm yang berupa pemanfaatan limbah kotoran ayam diolah menjadi kompos. Unit ini bergerak di bidang pembuatan kompos dan pertanian.

Ketenagakerjaan

Tenaga kerja adalah suatu komponen pada unit usaha tertentu yang merupakan penggerak dari seluruh unit kegiatan. Jumlah karyawan yang tergabung di Dony Farm sebanyak 187 orang dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Staff dan supervisor tingkat pendidikannya meliputi lulusan SMA dan diploma atau sarjana, untuk tenaga kerja operasional meliputi lulusan SD hingga SMA. Sebagian besar karyawan berasal dari wilayah sekitar peternakan. Disiplin, tanggung jawab dan kerja sama sangat dianjurkan pada semua karyawan demi terciptanya etos kerja yang tinggi.

Kegiatan kerja di Dony Farm dimulai pukul 07.00 sampai 15.30 WIB dengan waktu istirahat pukul 11.30 sampai 13.00 WIB.

Struktur organisasi

Struktur organisasi adalah hubungan timbal balik antara orang-orang yang mempunyai jabatan, tugas, wewenang dan tanggung jawab dalam suatu perusahaan. Jabatan tertinggi di Dony Farm berada ditangan direktur utama yang sekaligus merupakan pemilik perusahaan. Direktur utama membawahi direktur umum yang bertanggungjawab terhadap kelancaran seluruh kegiatan unit peternakan.

Untuk lebih jelasnya, struktur organisasi di Dony Farm dapat dilihat pada Gambar 1.

DIREKTUR

UTAMA

DIREKTUR

UMUM

MANAGER

PEMASARAN

DAN FEEDMILL

MANAGER

PRODUKSI

PETERNAKAN

MANAGER

KEUANGAN

MANAGER

PERSONALIA /

UMUM

ADMINISTRASI

PERSONALIA

MANAGER

DIVISI

PUPUK & AGRO

MANAGER

LOGISTIK /

PENGADAAN

KEPALA

KEUANGAN

PENGADAAN

PAKAN & UMUM

UNIT PRODUKSI

PUPUK KOMPOS

UNIT PRODUKSI

PERTANIAN

PEMASARAN

TELUR & DOC

UNIT PRODUKSI

& DISTRIBUSI

PAKAN

UNIT LAYER

KOM.KALIKUTO

UNIT BREEDING

& BROILER

UNIT LAYER

KOM.SELURAH

Organization Chart

Gambar 1. Struktur Organisasi Dony Farm Magelang

Direktur umum membawahi manajer produksi, manager keuangan, manajer personalia, manajer divisi agro, manajer logistik, manajer pemasaran dan manajer feed mill. Manajer produksi dibantu oleh supervisor, maintenace dan koordinator vaksinator. Supervisor bertugas melaksanakan proses produksi dan mengawasi kegiatan administrasi dan operator kandang.


SARANA PRODUKSI

Luas Lahan dan Penggunaan

Dony Farm berdiri di atas lahan seluas 13 Ha. Lahan tersebut terbagi dalam 4 lokasi yaitu unit Kalikuto, Selurah, Gedangan, dan Siencek. Unit Kalikuto berdiri di atas lahan seluas 4,5 Ha. Fasilitas pendukung unit tersebut diantaranya workshop maintenance, gudang sentral dan feed mill, gudang telur, dan pos satpam. Unit Kalikuto terdapat 6 buah kandang postal tingkat, 1 buah kandang postal dan 46 buah kandang battery.

Unit Selurah berdiri di atas lahan seluas 2,5 Ha. Fasilitas pendukung di lokasi ini adalah gudang telur dan pos satpam, sedangkan fasilitas pemeliharaan ayam yaitu terdapat 6 buah kandang postal tingkat, 1 buah kandang postal dan 27 buah kandang battery. Pada lokasi ini juga terdapat unit pertanian dan kompos. Unit kompos menempati lahan seluas 0,5 Ha, sedangkan unit pertanian saat ini sedang mengelola lahan seluas 4 Ha.

Gedangan berdiri diatas lahan seluas 1 Ha. Unit tersebut digunakan untuk pemeliharaan ayam parent stock dan penetasan sebanyak 900 box DOC betina per bulan. Pada unit ini terdapat 7 buah kandang postal, 2 buah mesin tetas James Way, cooling room dan ruang grading DOC.

Unit Siencek menempati lahan seluas 1 Ha. Pada unit tersebut terdapat 2 buah closed house postal, 1 buah kandang postal tingkat dan 1 buah pos satpam.

Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana yang terdapat di Dony Farm antara lain yaitu di unit Kalikuto terdapat kendaraan operasional berupa 2 buah truk dan 1 buah L-300, power house genset 150 KVA dan 50 KVA. Pada unit Selurah terdapat kendaraan operasional berupa 1 buah truk. Pada unit gedangan terdapat kendaraan operasional 1 chick van dan power house. Pada unit Siencek terdapat 1 buah power house.

Perkandangan

Kandang berfungsi untuk melindungi ternak ayam dari pengaruh buruk iklim, seperti hujan, panas matahari, atau gangguan-gangguan lainnya. Kandang yang nyaman dan memenuhi syarat-syarat perkandangan akan memberikan dampak positif karena ternak menjadi tenang dan tidak stres. Selanjutnya, ternak akan memberikan imbalan produksi yang lebih baik bagi peternak pemelihara (Sudaryani dan Santosa, 2003). Secara makro, kandang berfungsi sebagai tempat tinggal bagi unggas agar terlindung dari pengaruh-pengaruh buruk iklim (hujan, panas, dan angin) serta gangguan lainnya (hewan liar atau buas dan pencurian). Secara mikro, kandang berfungsi menyediakan lingkungan yang nyaman agar ternak terhindar dari cekaman (Suprijatna, 2005).

Kandang yang digunakan untuk pemeliharaan ayam terdiri atas beberapa macam, diantaranya kandang postal, postal tingkat, closed housed, dan kandang battery. Berdasarkan tipe atapnya terdiri atas kandang dengan tipe atap single monitor, double monitor, dan gable.

Lokasi dan tata letak kandang selalu diperhatikan dalam membangun suatu perkandangan, supaya dapat menghindari penyakit dan pemborosan tenaga. Perkandangan merupakan kumpulan dari seluruh kandang-kandang yang ada dengan suatu aturan tertentu. Menurut Rasyaf (2003), beberapa prinsip penting dalam mengatur tata letak kandang yaitu: 1) ayam tidak dapat ditempatkan di tempat yang ramai, terutama bila ayam petelur sudah bertelur, 2) ayam yang mempunyai umur yang berbeda tidak dapat ditempatkan dalam kandang yang sama, 3) jarak antar kandang ayam yang berumur tidak sama minimal 10 m, sedangkan kandang ayam yang berumur sama boleh saling berdekatan, 4) kemudahan dalam pengelolaan.

Letak perkandangan di Dony Farm seperti kandang battery yang ada di unit Kalikuto letaknya memanjang dari Utara ke Selatan. Menurut Sudaryani dan Santosa (2003), letak kandang sebaiknya memanjang dari Barat ke Timur agar ayam tidak terkena panas matahari yang berlebihan, sehingga amoniak di dalam kandang tidak tinggi dan udara segar dapat membuat pertumbuhan ayam menjadi baik.

Lantai kandang postal di Dony Farm menggunakan sistem litter atau disemen, kecuali kandang postal tingkat yang ada di unit Siencek terbuat dari bambu. Kebaikan lantai semen antara lain kuat dan tahan lama, tidak mudah menjadi sarang tikus, mudah membersihkannya dan sedikit biaya pemeliharaannya. Kekurangannya adalah biaya pembuatannya relatif mahal, kandang tidak dapat dipindah-pindahkan, dan tidak dapat menyerap air (Sudaryani dan Santosa, 2003).

Dinding kandang di Dony Farm menggunakan sistem terbuka. Bahan yang digunakan untuk dinding adalah bilah bambu dan kawat kandang. Dinding kandang terdiri atas kombinasi tembok setinggi 40 cm dan kawat kandang setinggi 2,5 m. Dengan kandang sistem terbuka ini pertukaran udara sangat lancar dan dapat mengurangi kadar amoniak dalam kandang.

Jumlah dan Strain Ayam yang Digunakan

Kapasitas kandang untuk pemeliharaan ayam periode grower di unit Kalikuto adalah sebanyak 30.000 ekor dan ayam layer 87.000 ekor. Jumlah produksi telur di unit tersebut adalah 4,25 ton per hari. Kapasitas kandang untuk pemeliharaan ayam periode grower di unit Selurah adalah 30.000 ekor dan ayam layer 110.000 ekor dengan produksi telur 5,25 ton per hari. Kapasitas kandang untuk pemeliharaan parent stock di unit Gedangan sebanyak 20.000 ekor, sedangkan kapasitas kandang di unit Siencek adalah 30.000 ekor ayam broiler. Strain yang digunakan adalah strain Hy-Line Brown untuk tipe petelur dan strain Ross untuk tipe pedaging.


PEMELIHARAAN AYAM BIBIT

Pemeliharaan ayam bibit merupakan pemeliharaan ayam induk (parent stock) yang dipelihara bersama-sama pejantan. Menurut (Sudaryani dan Santosa, 2003), usaha pembibitan adalah usaha peternakan yang menghasilkan ternak untuk dipelihara lagi dan bukan untuk dikonsumsi. Pembibitan (breeding) dalam usaha peternakan ayam petelur komersial sangat penting dan sangat perlu mendapat perhatian yang khusus. Hal ini dilakukan untuk menjaga dan mendapatkan kualitas DOC final stock yang bagus serta menghindari terjadinya inbreeding dalam suatu peternakan. Jika pemeliharaan ayam parent stock kurang baik berdampak buruk pada keturunan yang dihasilkan. Seperti contoh, apabila induk terserang penyakit menular maka penyakit tersebut bisa ditularkan secara vertikal pada keturunannya.

Strain Ayam yang Dipelihara

Pemeliharaan ayam bibit di Dony Farm pada saat ini menggunakan strain Hy-Line Brown. Pada pemeliharaan sebelumnya Dony Farm memelihara strain Bovans Goldline dan Isa Brown. Ayam bibit strain Bovans Goldline didatangkan dari Belanda. Pemeliharaan ayam bibit strain Bovans Goldline terputus karena pada saat itu pemerintah melarang mendatangkan ayam dari negara Belanda. Pada tahun 2004, Dony Farm mendatangkan parent stock Isa Brown. Pada bulan Mei tahun 2006, Dony Farm mengganti strain Isa Brown dengan mendatangkan strain baru yaitu Hy-Line Brown.

Persiapan Kandang dan Peralatan

Persiapan kandang membutuhkan waktu yang relatif lama karena kandang dibersihkan dan diistirahatkan. Hal ini dilakukan agar siklus penyakit terputus sebelum pemeliharaan ayam dimulai. Tahapan persiapan kandang yang dilakukan adalah penyemprotan kandang dan litter dengan obat kutu, pengangkatan litter bekas, penyemprotan kandang dengan obat kutu kembali, pencucian kandang dengan air dan deterjen, perbaikan fisik kandang, penyemprotan dengan formalin dengan dosis 5 liter per 95 liter, pemasangan chick guard dan gasolec dan memasukkan sekam.

Peralatan kandang dibersihkan agar anak ayam terhindar dari penyakit. Peralatan yang digunakan pada periode starter yaitu tempat pakan, tempat minum, koran sebagai alas, alat pemanas (gasolec) dan chick guard (lingkar pembatas).

Dalam chick guard (lingkar pembatas) dipasang sebuah gasolec pada ketinggian 1,0-1,2 meter dengan kemiringan 45°. Kapasitas satu chick guard untuk 500-750 ekor. Menurut Sudaryani dan Santoso (2004), empat jam sebelum DOC datang, pemanas sudah dinyalakan sehingga pada saat DOC datang suhu sudah stabil yaitu 35°C. Tempat pakan dan minum diletakkan di dalam chick guard yang telah dialasi koran. Tempat pakan yang digunakan yaitu feeder tray dan tempat minum berbentuk toples terbalik. Tempat pakan dan tempat minum disusun secara selang-seling dan melingkar mengikuti chick guard.

Perlakuan Saat DOC Datang

Pada saat DOC datang, pertama kali DOC dihitung dan dibagi ke dalam chick guard dengan jumlah yang sama. Setelah itu, kegiatan yang dilakukan adalah mengontrol suhu di daerah chick guard selama 24 jam, pemberian dan pengecekan pakan dan air minum. Pemberian air minum dilakukan dua kali sehari, sedangkan pengecekan pakan dilakukan enam kali sehari, setiap empat jam sekali.

Pemberian Pakan dan Minum

Pemberian pakan pada periode starter dilakukan ad libitum hingga ayam berumur tiga minggu. Hal ini bertujuan untuk memacu ayam mengkonsumsi pakan untuk menunjang perkembangan organ-organ tubuhnya. Menurut Rasyaf (1995), pada masa ini bagian-bagian tubuh unggas tumbuh pesat, terutama bagian-bagian tubuh utama, jaringan daging, organ tubuh, bulu dan tulang.

Pemberian minum untuk periode starter dilakukan ad libitum dengan penambahan vitamin dan antibiotik. (Sudaryani dan Santosa, 2003), pemberian obat anti stress melalui air minum bertujuan untuk meringankan cekaman pada anak ayam. Tempat minum yang digunakan berbentuk toples terbalik.

Program Pencahayaan

Pemberian cahaya pada periode starter bertujuan agar ayam dapat mengenal lingkungannya dengan baik untuk memacu pertumbuhan. Program pencahayaan untuk ayam periode starter disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Lama Pencahayaan Masa Starter

Umur (minggu)

Lama pencahayaan (jam/hari)

1

24

2

20

3

18

4

16

5

14

Sumber : Dony Farm (2008)

Setelah ayam berumur 15 minggu lama pencahayaan hanya 12 jam per hari atau pencahayaan hanya berasal dari sinar matahari (natural light). Malam hari tidak ada penambahan cahaya. Tujuannya yaitu menghambat dewasa kelamin dini dan mencegah ayam kegemukan dengan mengurangi waktu makan ayam. Pada umur 15-17 minggu dilakukan sistem black out atau ruangan dibuat setengah gelap untuk mengontrol hormon reproduksi, sehingga diperoleh kematangan organ reproduksi yang serentak.

Penimbangan

Penimbangan ayam dilakukan setiap minggu secara acak dengan sampel 10% dari populasi ayam. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rasyaf (2003), bahwa penimbangan dilakukan secara acak dengan jumlah sampel lebih kurang 10% dari populasi ayam. Penimbangan dilakukan sebelum ayam diberi makan.

Tujuan penimbangan adalah untuk mengetahui bobot badan anak ayam sehingga pengontrolan bobot badan dan tingkat keseragaman ayam pada periode starter dapat dicapai. Anak ayam yang bobot badan kecil dan lemah dipisah pada brooder yang berbeda untuk diberi perlakuan yang intensif.

Pemotongan Paruh

Pemotongan paruh dilakukan pada anak ayam umur 10 hari. Sudaryani dan Santosa (2003) menyatakan bahwa keuntungan pemotongan paruh pada ayam umur muda adalah ayam mudah dipegang, dapat mengurangi pendarahan dan cekaman serta daya hidup anak ayam lebih baik. Tujuan pemotongan paruh adalah menghilangkan sifat kanibal, efisiensi pakan dan memacu pertumbuhan.

Paruh dipotong hingga sepertiga bagian dengan menggunakan electric debeaker. Sebelum pemotongan paruh, DOC diberi vitamin K dan antibiotik melalui air minum. Setelah pemotongan paruh, DOC dipuasakan minum selama dua jam dan pakan lima jam. Tujuan pemuasaan ini agar tidak tidak terjadi pendarahan pada mulut ayam.


PROGRAM PENGENDALIAN KESEHATAN AYAM PEMBIBIT PETELUR DI DONY FARM

Pengendalian atau pencegahan penyakit adalah suatu tindakan untuk melindungi individu terhadap serangan penyakit atau menurunkan keganasannya. Pengendalian atau pencegahan penyakit pada pemeliharaan ayam pembibit petelur sangat penting sehingga dapat mengatasi atau mencegah terjadinya penularan penyakit ataupun timbulnya penyakit. Pemeliharaan kesehatan unggas merupakan bagian integral dari usaha peningkatan produksi ternak. Produktivitas dan reproduktivitas ternak hanya dapat dicapai secara optimal apabila ternak dalam keadaan sehat. Oleh sebab itu pemeliharaan kesehatan ternak merupakan salah satu syarat tercapainya target produksi yang optimal. Program pencegahan penyakit yang dilakukan di Dony Farm antara lain melakukan biosekuriti yang ketat, sanitasi dan vaksinasi

Biosekuriti

Program biosecurity yaitu upaya untuk menjadikan suatu kawasan Peternakan terbebas dari bibit penyakit (mikroorganisme pathogen) dari reservoir atau vektor pembawanya.

Pintu gerbang suatu peternakan adalah tempat pertama bagi orang yang mau masuk ke areal atau komplek peternakan dan merupakan titik awal keberhasilan suatu peternakan terbebas dari wabah atau serangan penyakit. Dony Farm mengkondisikan setiap orang maupun kendaraan tidak sembarangan keluar masuk Farm, dan pintu selalu dijaga ketat oleh petugas. Pada breeding farm dan hatchery selalu dalam keadaan terkunci. Tidak setiap kendaraan atau orang bisa masuk ke kawasan farm demi terlaksananya program pencegahan penyakit. Sebelum masuk ke area breeding farm (di depan pos keamanan), setiap kendaraan dan pengunjung/staf/karyawan harus melewati area penyemprotan dengan desinfektan. Sebelum masuk ke area hatchery, setiap karyawan/staf/pengunjung diwajibkan mengganti pakaian dan disemprot dengan desinfektan. Desinfektan yang digunakan adalah BKC atau long life dengan dosis ringan yaitu 1cc/liter air. Tujuan penggunaan desinfektan ini adalah untuk membunuh mikroorganisme patogen yang mungkin terbawa oleh kendaraan, karyawan/staf/pengunjung.

Biosekuriti yang dilakukan Dony Farm Unit Kalikuto meliputi penyemprotan kendaraan, karyawan/staf/pengunjung dengan desinfektan long life dengan dosis 1 cc/liter air di depan pos jaga keamanan. Berikutnya dilakukan penyemprotan terhadap karyawan/staf/pengunjung yang akan masuk ke area perkantoran yaitu di sebelah kantor feed mill dengan desifektan long life dengan dosis 1cc/liter air. Kemudian, sebelum masuk ke area kandang yaitu di sebelah kantor departemen produksi, setiap karyawan/staf/pengunjung disarankan untuk mengganti pakaian rumah dengan pakaian kerja/pakaian yang bersih sebelum disemprot lagi dengan desinfektan long life dengan dosis 1cc/liter air. Selain aitu, di sebagian kandang disediakan untuk mencelup kaki (dipping foot) dan tangan (dipping hand) sebelum masuk ke dalam kandang dan menangani ternak. Desinfektan yang digunakan untuk mencelup kaki dan tangan adalah long life dengan dosis 1cc/liter air. Biosekuriti yang sama dilakukan juga di Dony Farm Unit Selurah.

Sanitasi Kandang dan Sekitarnya

Sanitasi adalah program di suatu kawasan Peternakan yang bertujuan untuk menjaga terjadinya perpindahan bibit penyakit menular sehingga ternak yang dipelihara terbebas dari infeksi bibit penyakit serta selalu dalam kondisi sehat. Program sanitasi yang dilakukan di breeding farm dan hatchery Dony Farm dengan melakukan penyemprotan kandang 1 kali dalam sehari, menggunakan larutan desinfektan TH-4 atau BIODES dosis yaitu 5cc untuk 1 liter air. Frekuensi dari penyemprotan ini ditingkatkan jika ada kemungkinan terjangkit penyakit. Penyemprotan yang kedua dilakukan di lingkungan sekitar kandang yaitu satu kali dalam satu minggu menggunakan desinfektan jenis long live atau BKC dengan dosis 1cc/liter air. Penyemprotan seperti ini dilakukan secara rutin kecuali saat tertentu, misalnya dilakukan vaksinasi.

Selain penyemprotan dengan menggunakan larutan desinfektan, juga dilakukan proses karantina ayam yang sudah terindikasi terserang penyakit, atau memusnahkannya. Lalu lalang dan perpindahan karyawan atau peralatan kandang dibatasi, binatang liar beserta sarangnya yang memungkinkan berpindah sebagai vector dari mikroorganisme penyebab penyakit dibasmi dengan racun tikus.

Hal lain yang dilakukan adalah menghindari pemeliharaan ayam dengan umur yang beragam dalam satu flok, menjaga kebersihan kandang, peralatan dan daerah sekitarnya, menjaga litter dalam kandang agar tetap kering, menjaga ventilasi dan aliran udara dalam kandang agar selalu dalam keadaan baik.

Sanitasi pada Hatchery

Program sanitasi yang dilakukan pada hatchery Dony Farm adalah membersihkan kendaraan dan peralatan yang dipakai pada saat membawa telur tetas dengan desinfektan agar dalam kondisi bebas dari organisme patogen pembawa penyakit. Desinfektan yang digunakan adalah jenis TH-4 atau BIODES dengan dosis 1cc/liter air. Telur tetas setelah terkumpul, sebelum dibawa ke hatchery terlebih dahulu difumigasi dengan menggunakan formalin 40% sebanyak 240 cc dengan 96 g forcen/PK untuk 8 m3 ruangan. Hal ini dimaksudkan agar telur yang baru diperoleh dari kandang bebas penyakit atau bakteri sebelum masuk ruang penyimpanan telur (cooling room).

Setelah kegiatan full chick, semua peralatan dan bagian ruangan disemprot dengan air bertekanan tinggi. Setelah itu dilakukan desinfeksi ruangan hatchery menggunakan desinfektan long live dengan dosis 5cc/liter air. Hal ini bertujuan untuk membunuh mikroorganisme patogen yang ada di lingkungan dan sekitar bagian ruangan hatchery.

Penanganan Ayam Mati

Penanganan ayam mati dan kotoran ayam penting artinya dalam usaha pengendalian kesehatan ayam. Apabila pengguanannya sudah benar maka dampaknya bagi kesehatan ayam yang dipelihara akan terlihat jelas begitu pula sebaliknya, apabila salah dalam penanganannya akan sangat membahayakan kesehatan ternak. Ayam mati merupakan salah satu sumber penyakit dan pencemaran lingkungan.

Pada breeding farm Hatchery Dony Farm dilakukan penanganan sebagai berikut, mengumpulkan ayam-ayam mati dari setiap kandang, melakukan usaha pembakaran ayam mati yang disebabkan penyakit berbahaya atau terinfeksi, melakukan penguburan ayam-ayam mati ke dalam lubang khusus yang disediakan atau bila perlu dilakukan pencelupan dengan desinfektan.

Program Vaksinasi

Program pengendalian kesehatan ayam selanjutnya adalah program vaksinasi. Program ini adalah program yang paling sering digunakan dalam mencegah timbulnya penyakit di suatu kawasan peternakan. Program vaksinasi dalam suatu peternakan tidak selalu bersifat statis tapi dinamis. Artinya, tidak baku antara satu perternakan dengan peternakan lainnya, tidak hanya jenis vaksin yang digunakan tetapi program vaksinasinya pun beragam. Biasanya program vaksinasi ini disesuaikan dengan kasus penyakit yang pernah terjadi. Menurut (Wiharto. 1986), bahwa vaksinasi merupakan salah satu diantara berbagai cara yang efektif untuk melindungi individu terhadap serangan berbagai macam jenis penyakit tertentu.

Pencegahan penyakit melalui program vaksinasi pada Dony Farm diaplikasikan dengan sangat ketat. Jenis vaksin yang digunakan terdiri dari vaksin live dan vaksin kill yang diperoleh dari Intervet, Medion dan yang lainnya sebagai produsen dan SHS, Vaksindo sebagai suplemennya. Pemberian Vaksin ini berfungsi untuk mendapatkan kekebalan untuk jangka waktu tertentu. Kegiatan revaksinasi oleh Dony Farm dilakukan satu sampai dua minggu sebelum kekebalan yang ditimbulkan oleh vaksin di dalam tubuh sampai batas minimum. Hal ini dimaksudkan agar anti bodi selalu ada dalam tubuh ayam.

Dalam melakukan vaksinasi ada beberapa faktor yang dicatat yaitu tanggal pelaksanaan vaksinasi, nama perusahaan dan nomer seri vaksin untuk mengontrol hasil vaksinasi dan administrasi serta memudahkan komplain jika ada masalah dengan vaksin. Nama vaksinator juga dicatat untuk menelusuri bila terjadi kegagalan dalam vaksinasi. Faktor lain yang dilakukan adalah menghindari vaktor yang bisa mematikan vaksin, seperti sinar matahari langsung, panas seperti yang ditimbulkan dari deterjen, bara rokok, desinfektan dan pencampuran vaksin yang tidak benar. Selain itu, vaksinasi dilakukan sesuai dengan prosedur dan penyimpanan vaksin sesuai dengan rekomendasi produsen.

Dalam prosedur vaksinasi yang diperhatikan diantaranya memberikan vitamin dan anti stres pada ayam sebelum dan sesudah dilaksanakannya vaksinasi/ tergantung dari kondisi ayam. Setelah selesai vaksinasi, bekas vaksin dimusnahkan dan peralatan yang digunakan selama vaksinasi segera dibersihkan dan direbus.

Menghindari Stres

Stres adalah kondisi tubuh yang mengalami gangguan hormonal secara temporer. Adanya stres pada ayam dapat mempermudah kemungkinan terkena penyakit menular. Akibat-akibat yang timbul bila stres diantaranya dehidrasi sebagai akibat pembakaran dalam tubuh yang meningkat, menyebabkan air serta garam mineral (elektrolit) tubuh banyak terbuang. Hal tersebut menyebabkan nafsu makan berkurang, sehingga asimilasi vitamin terganggu, pertumbuhan terganggu dan badan menjadi lemah sehingga mudah terserang penyakit. (Sudaryani dan Santosa, 2003)

Untuk mencegah terjadinya stres, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Dony Farm adalah selalu memberikan vitamin dan elektrolit jika terjadi suatu hal yang membuat ayam stres, misalnya sebelum dan sesudah vaksinasi, operator kandang diberi pengarahan dan selalu diingatkan untuk tidak melakukan perlakuan kasar selama pemeliharaan. Selain itu, kandang dijaga supaya selalu dalam keadaan tenang dan menghindari suara gaduh yang dapat menimbulkan stres pada ayam. Demikian juga lingkungan di sekitar kandang diusahakan tetap stabil, seperti perubahan temperatur dengan cara membuka dan menutup tirai sesuai kondisi dalam kandang. Hal lain yang dilakukan adalah menempatkan peralatan kandang dengan tepat dan jumlahnya memadai, aktivitas sehari-hari dan petugas tidak berubah secara mendadak dan menghindari akumulasi tingginya gas amoniak dengan menggunakan kipas.

Program Pengobatan

Program pengobatan dilakukan pada saat keadaan ayam sudah terditeksi secara dini terkena suatu penyakit. Hal ini dilakukan untuk mencegah sulitnya program pengobatan karena pengobatan membutuhkan waktu lama dan memakan biaya yang mahal.

Untuk menentukan jenis obat yang akan diberikan, terlebih dahulu harus diketahui jenis penyakit yang menyerang. Untuk itu dilakukan diagnosa penyakit dengan langkah-langkah sebagai berikut: menentukan bahwa suatu peternakan ada kasus, mendapatkan keterangan peternak tentang sejarah kelompok ayam dan peternakan, pemeriksaan di peternakan termasuk post mortem, pengambilan dan pengiriman material untuk pemeriksaan laboratorium.

Tata Laksana Pemeliharaan

Faktor manajeman pemeliharaan yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap keseharan ayam tersebut diantaranya adalah kualitas bibit, sistem pemeliharaan, kandang dan peralatan. .

Kualitas bibit yang baik akan menentukan keberhasilan suatu usaha peternakan. Bibit ayam dipilih dari sumber yang diyakini bebas dari berbagai penyakit dan kualitas bibitnya baik sesuai dengan standar setiap strain.

Sistem pemeliharaan dilakukan sesuai dengan rekomendasi penghasil bibit, seperti memelihara ayam satu umur dalam satu flok. Ayam dipelihara dari umur satu hari sampai diafkir berada dalam satu kandang (all in all out). Kandang dan peralatan selalu bersih. Kandang dan peralatan yang kotor dapat bertindak sebagai media yang baik bagi mikroorganisme patogen untuk berkembang biak dan akan bertindak sebagai media dalam penularan penyakit.

Tes Darah

Tes darah merupakan salah satu program penunjang untuk mengontrol jenis penyakit di kawasan usaha peternakan ayam. Program ini dijalankan secara teratur dan terjadwal. Penyakit yang bisa dideteksi tes darah adalah penyakit yang disebabkan oleh pullorum, thypoid, mycoplasma. Tes darah juga bisa untuk mengetahui tingkat titer anti bodi ayam yang berhubungan erat dengan program vaksinasi yang sedang dijalankan.

Evaluasi Keberhasilan Program Pencegahan Penyakit

Dony Farm selalu melakukan evaluasi dan penilaian terhadap keberhasilan pemeliharaan ayam komersial dan ayam parent stock. Evaluasi ini didasarkan pada perhitungn tingkat kematian (mortalitas), efisiensi pakan dan produksi telur.

Tingkat keberhasilan program pencegahan penyakit dan sanitasi juga dievaluasi melalui produksi telur yang dikeluarkan perusahaan pembibit ayam tersebut. Langkah yang dilakukan ini sesuai yang diungkapkan Wiharto (1986), bahwa produksi telur dilakukan untuk membandingkan tingkat produksi telur ayam secara kasar dengan tingkat dasar (standar) ayam tersebut, yang dikeluarkan oleh pihak peruhsahaan pembibit sebagai evaluasi dalam pelaksanaan program pencegahan penyakit ayam.

Penampilan Ayam Bibit Hy-line

Penampilan ayam bibit strain Hy-line umur 1-4 minggu disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Penampilan Ayam Umur 1-4 Minggu.



Umur

Konsumsi Pakan

Keseragaman

Rataan Bobot Badan

Mortalitas

minggu

Act (g)

Std

(g)

(%)

Act

(g/ekor)

Std

(g/ekor)

Act Std

(g/ekor)

1

13,8

20

81,9

72

115

3.23 0,1

2

20,5

25

79,2

119

190

4.83 0,1

3

23,1

29

73,84

182,8

270

2.63 0,1

4

29

34

71,2

238

370

0.66 0,1


Sumber: Dony Farm, Magelang, Jawa Tengah

Dari Tabel 2 terlihat bahwa konsumsi pakan ayam Hy-line Brown umur 1 – 4 minggu masih berada di bawah standar. Menurut pembimbing lapangan pada ayam petelur tipe ringan sulit untuk mencapai konsumsi pakan sesuai standar, Selain itu dapat juga karena ternak terserang penyakit. Dari angka mortalitas, dapat dilihat bahwa tingkat mortalitas ayam strain Hy-line di Dony Farm cukup tinggi (lebih besar dari standar). Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh dokter hewan setempat menyatakan bahwa mortalitas ayam tersebut diakibatkan oleh penyakit aspergillosis yang menunjukkan gejala seperti anak ayam sukar bernafas, mengantuk, sayap terkulai dan ayam tidak aktif. Setelah dilakukan bedah bangkai maka didapat beberapa tanda yaitu timbul bintik kekuning-kuningan pada alat pernafasan dan salurannya, ada bungkul-bungkul berwarna kuning pada hati dan limfa, yang menurut dokter hewan setempat ayam ayam tersebut terkena aspergillosis. Upaya yang dilakukan Dony Farm adalah dengan cara pengobatan menggunakan hermisin 20g/cc, nistiatin dan kristal violet dengan cara pemberiannya pencampuran pada air minum. Setelah pemberian obat tersebut terlihat mortalitas ayam umur 4 minggu menurun (lebih rendah dari minggu sebelumnya).


PENETASAN

Pengelolaan penetasan di Dony Farm Magelang dilakukan di unit hatchery. Kegiatan yang dilakukan pada unit hatchery antara lain penanganan telur sebelum ditetaskan, proses penetasan, pull chick (penurunan DOC).

Penanganan Telur Sebelum Ditetaskan

Grading (Seleksi Telur)

Tahap awal dari proses penetasan dimulai dari penyeleksian telur (grading). Menurut Sudaryani dan Santoso (2003), tujuan seleksi telur tetas adalah untuk mendapatkan anak ayam yang sesuai dengan yang diharapkan.

Kriteria telur yang baik untuk ditetaskan (Hatching Egg) adalah telur utuh dan bersih, bobot telur 55-70 gram, bentuk telur normal dengan indeks 74%, ketebalan kerabang 0,33 mm (Rasyaf, M. 1995). Telur yang tidak masuk ke dalam kriteria telur tetas dimasukkan ke dalam gudang telur untuk dijual sebagai telur konsumsi. Telur yang lolos seleksi ditempatkan di egg tray.

Fumigasi Telur Tetas

Telur tetas yang telah lolos seleksi kemudian dimasukkan ke dalam ruang fumigasi berukuran 3 m x 2,5 m x 3 m. Fumigasi dilakukan selama 20 menit dengan dosis 280 g KMnO4 dan 560 ml formalin 40%. Menurut Sudaryani dan Santosa (2003), fumigasi dilakukan untuk membunuh kuman penyakit.

Penyimpanan Telur

Telur yang telah difumigasi disimpan di cooling room. Cooling room merupakan ruangan khusus untuk menyimpan telur tetas sebelum dimasukkan ke setter. Suhu dan kelembaban ruangan penyimpanan diatur sehingga embrio tidak berkembang. Tujuan utama penyimpanan telur tetas adalah menunggu sampai jumlah telur yang ingin ditetaskan tercapai. Lama penyimpanan telur tetas berkisar 3-4 hari pada suhu 20 oC dan kelembaban 70%-80%. Penyimpanan telur tetas yang terlalu lama dapat mempengaruhi daya tetas telur.

Proses Penetasan

Pre Warming

Setelah jumlah telur yang akan ditetaskan terpenuhi, maka telur tetas dikeluarkan dari cooling room menuju setter. Akibat jauhnya perbedaan suhu antara cooling room dengan setter, maka perlu adanya penyesuaian suhu agar embrio yang ada di dalam telur tidak mengalami cekaman. Proses penyesuaian suhu tersebut disebut pre warming. Lamanya proses pre warming didasarkan pada ketebalan kerabang telur.

Setter

Telur dari pre warming dimasukkan ke dalam ruang setter (ruang inkubator). Telur disetting berdasarkan kandang, kualitas telur, dan umur induk ayam. Suhu ruang setter 37,5 oC dan kelembaban 55%. Pemutaran telur tetas di dalam setter dilakukan selama 18 hari dengan frekuensi pemutaran satu jam sekali. Sudut pemutaran telur 90 o dan kemiringan 45o. Bila telur tidak diputar, maka kuning telur akan melekat pada satu sisi kerabang telur dan berakibat pada kematian embrio. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudaryani dan Santosa (2003), bahwa telur tetas harus diputar setiap jam untuk menjaga embrio agar tidak menempel pada kerabang telur.

Transfer Telur Tetas dan Candling

Transfer adalah proses pemindahan telur tetas dari setter ke hatcher saat umur embrio 18 hari. Sebelum masuk ke mesin hatcher, terlebih dahulu dilakukan candling (peneropongan). Candling dilakukan untuk memisahkan telur yang fertil, infertil dan explode. Menurut Nuryati dkk (2003), telur explode disebabkan telur terkontaminasi bakteri, kotor, pencucian telur kurang baik dan mesin tetas kotor.

Transfer telur tetas dan candling dilakukan dengan cepat, maksimal 30 menit karena embrio dapat mati akibat perubahan suhu telur yang drastis. Telur yang sudah diteropong dipindahkan ke kereta buggy hatcher yang berbentuk keranjang.

Hatcher

Telur yang lolos pada saat candling kemudian dimasukkan ke dalam mesin hatcher selama tiga hari. Selama berada di hatcher tidak dilakukan pemutaran telur karena pada periode ini akan terjadi pipping (anak ayam berusaha memecah kerabang dengan paruhnya).

Pengaturan suhu dan kelembaban dilakukan berdasarkan keadaan telur. Suhu dalam hatcher sekitar 37-38 oC. Kelembaban hatcher sebelum pipping sekitar 55% dan saat pipping kelembaban dinaikkan menjadi 70%-75%. Kelembaban yang tinggi dapat membantu proses pipping. Saat telur menetas (setelah pipping) kelembaban diturunkan kembali menjadi 52%-55% dan suhu dalam keadaan lebih rendah dari 37 oC untuk membantu proses pengeringan bulu DOC.

Pull Chick (Penurunan DOC)

Pull chick adalah kegiatan menurunkan DOC dari mesin hatcher, termasuk sexing DOC (pemisahan DOC jantan dan betina), seleksi sambil memasukkan DOC ke dalam boks. Sexing dilakukan berdasarkan warna bulu. DOC jantan memiliki warna bulu kuning dan garis punggung berjumlah ganjil, sedangkan DOC betina memilki warna bulu coklat dengan garis punggung kuning berjumlah genap. DOC jantan langsung dimasukkan ke boks sebanyak 102 ekor tanpa perlakuan apapun. DOC betina diseleksi lagi dengan kriteria bobot badan, warna bulu, kondisi fisik (mata, kaki, perut), dan kesehatan. DOC betina langsung dipotong paruhnya sepanjang 1/3 bagian dari panjang paruh, menggunakan alat debeaker. DOC yang telah diseleksi kemudian dimasukkan ke dalam boks dan dihitung jumlahnya. Setiap boks diisi 100 ekor betina ditambah 2 ekor untuk resiko transportasi.

Setelah itu DOC betina divaksin Marek’s dan NDIB. Vaksin Marek’s dilakukan sub cutan (suntik di bawah kulit leher), sedangkan vaksin NDIB melalui mata. Dosis pemberian vaksin ini 0,2 cc per ekor. Setelah divaksin, DOC disemprot dengan vitamin kemudian dikemas dan diberi label yang berisi keterangan nama perusahaan pembibit, penyeleksi (grader), jumlah DOC dalam boks, bobot DOC saat menetas dan jenis vaksin yang diberikan serta tanggal DOC menetas.


PENANGANAN LIMBAH

Jenis atau Produk Limbah yang Dihasilkan

Limbah merupakan sisa aktivitas makhluk hidup. Limbah peternakan di Dony Farm ada dua bentuk, yaitu limbah padat dan limbah cair. Jenis limbah padat yang dihasilkan adalah berupa kotoran ayam di kandang battery, limbah kristal (kotoran ayam di kandang postal yang bercampur dengan litter), bangkai ayam, kerabang telur dan DOC afkir di unit penetasan.

Limbah cair dihasilkan dari air pencucian kandang dan peralatan, air sisa sanitasi dan sisa air minum ayam.

Penanganan Limbah

Penanganan limbah di Dony Farm adalah membuatkan saluran pembuangan berupa selokan untuk limbah cair, sedangkan untuk limbah padat berupa kotoran ayam disalurkan ke unit pengolahan limbah. Limbah kristal dimasukkan ke karung lalu dijual ke petani untuk pupuk tanaman sayur dan sebagian diolah menjadi kompos. Limbah penetasan berupa kerabang telur tidak diolah karena biaya pengolahan lebih tinggi dari nilai produk yang dihasilkan, oleh karena itu limbah kerabang dibuang atau dijadikan campuran pakan untuk itik. Limbah berupa DOC afkir dimusnahkan atau dijual untuk pakan lele.

Pengolahan Limbah

Pengolahan limbah berupa kotoran ayam berguna untuk mengurangi pencemaran terhadap lingkungan dan meningkatkan mutu dari limbah yang dihasilkan. Bentuk pengolahan limbah di Dony Farm adalah dengan pembuatan kompos. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan kompos adalah : limbah organik (kotoran ayam) 83%, abu 10%, serbuk gergaji (kayu lunak) 5%, kalsit 3%, dan bakteri pengurai (stardec) 0,25%. Teknik pembuatannya adalah dengan cara menumpuk kotoran ayam yang sudah dicampur dengan serbuk gergaji dan dicampur dengan bahan lain serta disusun secara berlapis. Tumpukan tersebut diaduk hingga homogen dan didiamkan dengan tumpukan minimal satu meter. Pembalikan dilakukan satu kali seminggu, selama delapan kali pembalikan kompos sudah jadi.


PEMASARAN

Pemasaran adalah usaha untuk mencari, menemukan dan mempertahankan konsumen. Strategi pemasaran yang utama adalah mencari kepuasan konsumen. Dalam sebuah peternakan, bagian produksi dan pemasaran harus seimbang, karena apabila pemasaran tidak berjalan dengan baik akan terjadi penumpukan hasil produksi. Hal ini dapat menyebabkan kerugian, mengingat produk peternakan mudah rusak dan mudah busuk. Oleh karena itu, peternak harus bisa memasarkan hasil produksi dan mencari pelanggan.

Bentuk Produk, Jumlah dan Harga

Produk yang dihasilkan Dony Farm diantaranya telur konsumsi, DOC ayam jantan dan betina final stock, pupuk kompos, ayam broiler, ayam petelur afkir dan karung bekas.

Telur konsumsi dihasilkan dari unit peternakan di farm Kalikuto dan farm Selurah. Telur konsumsi juga diperoleh dari telur ayam parent stock yang tidak memenuhi kriteria telur tetas pada saat grading.

DOC dihasilkan dari unit penetasan di farm Gedangan dengan merek dagang Cakra 50. DOC jantan dan betina yang dihasilkan dijual sesuai pesanan peternak atau poultry shop dari daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat. DOC betina juga sebagian dipakai untuk pengganti (replacement stock) ayam-ayam yang sudah tua. DOC jantan yang tidak ada pesanan dibesarkan oleh perusahaan.

Pupuk kompos dihasilkan dari unit pengolahan kompos. Jumlah kompos yang dihasilkan selama satu minggu rata-rata sekitar 12 ton. Harga pupuk kompos per kilogram adalah Rp. 500,00.


KESIMPULAN

Dony Farm merupakan perusahaan yang menekuni bidang pembibitan ayam. Dengan manajemen pemeliharaan, manajemen pakan dan perkandangan yang baik dapat menghasilkan produk DOC yang berkualitas.

Pemberian pakan sudah baik. Pakan yang diberikan merupakan pakan buatan pabrik. Pergantian pakan untuk setiap periode pemeliharaan sudah sangat baik, sehingga dapat menekan tingkat stres akibat perubahan pakan. Upaya penanggulangan penyakit di Dony farm perlu ditingkatkan.

Penetasan di Dony Farm menggunakan mesin tetas James Way. Fertilitas telur ayam yang dihasilkan mencapai 96% dengan daya tetas 86%.


DAFTAR PUSTAKA

Nuryati, T., Sutarto,M. Khamin dan P.S. Hardjosworo. 2003. Sukses Menetaskan Telur. Penebar Swadaya, Jakarta.

Rasyaf, M. 1995. Pengelolaan Penetasan. Kanisius, Yogyakarta.

Rasyaf, M. 2003. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sudaryani, T. dan H. Santosa. 2003. Pembibitan Ayam Ras. Penebar Swadaya, Jakarta.

Suprijatna, E., U. Atmomarsono, dan R. Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Wiharto. 1986. Petunjuk Beternak Ayam. Lembaga Penerbitan Universitas Brawijaya, Malang.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.